Informatika Mesir
Home Feature Inspirasi Perjalanan Pendidikan, Dr. Hilman: Jangan Salah Jalan

Inspirasi Perjalanan Pendidikan, Dr. Hilman: Jangan Salah Jalan

Dr. Hilman, peraih nilai Mumtaz dalam program doktoral di Universitas Al-Azhar. Sumber: Dokumentasi pribadi

Informatikamesir.net, Kairo – Sore itu (10/11/2025), oranye sinar matahari Kairo menerobos sela-sela Rumah Tahfidz An Naafi’ Kairo Mesir. “Silakan masuk, Kak. Duduk dulu,” sambut sang tuan rumah dengan senyuman hangat. Tidak tampak kesan jumawa dari sosok peraih predikat mumtaz di jenjang doktoral lulusan Al-Azhar itu, justru ketenangan dan kerendahan hati yang lebih terpancar dari beliau.

Dalam obrolan satu setengah jam ini, kami mengobrol banyak tentang ilmu, rintangan, dan bagaimana seharusnya seorang azhari benar-benar menjalankan amanahnya.

Perjalan Pendidikan

Dr. Hilman Rasyidi, Lc., M.A., adalah seorang lulusan Universitas Al-Azhar Kairo asal Majalengka, Jawa barat yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang doktoralnya, pada Februari 2025 lalu dengan predikat mumtaz.

Berasal dari keluarga pas-pasan tak menghambat Dr. Hilman dalam mewujudkan keinginan untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar setelah menyelesaikan pendidikannya jenjang MA di Pondok Pesantren Al Falah 2 Nagreg Bandung. Ia berhasil menjadi salah satu dari 90 mahasiswa yang menerima beasiswa Al-Azhar kala itu. “Dulu itu, seleksi Al-Azhar hanya ada satu dan sangat sulit,” ujar Dr. Hilman, “bahkan tiba-tiba ada tes dadakan yang diadakan langsung di kantor Dubes Mesir di Indonesia yang menyebabkan beberapa teman saya yang kadung melaksanakan tasyakuran gagal berangkat ke Mesir.”

Beasiswa yang ia terima bukan hanya soal bantuan biaya, namun merupakan amanah yang berat di dada baginya. “Saya tidak ingin membebani orang tua di rumah,” ujarnya pelan. Karena itulah, Dr. Hilman bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Mulai dari jenjang sarjana, Dr. Hilman melewatinya dengan semangat belajar yang tinggi. Setiap hari, ia berangkat kuliah dengan tekun, kemudian mengulang materi di tempat tinggalnya, Madinatul Bu’uts. Di sela-sela kesibukannya, Dr. Hilman masih menyempatkan diri untuk talaki dan sempat menjabat sebagai bendahara di Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin.

Seperti yang ia ungkapkan, “Orang yang fokus terhadap ilmu akan dihadapkan pada banyak sekali cobaan.” Perjalanan tidak selalu mulus. Memasuki jenjang magister, Dr. Hilman dihadapkan pada masa-masa berat. Salah satu titik terberat yang ia kenang adalah ketika harus mengulang seluruh ujian tamhidi (red: kelas persiapan) hanya karena satu mata kuliah, itu pun ujian syafahi (lisan). Waktu itu, sistem ujiannya masih menggunakan sistem gugur. Setiap mahasiswa wajib lulus semua mata kuliah. Satu saja mata kuliah tidak lulus, maka harus mengulang semua mata kuliah di tahun kedua.

Dr. Hilman menjelaskan bahwa kala itu ujian tamhidi sangat berat dan ketat dengan batas nilai kelulusan 60 untuk tamhidi satu dan dinaikkan 70 untuk tamhidi dua yang sangat sulit dicapai, terutama bagi wafidin (red. mahasiswa internasional) 

Bahkan, Dr. Hilman sempat berencana pulang kalau masih gagal di tahun kedua. “Saya termasuk orang yang down waktu itu, pengin pulang. Yah, intinya saya sudah bener-bener ambruk. Kalau bahasa kita mah ya, ambruk, down, dan enggak tau mau ngapain lagi,” ungkapnya.

Namun, sebagai pelajar, Dr. Hilman tidak mau terus menerus pesimis dalam keterpurukan dan merasa berduka atas pengalaman pahit pada tahun sebelumnya. Pada tahun kedua tamhidi satu, Dr. Hilman berusaha bangkit dan mencoba mengundi nasib lagi untuk mengikuti imtihan kembali walaupun ia mengakui bahwa ia tidak belajar maksimal sebagaimana pada saat masih di tahun pertama. Hematnya pada tahun kedua, ia bisa mengandalkan sisa-sisa maklumat materi tahun sebelumnya karena mata kuliah yang dipelajari pada tahun lanjutan ini masih menggunakan muqarar (red: diktat) yang sama. 

Namun, tak disangka, kejadian luar biasa terjadi. Dr. Hilman menjadi satu-satunya mahasiswa yang lulus di ujian tamhidi. Sementara di tahun sebelumnya, tidak ada satupun mahasiswa yang mampu menembus kelulusan ini. Kegagalan di tahun pertama inilah yang menjadikan Dr. Hilman semakin yakin bahwa pantang menyerah yang disertai rasa pasrah adalah kunci dari keberhasilan dan sebagai batu loncatan untuk perjalanan pendidikan Dr. Hilman selanjutnya. 

Setelah melalui lika-liku menulis tesis selama kurang lebih dua tahun—terhitung mulai dari lulus tamhidi, Dr. Hilman memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral. Namun, kali ini ia sudah berkeluarga. Walaupun sempat mengaku bahwa saat proses penulisan disertasi waktunya tidak sebebas dulu karena fokusnya terbagi-bagi, Dr. Hilman menegaskan bahwa berkeluarga bukanlah menjadi faktor macetnya proses menulis karena berkeluarga itu perintah yang mulia dan tidak boleh dijadikan alibi untuk membela diri.

Pastinya, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar dan berat pula tantangan, rintangan, beban, dan tanggung jawab yang dipikul. Begitu juga Dr. Hilman. Setelah melewati berbagai tantangan, akhirnya, ia berhasil menyelesaikan disertasinya selama tiga tahun. Sebuah capaian yang tergolong cepat dibandingkan mahasiswa lainnya.

Problematika Masisir dari Kacamata Dr. Hilman

Dari perjalanan panjang yang ia lalui, Dr. Hilman sadar bahwa menuntut ilmu di Al-Azhar tidak hanya tentang mengejar nilai dan gelar, namun juga tentang bagaimana niat, konsistensi, serta perwujudan dari niat tadi. Pengalaman ini membuatnya lebih peka terhadap kondisi Masisir saat ini. Menurutnya, Masisir sekarang cenderung mulai kehilangan kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Dr. Hilman sempat terdiam dan menghela napas panjang saat ditanya tentang problematika masisir saat ini sebelum akhirnya menjawab, “Kalau sekarang, mungkin lebih ke perhatian terhadap pendidikan lebih menurun.”

Dr. Hilman sangat menyayangkan mahasiswa yang belajarnya SKS (sistem kebut semalam). Ia mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan, “Apakah akan menjawab (pertanyaan masyarakat) dengan modal talkhis (red: ringkasan materi kuliah) itu?”

Dr. Hilman juga menyoroti degradasi moral di kalangan Masisir yang sedang menjadi perbincangan. Ia menilai bahwa hal itu terjadi karena banyak yang mulai kehilangan arah. Setidaknya ada dua hal yang ia yakini menjadi penyebab utama peristiwa kehilangan arah: kurangnya peran para pendahulu dalam memberi teladan dan bimbingan serta sikap generasi baru yang enggan menerima arahan dan memilih berjalan sendiri sesuai keinginannya. 

Permasalahan terakhir yang menurut Dr. Hilman paling parah justru adalah permasalahan senioritas yang baru-baru ini muncul di kalangan Masisir. “Bagi saya, yang paling parah itu senioritas. Senioritas itu menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai permasalahan,” ungkapnya. Senioritas yang dimaksud Dr. Hilman di sini adalah sesuatu yang menghambat amar makruf nahi mungkar di antara sesama Masisir. Para generasi baru sungkan untuk menegur kakak kelasnya dan begitu juga yang sudah merasa senior akan sangat sulit menerima nasihat dari orang lain.

Peran Lulusan Al-Azhar di Indonesia

Ketika ditanya apakah para licentiate di Indonesia sudah berperan dan sejauh mana kontribusinya, Dr. Hilman tersenyum kecil sebelum menjawab. Ia mengaku tidak mengikuti secara detail. “Cuma yang saya tahu, teman-teman seangkatan yang saya kenal ya, Kak, sudah banyak berkontribusi dengan ilmunya,” ujarnya. Ia sempat tertawa pelan lalu menambahkan, “Ada yang menjadi penceramah, ada yang menjadi kiai, istilahnya mah sudah jadi orang semua, kurang saya yang masih betah di sini.” 

Moto Hidup Dr. Hilman

Di akhir perbincangan, Hilman sempat berbagi moto hidup yang selama ini ia pegang. Baginya, tidaklah seyogyanya seorang penuntut ilmu mencukupkan dirinya dengan “من جد وجد” (barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan), namun harus dilengkapi dengan “من سار على الدرب وصل”(“barangsiapa yang melewati jalan yang benar maka akan sampai). Ia juga sempat menyebut, “العبرة ليست في جمال البدايات لكن العبرة في قوة النهايات” (Yang menjadi ukuran bukan awalan yang bagus, melainkan akhiran yang bagus) yang selama ini seakan menjadi kompas dalam setiap langkahnya. 

Sore itu, percakapan kami ditutup dengan kehangatan dan kesan mendalam. Bukan sekadar cerita tentang perjuangan akademik, tetapi juga tentang prinsip hidup, ketekunan, dan keikhlasan yang ia jaga selama menapaki setiap jalan ilmu. Segala hal yang diceritakan bahkan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para Masisir yang masih “menikmati” proses perjuangan akademik untuk nantinya mengabdikan diri kepada bangsa dan masyarakat.

_____________

Reporter: Bintan ‘Azizah

Editor: Muhammad Saladin Ghaza Al-Arsyad

_____________

Informatika Mesir “membangun masa depan dengan dialog dan komunikasi”.

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad