by

Dana Ratusan Ribu Dilayangkan, Efektivitas Ormaba 2021 Masih Dipertanyakan?

Informatikamesir.net, Kairo — Orientasi Mahasiswa Baru (Ormaba) 2021 yang telah dilaksanakan selama 17 hari kemarin itu terlihat menggunakan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana dulu semua Maba dikumpulkan di satu tempat, kali ini dipisah berdasarkan kekeluargaannya masing-masing.

Konsep tersebut diterapkan sesuai dengan kondisi saat ini; di tengah medan pertempuran menghadapi pandemi COVID-19. Namun, dengan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya ini, tentu akan mengundang berbagai pandangan dari banyak sisi, juga memakan biaya yang sama sekali berbeda.

Dengan konsep yang baru itu pula, akankah dinilai efektif dalam kondisi yang terjadi saat ini? Lalu, berapakah dana yang panitia Ormaba 2021 layangkan untuk menyukseskan acara tersebut?

Konsep Baru; Kolaborasi bersama 16 Kekeluargaan

Ketua Panitia Ormaba 2021, M. Yusuf Al Amin menjelaskan, konsep baru yang mereka terapkan pada Ormaba tahun ini—dimulai sejak 27 Maret hingga 12 April 2021 kemarin—yaitu dengan berkolaborasi bersama 16 Kekeluargaan Nusantara guna menekan penyebaran COVID-19.

Berbeda dengan sebelumnya, karena Yusuf merasa untuk mengumpulkan sejumlah 1587 Maba dalam satu tempat itu mustahil dengan kondisi saat ini, dimana pihak keamanan Mesir juga tidak mengizinkan acara yang melibatkan banyak massa, maka ia dan Panitia Ormaba 2021 berinisiatif untuk mengumpulkan mereka di masing-masing kekeluargaannya.

Perancangan awal konsep agenda yang mengangkat tema “Ormaba PPMI Mesir Berkolaborasi bersama Kekeluargaan Nusantara” itu dilakukan oleh Panitia Ormaba 2021 bersama Badan Pengurus Harian (BPH) PPMI Mesir, yang kemudian meminta masukan kepada 16 pemangku kebijakan Kekeluargaan Nusantara, serta pihak KBRI Kairo terkait Protokol Kesehatan (Protkes) yang berlaku.

Berdasarkan data dari panitia, secara umum agenda tersebut bertujuan untuk mengenalkan urgensi dan intensitas Al-Azhar kepada para Maba—dengan nama angkatan El Varouqi itu. Sedangkan tujuan lainnya menurut Farhan Aziz Wildani, Presiden PPMI Mesir adalah lebih menyentuh ke adab, akhlak, dan sisi keamanan.

Di samping itu, meskipun hanya bekerja sama dengan Kekeluargaan Nusantara, Farhan tidak menyalahkan lembaga-lembaga lain, seperti Afiliasi dan Almamater, jika ingin mengadakan Ormaba. Karena menurutnya, itu merupakan hal yang lazim ketika mereka ingin memperkenalkan lembaganya terhadap Maba.

Sama halnya ia juga tidak mempermasalahkan bagi kekeluargaan yang mengadakan Ormaba di luar ruangan (outdoor)—dimana Ormaba ini di luar kolaborasi bersama PPMI Mesir—selama masih mengikuti Protkes yang ada.

Efektivitas Ormaba dari Berbagai Pandangan

Kala mewawancarai beberapa narasumber, ada berapa poin penilaian mereka terkait efektivitas Ormaba tahun ini yang telah Informatika kumpulkan.

Novian, Ketua Panitia Ormaba Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir, menilai konsepnya sudah efektif dan panitia KMA Mesir berhasil mencapai indikasi dan target-target yang mereka proyeksikan. Ia juga berharap semoga tahun depan dapat bekerja sama lagi dengan PPMI Mesir karena hal itu sangat berpengaruh pada efektivitas waktu para peserta.

Lain halnya dengan Gubernur Kelompok Studi Walisongo (KSW) Mesir, Furqon Khoiruddin. Menurutnya jika memaknai Ormaba hanya dengan satu-dua hari acara berisi materi Al-Azhar, Mesir, dan organisasi, tentu tidak efektif membentuk pribadi Maba yang sadar sebagai mahasiswa Al-Azhar.

Ia berpandangan bahwa untuk mengukur efektivitas acara itu perlu dilihat dari langkah apa yang dilakukan PPMI Mesir dan kekeluargaan pasca-ormaba. Jika mereka mampu memantau perkembangan para Maba,  maka Ormaba bisa dinilai efektif, begitu pun sebaliknya.

Tak hanya pandangan, Furqon juga memberikan saran agar PPMI Mesir membentuk tim khusus pemantauan perkembangan Maba selama sebulan, dan dalam hal ini mereka bisa bekerja sama dengan Kekeluargaan Nusantara.

“Jika Maba dinilai sudah pada trek yang seimbang (bersosial dan belajar), berarti sudah aman dilepas,” ujarnya kepada Informatika via WhatsApp.

Tak tanggung-tanggung, Yandi selaku Ketua Panitia Ormaba Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) Mesir juga ikut berkomentar, konsep yang PPMI Mesir sodorkan, ia akui itulah yang terbaik dalam kondisi saat ini, walaupun memang ada banyak kekurangan, seperti mereka tidak bisa kumpul bersama, serta pemilihan Nama dan Ketua Angkatan yang ia nilai kurang efektif karena hanya beberapa Maba yang dibolehkan hadir di tempat pemilihan.

Begitu juga dalam hal penyampaian materi, Yandi menilainya sangat terbatas, ditilik dari materi yang ingin disampaikan oleh PPMI Mesir kala itu belum semuanya, disebabkan waktu yang tersedia juga sedikit, ditambah lagi masih banyak yang harus disampaikan oleh pihak Kekeluargaan, karena memang waktu penyampaian materi antara keduanya diadakan dalam satu hari itu.

Ia pun memberikan saran, alangkah baiknya jika PPMI Mesir meminta waktu khusus di setengah hari misalnya untuk memberikan materi, sehingga penyampaiannya juga tidak disatukan dengan waktu pemberian materi oleh pihak kekeluargaan.

Tidak cukup sampai di situ, Yandi memberikan pandangannya perihal koordinasi antara pihak panitia PPMI Mesir dan kekeluargaan terdapat berbagai kendala, salah satunya ketika pembagian dana. Ia menjelaskan ketika pembagian dana (20/4/2021), pemberitahuannya hanya satu hari sebelum dana itu boleh diambil, sehingga hanya ada kisaran 5 kekeluargaan yang hadir kala itu.

“Itu pun pas di tanggal 20, nggak semuanya bisa ngambil. Pas kita datang ke sana sesuai jadwal (yang) dibesokkan, karena memang ada kendala PPMI itu mereka meminta maaf, karena bendaharanya lagi berangkat, jadi kita miss komunikasi gitu,” ungkapnya, Ahad, (2/5/2021) kemarin, kepada Informatika.

Di sisi lain, Asril selaku Ketua II angkatan El Varouqi berpendapat, Ormaba tahun ini bagus dengan keterbatasan yang ada, tapi masih perlu ditingkatkan lagi, agar acaranya tidak terlalu monoton. Ia juga mengakui bahwa agenda itu dirasa sangat bermanfaat bagi teman-teman seangkatannya.

Dana Ratusan Ribu Melayang

Berdasarkan penuturan Yusuf, Ormaba yang menggunakan konsep berbeda itu mengeluarkan dana yang lebih banyak juga dari tahun sebelumnya. Dana tersebut mereka ambil ke Bendahara PPMI Mesir melalui dua tahap: pertama, mereka dapat 80% di waktu sebelum mulainya Ormaba 2021, yaitu sebanyak EGP. 100.000,00, kedua, 20% lagi cair setelah acaranya selesai, yakni sejumlah EGP. 22.200,00, sehingga mendapatkan hasil keseluruhan dana adalah EGP. 122.200,00.

“Memang tahun kemarin angkanya kecil karena Mabanya juga kecil gitu. Tapi ketika dibandingkan iritan mana, alhamdulillah iritan tahun ini,” ungkapnya pada Sabtu, (8/5/2021).

Ada pun perincian penggunaan dana tersebut adalah sekitar EGP. 112.515,00 telah mereka bagikan semuanya kepada masing-masing Kekeluargaan Nusantara, dan sisanya berkisar EGP. 9.685,00 dipakai untuk keperluan Panitia Inti Ormaba 2021—yaitu orang-orang yang merupakan utusan dari Kabinet Sinergis PPMI Mesir.

Menurut pemaparan Yusuf, perhitungan dana yang mereka bagikan ke kekeluargaan itu berkisar EGP. 75,00 per Maba, sehingga menghasilkan jumlah di atas. Namun ketika dikalkulasikan secara manual, dengan jumlah Maba yang dikasih di awal, yakni 1.587 x 75, maka akan menghasilkan EGP. 119.025,00 untuk dibagikan ke kekeluargaan masing-masing, berbeda jauh dengan data yang disampaikan di atas. Dalam artian, harusnya masih ada sisa EGP. 6.510,00 dari jumlah kalkulasi manual dikurangi data dari Yusuf.

Ia pun membantah hal tersebut. Menurutnya, jumlah 1.587 Maba adalah patokan data dari Komite Pengurusan Pendaftaran Mahasiswa Baru (KPP Maba). Sedangkan perhitungan mereka di atas itu berdasarkan jumlah dari data kekeluargaan, dimana hanya sebanyak 1500 Maba saja yang terdata, 87 sisanya kata Yusuf ada dua kemungkinan: antara mereka tidak ikut Ormaba, atau tidak mengisi formulir kekeluargaan.

Ditambah lagi sebelumnya Yusuf menghadapi kendala terhadap 6 Maba Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) Mesir, yang ternyata mereka juga ikut Ormaba Kelompok Studi Mahasiswa Riau (KSMR) Mesir, sehingga ia memberikan EGP. 37,5,00—setengah dari EGP 75,00—kepada KSMR Mesir untuk 6 Maba tersebut.

“Jadi makanya itu, 1500 dikali 75 ditambah 37,5 dikali 6, itulah hasilnya. Dapatnya itu 112.515 Le,” tegas Yusuf.

Lagi-lagi, ketika dikalkulasikan secara manual, sesuai dengan ungkapan Yusuf di atas, maka harusnya akan menghasilkan EGP. 112.725,00, bukan EGP. 112.515,00. Masih ada sekitar EGP. 210,00—pengurangan dari hasil yang dinilai seharusnya dengan hasil yang Yusuf katakan tadi—yang dipertanyakan.

Untuk hal itu, Yusuf menjawab bahwa titik awalnya terdapat pada kekeluargaan KSMR Mesir. Waktu pencairan dana di tahap awal, KSMR Mesir ia berikan dana sebesar EGP. 3960,00, 80% dari 66 jumlah Maba yang mereka sampaikan ke panitia inti.

Akan tetapi, setelah divalidasi lagi datanya, ternyata jumlah Maba KSMR Mesir hanya 50 orang, dimana harusnya mereka mendapatkan dana sebesar EGP. 3750,00. Untuk itu, mereka perlu mengembalikan lagi sisa dana sebesar EGP. 210,00—hasil pengurangan dana awal yang dikasih dengan dana yang seharusnya setelah validasi data—kepada panitia inti.

Namun dikarenakan ada 6 Maba dari KMM Mesir yang mengikuti Ormaba KSMR Mesir tadi, maka pemotongannya diambil dari situ, yaitu 37,5 × 6 – 210 = 15, sehingga hasil akhirnya adalah jumlah dari 1500 Maba ditambah 15, mendapatkan sebesar EGP. 112.515,00, sesuai data yang diberikan Yusuf.

Usut demi usut, Yusuf juga menambahkan, “Kalau masalah dana ini Ana, kalau secara rinci itu kurang tahu juga ya, soalnya yang ngurusin dana itu si Bang Faiz sama Nina (Bendahara Ormaba 2021), cuman Ana secara tidak langsung kalau antum tanya angka-angkanya tahu, cuman kalau rincinya Ana kurang tahu. Makanya Ana belit-belit juga ini ngomongnya.”

Maksud perincian itu adalah penggunaan dana secara khusus, ke mana saja dana tersebut Yusuf masih belum tahu sebelum duduk bersama bendaharanya, tapi untuk pengeluaran dana secara umum ia tahu seperti yang ia sampaikan tadi.

Ia juga mengaku, permasalahan dana di Ormaba memang serumit itu. Jika ditanya perincian yang sudah pasti, ia belum bisa memberikannya disebabkan bendahara belum duduk bersamanya untuk membahas hal tersebut. Namun untuk disertakan dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), ia sudah mencicil-cicil laporannya sebagaimana data di atas.

Selain itu, Yusuf turut berpesan terhadap orang-orang yang mempertanyakan alasan PPMI Mesir menganggarkan uang sebanyak itu. Menurutnya, itu disebabkan tahun ini uangnya mereka bagi-bagikan juga ke semua kekeluargaan sebagaimana tersebut di atas. Di samping untuk meringankan beban kekeluargaan, dikarenakan juga mereka dalam sistem kolaborasi, dimana tidak hanya konsep, usaha, dan waktu, tapi dalam hal akomodasi juga mereka saling membantu.

Hal itu ia sampaikan karena katanya, saat ini PPMI Mesir dianggap ‘bagi-bagi uang’. Padahal menurutnya itu bukan bagi-bagi uang, lebih tepatnya saling membantu dan berkontribusi, dan manfaatnya pun tidak hanya terasa untuk PPMI Mesir saja, tapi juga kekeluargaan, Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) secara umum, dan Maba secara khusus.

Reporter: Hanisa Zulista

Editor: Defri Cahyo Husain

Comment

Berita Lainnya