Nasib Sial di “Pabrik” Ulama
Di depan sebuah jendela ruang pengurusan administrasi kampus, berdirilah Ahmad dan beberapa mahasiswa lain sejurusannya. Sudah lebih dari enam jam ia mengantre dan kini, ia masih belum menyelesaikan urusannya.
Ketika gilirannya hampir tiba, datang dua orang berkulit hitam dari dalam gedung. Menyerahkan berkas kepada pekerja administrasi. Awalnya, si pekerja menolak dan menyuruh mereka keluar. Namun, mereka menyerahkan dua lembar uang dengan nilai cukup tinggi. Si pekerja pun menerimanya, memasukkannya ke dalam kantong celananya, lalu menerima dan langsung mengurusi berkas mereka.
Ahmad yang melihatnya dengan mata kepala sendiri syok dan tidak percaya, “Shit lah, apa-apaan nih? Seenaknya terima sogokan. Udah kerjanya lamban, korup pula. Sarap.”
Belum pernah terbayang di pikirannya bahwa kampus tua yang katanya legendaris dan telah memproduksi banyak ulama ternyata memaksa mahasiswanya untuk mengantre enam jam lebih dan pekerjanya menerima sogokan. Terkadang, nama institusi atau orang yang mulia, tidak sesuai dengan kebijakan atau kelakuannya.
Sepuluh menit kemudian, datang lagi seorang berkulit hitam. Kali ini, dia langsung memberikan berkas dan dokumennya beserta selembar uang dengan nominal tinggi. Ahmad pun semakin frustasi. Dia protes, namun si pekerja tidak mendengar. Hari itu, dia baru selesai setelah memakan waktu tujuh jam. Prosesnya singkat, lima menit pun jadi, tetapi antreannya sendiri butuh enam jam lebih. Bahkan ia dan mahasiswa lain harus mulai mengantre sejak zaman administrasi kampus belum buka saat matahari baru memancarkan sinarnya.
Sore harinya, dia mendatangi rumah temannya untuk muzakarah bareng. Tidak lama-lama, hanya dua jam lebih sedikit dan selesai setelah magrib. Di tengah jalan, Ahmad berjalan di sebuah lorong menuju jalan raya tempat ia biasa mencegat mikrobus.
Sebelum ia sampai di jalan raya, dua orang dengan mengenakan hoodie berwarna gelap datang dari arah berlawanan. Ahmad mulai merasakan was-was. Semakin mendekat dua orang “neger” itu, semakin cepat jantungnya berdetak. Detik berikutnya, mereka berada di sebelah Ahmad dan berjalan tanpa mengubah arah.
Deg!
Tidak terjadi apa-apa. Satu detik, dua detik, tiga, empat, dan lima detik berlalu. Ahmad masih berjalan tanpa halangan. “Ah, sugestiku saja yang terlalu suuzan,” gumamnya. Tepat detik kesepuluh setelah mereka berpapasan, tas tenteng yang Ahmad pegang ditarik paksa oleh salah satu orang tadi. Ahmad menahan tarikannya. Teman orang tadi mengeluarkan pisau dan membantu menarik.
Ahmad menjatuhkan diri agar menambah beban sembari berteriak meminta pertolongan orang sekitar. Dua orang tadi tetap menarik tas sambil memukul Ahmad secara bergantian, namun kali ini salah satu mereka berusaha meraba kantong baju dan celana Ahmad mencari dompet.
Satu menit kemudian, sebuah bajaj melintas. Si pengemudi dan penumpang yang ada di dalamnya datang menghampiri. Mereka mengusir kedua orang tadi. “Aman, Bro? Ada yang hilang enggak?” ujar si penumpang yang ternyata orang Indonesia. “Alhamdulillah, insyaallah aman. Makasih ya! Makasih banget!” jawab Ahmad lega. Ahmad pun kembali berjalan menuju jalan raya untuk mencegat mikrobus sementara si pengemudi dan penumpang bajaj melanjutkan perjalanan mereka ke arah yang berbeda.
Di dalam mikrobus, Ahmad masih termenung dan syok atas apa yang terjadi. Seseorang dari belakang menyerahkan uang kepadanya untuk diberikan pada sopir. Ahmad memasukan tangan ke kantongnya untuk meraih dompetnya. Saat itu juga ia tersadar dompetnya hilang. “Mana ya dompet gua?” Ahmad menggerutu, “sudah hampir dirampok, dompet hilang, mana besok pagi ujian lagi.” Tiba-tiba Ahmad teringat, “Ah, orang hitam tadi pasti yang copet. Dasar orang laknat jahanam! Bajingan!”
Sialnya bagi Ahmad, tidak ada penumpang Indonesia di mikrobus tersebut yang bisa dimintai tolong. Akhirnya dia pun meminta sopir untuk menurunkannya.
“Kau sudah bayar?” tanya sopir dalam bahasa Arab.
“Belum, maaf, soalnya saya enggak bawa uang.”
“Ah, bagaimana kok bisa lupa bawa uang?” balas sopir tertawa.
Ahmad pun menceritakan kejadian pencopetan tadi. Kali ini keberuntungan ada di pihaknya. Si sopir menolak menurunkan Ahmad dan membiarkannya menumpang tanpa bayar.
Malam harinya, Ahmad tidak bisa tidur cepat karena masih syok. Ia sempat terpikir untuk melapor ke PPMI (Polisi-Polisian Mahasiswa Indonesia), namun ia mengurungkan niatnya. Ia merasa tidak ada guna dan kuasa juga kalau pun ia laporkan, kecil kans dompet itu akan kembali. Ia pun hanya melamun menunggu dirinya tertidur dengan sendirinya. Sayangnya, kesialan kembali menimpanya. Ia tetap terjaga dan bahkan telinganya malah fokus mendengarkan teman kamarnya yang dari jurusan sebelah sedang mendengarkan rekaman muzakarah.
Paginya, Ahmad bangun telat. Di dekat rumahnya, mikrobus yang menuju kampus tidak akan berangkat sampai semua kursi terisi. Ketika kursi tersisa satu, datang 2 orang perempuan berkulit hitam. Mereka enggan masuk ke mobil karena hanya ada satu kursi tersisa, sedangkan mereka mau barengan di mikrobus yang sama.
Ahmad dalam hati kesal dan memaki-maki, “Ah, dasar! Tinggal naik aja salah satu. Bikin telat datang ujian aja.” dua menit berselang, barulah seorang warga lokal datang dan naik ke mikrobus. Ahmad menatap jam yang tertera di ponselnya menunjukkan angka 08.50, 10 menit sebelum ujian dimulai. Sementara itu, mikrobus baru meluncur untuk jarak sekitar 8 km.
Di tengah jalan, mikrobus harus berbelok sebentar ke depan asrama beasiswa. Yang turun saat itu hanya satu mahasiswa berkulit hitam. Ahmad kembali mengeluh, “Ah, lagi-lagi orang hitam memperparah situasi keterlambatan gua.”
Ketika sampai di pemberhentian akhir mikrobus, Ahmad masih harus berjalan kaki menuju kampus sekitar 5 menit. Saat ia kembali menatap ponsel, jam menunjukkan pukul 09.07, waktu ujian sudah dimulai. Namun, keuntungan kali ini datang padanya.
Ia masih diizinkan masuk karena baru telat 13 menit, 2 menit dari batas maksimal. Ia memberikan kartu pelajarnya, mengisi daftar hadir, lalu duduk di bagian belakang kelas yang masih kosong untuk beberapa kursi. Beberapa saat kemudian, ada 3 mahasiswa berkulit hitam datang. Sayangnya, pengawas ujian menolaknya masuk karena sudah lewat 15 menit.
“Ha, lagi-lagi orang Negro. Ada apa sih orang-orang Negro? Kerjanya di sini cuma jadi kriminal kalau enggak, minimal jadi trouble maker pasti,” gumam Ahmad.
Ahmad melihat lembaran soal. Terdapat 6 soal dan tertera perintah, “Jawablah 4 soal saja dari soal-soal berikut”. Ahmad langsung menjawab nomor 1 dengan pede. 10 menit berlalu dan Ahmad menyelesaikan jawaban pertamanya. Tersisa 3 soal yang perlu dijawab. Dia menatap ke nomor 2. Ahmad terpaku sejenak, kemudian ia melewatinya karena bingung. Lalu, ia juga menatap nomor tiga. Terpaku. Bingung. Lewati. Hingga nomor 6, tidak ada lagi soal yang bisa ia jawab secara yakin. Di setiap nomornya, dia hanya tau sebagian dan lupa sebagian lainnya.
Di saat kebuntuan inilah Ahmad mulai berpikir keras untuk mengingat apa yang dia telah baca di hari-hari sebelumnya. Pikirannya mulai ke mana-mana untuk mencari jawaban. Pelajaran yang ia baca sebelum tidur pun juga sedang diraba otaknya. Akan tetapi, yang terlintas di bayangannya adalah rekaman muzakarah temannya. Jelas sekali rekaman tersebut terngiang di pikiran Ahmad.
“Pada 1960, Thorsten Sellin melakukan penelitian terhadap kejahatan orang Negro di AS dan menemukan bahwa 61% pembunuhan dengan berbagai jenisnya dilakukan oleh orang Negro. Meskipun data statistik menunjukkan bahwa kejahatan orang Negro lebih masif dan kejam dibandingkan selainnya, tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan keterkaitan antara kejahatan dan ras Negro.”
Namun, tiba-tiba segala pengalaman buruknya dengan orang Negro kembali muncul ke dalam pikiran Ahmad. Mulai dari diselak saat antre administrasi kampus, penyuapan admin kampus, perampokan semalam, bikin diri hampir telat ujian, dan bahkan memang ada yang telat ujian. “Ah, memang pada dasarnya wong ireng itu sialan!”
Tiba-tiba mata Ahmad terbelalak kaget. Ruang ujian sudah lebih sepi. Banyak peserta yang sudah selesai dan pulang duluan. Di sebelah kiri, ada orang Indonesia yang menahan tawa. “Buset, mimpi apa sampe ngigau begitu,” bisiknya. Ahmad hanya diam dan berusaha “mengumpulkan nyawanya”, lalu lanjut menjawab soal ujian.
“Mohon maaf! Apa itu?”
“Kenapa?”
“Mohon maaf, buka lengan tangannya!”
“Enggak ada apa-apa!”
“Buka lengannya! Saya tau kau sembunyikan sesuatu di situ.”
Lagi tengah memikirkan jawaban, keributan muncul dari sisi tengah ruangan. Pengawas ujian mencurigai salah satu peserta ujian menyontek. Benar saja. Setelah diperiksa paksa oleh pengawas, ditemukan beberapa lembar kertas berisi catatan materi yang diselipkan di lengan tangan kanan dan kirinya. Setelah Ahmad menyadari pelakunya, Ahmad hanya bisa menghela napas, “Ah, lagi-lagi neger sialan. Bisa apa mereka selain membuat masalah?”
“20 menit lagi,” ujar si pengawas. Ahmad pun kaget. Ia baru sadar bahwa selama itu dia tidur. Kertas lembar jawaban sedari tadi hanya terisi jawaban untuk 1 soal. Ia pun bingung harus memilih soal yang mana. Akhirnya, ia pun menggunakan metode andalan orang Indonesia.
“Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup.” Ahmad menandai nomor 2. Ia melakukan lagi hal serupa, lalu menandai nomor 3 dan 6. Detik selanjutnya, penanya sudah mulai berajojing ria di atas lembar jawaban. Otaknya mulai diperas untuk mengingat segala hal yang bisa menjadi jawaban soal-soal tersebut. Namun, Ahmad tetap merasa ada yang kurang dari jawabannya sendiri.
Ketika sudah menyelesaikan nomor 2 & 3, Ahmad merasa sesuatu yang tidak diinginkan menghampirinya. Sesuatu yang dari dulu sudah ia khawatirkan. Semakin lama, semakin jelas sesuatu tersebut datang. Semakin tegang pula suasana batin si Ahmad. Akhirnya, ia pun benar-benar dipanggil. Kali ini, alam yang memanggilnya untuk membuang hajat kecilnya.
“5 menit lagi. Ayo segera diselesaikan!” ujar si pengawas. Ahmad kembali mengumpat. Jelas saja, di situasi terpojok seperti ini, panggilan tersebut datang. Tentu saja, panggilan tersebut semakin dibiarkan, semakin keras dan dekat. Akhirnya, ia pun kembali membuat penanya berajojing ria untuk mengukir jawaban yang seadanya. Tetapi, panggilan itu kembali meronta sebelum Ahmad menyelesaikan jawaban terakhirnya. Dua orang mengumpulkan soal dan keluar dari ruangan, menyisakan ruang ujian kini hanya Ahmad bersama seorang asal India dan dua orang Negro.
“Ayo! 2 menit lagi,” ujar pengawas.
Ahmad sudah tidak tahan. Dia langsung berlari menuju meja pengawas, mengumpulkan soal, mengambil kartu pelajar, dan berlari menuju toilet. Sampai di kamar mandi, dia langsung membuang hajat kecilnya di urinoir. Untung baginya saat itu di toilet tidak ada orang. Selesai menuntaskan hajatnya, dia merasakan keanehan. Saat dia berusaha mengeluarkan air untuk istinja, tidak ada setetes pun yang keluar, bahkan suara aliran air pun tidak terdengar.
“Musibah apa lagi ini? Kok kampus ini airnya mati? Enggak habis pikir,” keluh Ahmad. Saat itu dia tidak membawa tisu maupun air minum. Di toilet saat itu pun tidak ada satu pun orang selain dirinya. 2 menit berlalu, datang seorang Negro yang tadi seruangan dengannya. Ia hendak meminta tolong, namun segan karena masih risih dan dendam terhadap orang Negro. Sementara itu, orang Negro tadi hanya datang ke wastafel. Ia hanya kesal dan sedikit menggerutu dengan bahasanya sendiri setelah sadar bahwa tidak ada air.
Ketika orang Negro tadi keluar toilet, Ahmad tetap diam dan berharap ada orang lain, khususnya Indonesia yang akan datang dan bisa dimintakan tolong. 2 menit berikutnya ia menunggu, tidak ada lagi yang datang. 2 menit kembali berlalu, terdengar langkah kaki mendekat ke arah toilet. Namun, tidak ada yang muncul, hanya sekadar lewat. “Semenit lagi kalau tidak ada orang, mungkin cebok di rumah sajalah,” gumam Ahmad.
Semenit kemudian, terdengar kembali langkah kaki mendekat ke arah toilet. Semakin lama semakin dekat. Benar saja, sosok tersebut masuk ke toilet. Tetapi, bukan sosok dengan warna kulit yang Ahmad harapkan. Orang tersebut juga ke wastafel dan bergeleng saat menyadari air mati. Ahmad kembali menggerutu dalam hati. Sudah 7 menit lebih dia berdiri di depan urinoir itu. Namun, dia masih berat hati untuk meminta tolong kepada orang Negro itu. Apalagi yang dimintanya adalah air. Tetapi, Ahmad akhirnya menyerah dan meminta tolong.
“Ya aswa… Eh, ya sadiq, ana muhtaj ila moyah (Hei Neg… Eh! Kawan, saya butuh air),” pinta Ahmad bagaikan orang Negro di Afrika yang meminta air dalam sebuah tayangan dokumenter di internet. Orang Negro tadi hanya tertawa dan membalas, “intazir lahza (tunggu sebentar).” Orang Negro tadi pun keluar dari toilet.
2 menit berlalu, orang Negro tadi tak kunjung kembali. Ahmad pun kesal, “Apa lagi sekarang? Di-PHP-in orang Negro pula?” Tiba-tiba orang Negro tadi muncul membawakan sebotol air. “Silakan,” ujarnya. Ahmad pun mengucapkan terima kasih padanya. Ya, berdiri di urinoir 10 menit tampaknya seperti pengalaman yang cukup seru. Namun, Ahmad masih tidak percaya bahwa dirinya harus mengemis air kepada orang yang mungkin masih kesulitan mendapatkan akses air di kampung halamannya.
Penulis: Muhammad Saladin Ghaza Al Arsyad
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini



