Telisik Puing Sejarah Kota Alexandria
Informatikamesir.net, Alexandria – Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, serupa dengan warna laut jernih yang dihiasi kapal-kapal berlayar di permukaannya. Perpaduan birunya langit dan laut dengan arsitektur bangunan berwarna coklat di sepanjang pesisir pantai memanjakan mata setiap orang yang memandang. Riuh ombak Laut Mediterania menyentuh bibir pasir seraya mendesirkan kisah-kisah kuno yang seakan tak usang oleh waktu.
Siapa yang tak kenal kota ini di Mesir? Kota yang tetap sejuk di musim panas dan esensi dingin segar di musim dingin. Tak ayal kota ini jadi daya tarik turis asing terutama bagi Masisir. Biasanya destinasi yang ada menjadi bentuk healing sebelum menyambut ujian di tahun ajaran baru dengan slogan “akan kubalas di termin selanjutnya”
“The Pearl of The Mediterranean”
Inilah Kota Alexandria, kota terbesar kedua di Mesir yang menjadi pusat perekonomian daerah sekitar dan kota yang juga berbeda dari ciri khas Timur Tengah yang disimbolkan hanya terdapat padang pasir dan iklim gersang. Kota ini dijuluki “The Pearl of The Mediterranean” oleh dunia dan terletak pada 20 km barat laut dari cabang Sungai Nil (Canopic) di antara laut Mediterania dan danau Mareotis, Alexandria menjadi jembatan alami antara dunia maritim serta jalur perdagangan barat Sungai Nil yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika.
Tak heran jika kota strategis ini punya sejarah panjang, dari masa Yunani Kuno berlanjut ke Masa Romawi hingga ke Masa Islam dengan berbagai peradaban yang terjadi di atasnya. Pernah menjadi kota paling modern di masanya, serta menjadi pelopor ilmu pengetahuan dalam peradaban kuno.
Alexandria pertama kali dibangun oleh Iskandar Agung dari bangsa Yunani Makedonia di tahun 331 M. Ibarat panggung megah yang dahulu riuh tepuk tangan, kini hanya menyisakan gema sunyi dari kejayaan yang telah berlalu. Fenomena ini juga berlaku untuk kota Alexandria yang kehilangan pamor sejak bangsa Romawi mulai berkuasa. Ketika Islam datang, Alexandria perlahan memancarkan sinarnya lagi hingga saat pemindahan ibukota Mesir ke Fustat yang sekarang merupakan bagian Kairo di masa daulah Fatimiah.

Namun, kota seindah Alexandria tak pernah luput dari pahitnya kehancuran oleh faktor alam. Kota ini pernah mengalami serangkaian gempa bumi dan tsunami sepanjang abad 4 hingga 8 Masehi yang menghancurkan dan menenggelamkan banyak bangunan bersejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan puing-puing istana serta patung-patung dewa oleh para arkeologi modern di bawah laut Alexandria. Walau begitu, masih banyak peninggalan bersejarah tersisa yang bisa kita lihat di tanah Alexandria saat ini.
Citadel of Qaitbay

Bangunan dengan arsitektur khas dinasti Mamluk ini berdiri dengan megah di tepian laut. Posisi ini sangat pas untuk mercusuar yang membantu navigasi kapal-kapal yang memasuki Pelabuhan Alexandria. Bangunan ini sempat hancur sehingga kembali dibangun sebagai benteng oleh Sultan Qaitbay, sultan terkenal dari kalangan budak yang dikenal dengan keterampilan militernya hingga akhirnya ia berhasil mendapat banyak kepercayaan.
Mengapa kawasan tersebut diubah menjadi benteng? Alasannya karena tempat ini memiliki posisi pengamatan ideal, melindungi pintu masuk pelabuhan timur, serta menjaga wilayah maritim Mesir. Jadi secara tidak langsung, bangunan ini menggabungkan antara fungsi militer dengan seni estetika.
Adapun salah satu bangunan yang hancur tenggelam adalah Mercesuar Pharos, Alexandria, yang tercatat merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia kuno. Kini, reruntuhan Mercusuar itu ada di bawah Benteng Qaitbay.
Untuk tiket masuknya sebesar 30 paun Mesir. Adapun letak destinasi ini berdekatan dengan Perpustakaan Alexandria atau Bibliotheca Alexandria, tak ayal kedua situs bersejarah ini seringkali dikunjungi bersamaan.
Katakombe Kom El-Shaqafa

Bangunan yang tak terlihat di permukaan belum tentu tak berwujud. Siapa sangka, kisah jatuhnya seekor keledai ke dalam tanah di atas bukit kecil di pinggiran kota tahun 1900 M malah menyingkapkan jalan rahasia menuju pintu masuk salah satu bangunan bersejarah yang kini dijuluki Katakombe Kom El-Shaqafa.
Bangunan bawah tanah ini sekarang dipayungi genteng kerucut seperti payung, saat masuk langkah pengunjung dimanjakan oleh tangga spiral yang berputar mengelilingi poros batu seakan digiring masuk ke masa lalu. Di dalam bangunan tersebut, terdapat patung-patung serta ruang-ruang kotak kecil pemakaman dengan simbol perpaduan Yunani, Romawi, serta Mesir Kuno.
Katakombe merupakan keajaiban dunia di abad pertengahan. Awalnya, tempat ini dibangun sebagai pemakaman para bangsawan saja, namun akhirnya menjadi pemakaman umum yang menampung hingga 300 jenazah.
Adapun nama pemakaman ini diambil dari tradisi unik para pelayat yang selalu membawa anggur serta makanan. Setelah acara selesai, gelas-gelas yang mereka pakai dipecahkan ke tanah, itulah yang mendasari asal-usul Kom El-Shaqofa yang bermakna gundukan pecahan. Tiket masuknya pun relatif sangat murah, hanya 10 paun Mesir. Bila sudah berkunjung ke sini, wajib juga mengunjungi Pompey’s Pillar karena lokasi keduanya sangat dekat, berlokasi di Distrik Karmouz.
Pompey’s Pillar

Inilah bangunan bersejarah tertinggi di Alexandria yang masih ada hingga kini, yaitu sebuah tiang raksasa setinggi 22 meter dengan gaya romawi yang dikawal oleh dua patung replika Sphinx di depannya. Bangunan ini berdiri di antara reruntuhan kuil dan tiangnya terbuat dari peninggalan batu monolit putih terbesar di dunia.
Di bawah tanahnya terdapat Serapeum, sebuah tempat peribadatan romawi kuno untuk memuja Dewa Serapis (Dewa Campuran dari keyakinan Mesir dan Yunani) walaupun isinya banyak yang sudah dihancurkan oleh pasukan Kristen pada masa akhir kekaisaran Romawi. Bahkan di sana juga sempat berdiri perpustakaan besar di zaman itu. Raja Romawi saat itu, Diocletion, membangunnya di tahun 275 M.
Lalu, apa yang melatarbelakangi tiang ini dijuluki “Pompey”? Diocletion meyakini bahwa terdapat seorang politisi dan pemimpin militer Romawi yang bernama Pompey melarikan diri dari Roma ke Mesir, lalu terbunuh di sana. Sementara dari perspektif para tentara salib, mereka yakin abu jenazah Pompey tersimpan di pot atas tiang, berbeda dengan masyarakat setempat yang menganggap situs tersebut sebagai rasa terima kasih dan memperingati Raja Diocletion itu sendiri.
Terkait harga tiket, hanya dengan 5 paun Mesir, kita sudah bisa memasuki situs sejarah di lokasi dataran tinggi ini. Sementara di dataran rendah sekitarnya terdapat perumahan dan pemakaman muslim (Amud Tombs), dapat dikatakan lokasi di sana mencakup berbagai agama dan budaya.
Roman Amphitheater yang Tertimbun

Kali ini adalah peninggalan teater yang ditemukan saat pekerja bangunan menggali tumpukan pasir dan puing-puing untuk membangun sebuah gedung pemerintahan. Teater ini berbentuk oval/melingkar bertujuan untuk menampung ribuan penonton yang dibangun oleh bangsa Romawi dan letaknya ada di beberapa negara yang mereka kuasai.
Fungsi teater ini tak hanya untuk sarana hiburan, tetapi juga menjaga stabilitas sosial dan legitimasi kuasa dengan perpaduan halus kekuasaan, hiburan, serta identitas budayanya. Biasanya pertunjukan yang diadakan saat itu adalah perburuan binatang liar, pertarungan gladiator, pusat hiburan publik, bahkan eksekusi publik. Tak jarang juga ada pertunjukan dengan kekerasan ekstrim, kematian, dan eksploitasi hewan ataupun manusia. Kaisar dan pejabat dahulu juga suka memanfaatkan tempat tontonan ini sebagai sarana propaganda politik.
Tak hanya itu, barisan tempat duduknya pun diatur sedemikian rupa sesuai dengan strata sosial yang dimiki: kursi depan untuk kalangan elite, kursi tengah untuk warga biasa, lalu kursi belakang untuk budak dan wanita.
Jarak lokasi di antara Roman Amphithetaer dengan situs sebelumnya tidak terlalu jauh. Adapun harga tiketnya, dengan 10 paun Mesir sudah bisa mengelilingi tempat luas ini.
Graeco-Roman Museum

Inilah pusat tempat berlindungnya harta karun arkeologi Alexandria. Museum ini awalnya dibangun kecil-kecilan di apartemen lima kamar di tahun 1892 M, dan akhirnya dipindahkan menjadi bangunan yang lebih besar.
Mengenai koleksi di dalamnya diperoleh dari sumbangan orang-orang kaya Alexandria yang bersumber dari penggalian di kota Alexandria ataupun di sekitarnya, serta ada juga dari organisasi purbakala Kairo.
Museum ini terdapat benda-benda artefak yang berasal dari era Yunani hingga Romawi (Ptolemeus), situs museum ini adalah satu dari 11 museum di dunia yang menampilkan karya tertua seperti galeri dewa-dewi serta subjek dari seni Yunani Kuno, Roma, dan galeri Kekaisaran Bizantium.
Adapun penataan tiap galeri di museum ini sistematis, sesuai dengan masa kehidupan dan budaya tiap periodenya. Terdapat pahatan-pahatan patung, ukiran-ukiran elok juga mumi yang dibungkus dengan kain linen, serta benda-benda peninggalan seperti koin-koin, lukisan, mozaik, peralatan rumah tangga kuno, relief batu kapur, dan artefak lainnya.
Kisah yang terselubung dari tiap benda di museum ini merupakan bukti keagungan zaman kuno dan semangat abadi mereka yang telah mengabdikan diri untuk dikenang di masa depan. Soal harga cukup 20 paun Mesir, kita sudah bisa menikmati seluruh artefak tersebut.
Bila kita memaknai dan mempelajari sejarah secara langsung, selain mengagumi indahnya bangunan-bangunan sejarah yang tersimpan dan sarat akan nilai, kita jadi tahu apa saja yang sudah terjadi dimasa lalu, seperti sejarah Kota Alexandria ini.
Reporter: Iffah Mufidah Al-Maulidiyah
Editor: Afifah Al Tafunnisa
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini



