Membaca Ulang Pentas Budaya Seni Tari Masisir
“Gak Azhary banget!” Ujar salah satu penonton di kolom komentar siaran langsung sebuah acara Masisir yang menampilkan budaya seni tari. Komentar seperti ini sudah tidak asing dilontarkan di lingkungan Masisir. Berbagai platform bisa menjadi wadahnya dan berbagai fenomena bisa menjadi objeknya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara sebagian mereka dan lainnya. Masisir merupakan entitas majemuk yang tersusun dari berbagai golongan. Anggotanya berasal dari daerah dan lembaga pendidikan yang berbeda-beda. Perbedaan pandangan sudah menjadi hal yang tidak terelakkan.
Terlepas dari semua itu, ada hal menarik yang patut dibahas di balik cibiran di atas, yaitu persoalan mengenai gesekan antara praktik budaya dan ajaran agama. Budaya seni tari merupakan salah satu bagian dari kekayaan budaya kita. Masisir sebagai entitas dengan punca Indonesia melekat dengan budaya ini dan seyogyanya mengambil andil dalam pelestariannya. Di sisi lain, Masisir pun mengemban darma sebagai pelajar agama. Darma ini mesti diaktualisasikan melalui sikap agamis dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran budaya Nusantara di lingkungan pelajar muslim, seperti lingkungan Masisir, perlu mendapat penyesuaian. Sebab, ada beberapa hal dalam praktik budaya yang kurang sesuai dengan ajaran Islam. Padahal, nilai-nilai budaya dan agama sama-sama menduduki posisi eminen pada diri tiap Masisir. Keduanya mesti mendapat perhatian yang sama. Penyesuaian penyelenggaraan budaya bertujuan supaya budaya sebagai bagian dari identitas Masisir tetap bisa lestari di samping Masisir pun tetap menegakkan ajaran agama.
Masalah gesekan antara praktik budaya dan ajaran agama bukan hal yang baru. Masalah ini sudah mengudara berkali-kali, terutama di Indonesia sebagai negara majemuk. Ada beberapa hal dalam budaya yang tidak bisa diterima oleh agama. Terjadi benturan antara budaya dan agama. Persoalan ini selalu berujung pada konflik. Persoalan ini semakin mengemuka tatkala terjadi di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Penyesuaian penyelenggaraan budaya harus ditempuh. Dalam budaya seni tari setidaknya ada beberapa hal yang selalu menjadi objek permasalahan, yaitu penampil berasal dari kaum wanita yang mereka mendapat atensi ketat dalam menjaga diri di ruang publik, gerakan-gerakan yang ditampilkan adakalanya erotis, dan busana yang digunakan kerap semi terbuka. Semua ini menjadi persoalan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapat penyesuaian tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Sebelum kita berjalan lebih lanjut pada permasalahan di atas untuk mencari titik penyesuaian, pendudukan makna budaya seni tari perlu dihadirkan. Dalam buku Reading Dancing: Bodies and Subjects in Contemporary American Dance, Leigh Foster, seorang pengkaji seni tari, mengutarakan bahwa seni tari merupakan arena pengungkapan makna melalui gerakan-gerakan fisik. Ia tidak memandang seni tari sebagai gerakan-gerakan yang ditujukan untuk menghibur semata, tetapi gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana penyampaian makna.
Semua hal yang nampak pada pentas seni tari tidak hadir tanpa makna. Ada pesan-pesan yang diselipkan pada setiap hal yang ditampakkan. Busana yang dikenakkan menyimpan makna, aksesoris yang dikaitkan di arena pentas memiliki makna, lagu pengiring tari mengantongi makna, terlebih gerakan-gerakan tari sebagai unsur utama tentunya menyandang makna yang dalam. Semua makna tersebut ingin tersampaikan secara utuh. Dengan demikian seni tari merupakan panggung penyampaian pesan yang estetis.
Di beberapa tempat, seni tari telah menjelma menjadi produk budaya. Kehadirannya sudah tidak lagi menjadi ajang penyampaian pesan secara acak. Lebih dari itu, seni tari menjadi ruang pelestarian budaya. Di setiap geraknya mengantongi latar sejarah, identitas, kaidah artistik, dan cara pandangan masyarakat.
Ia memiliki posisi strategis di masyarakat. Masyarakat yang memiliki budaya seni tari menjadikannya sebagai peranti untuk mengenalkan kelompoknya ke khalayak umum.Sebuah hal pasti dari kelompok masyarakat di atas adalah adanya keinginan untuk menampilkan produk budaya mereka.
Keinginan ini bisa dilatarbelakangi oleh alasan yang berbagai macam seperti rasa cinta kedaerahan, rasa tanggungjawab untuk mewariskan produk budaya, atau komersialisasi. Alasan-alasan ini menjadikan pementasan produk budaya tidak dapat dibendung. Pementasannya menjadi hal yang mesti dilakukan.
Lingkungan pelajar muslim dibentuk oleh penjagaan terhadap nilai-nilai Islam. Mereka belajar nilai-nilai agama dan dituntut untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut. Aktualisasi nilai-nilai ini menjadi sebuah kemestian yang tidak bisa diganggu gugat. Akan tetapi, lingkungan ini pun tidak bisa tertutup terhadap berbagai hal yang muncul baik dari dalam maupun luar lingkungan tersebut. Budaya termasuk hal yang tidak bisa dinafikan kehadirannya di lingkungan ini. Budaya, khususnya di Nusantara, sudah lebih dulu hadir di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, ia menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan.
Masalah-masalah yang timbul dari gesekan antara budaya seni tari dan ajaran agama merupakan bagian dari perkembangan sebuah peradaban. Sebuah peradaban senantiasa berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat peradaban tersebut. Perkembangan ini selalu dikawani oleh gesekan-gesekan yang terjadi di dalamnya. Adanya gesekan ini merupakan sebuah kelaziman bagi sebuah peradaban. Gesekan tersebut mesti mendapat penyesuaian agar bertransformasi menjadi nilai-nilai segar, bukan pertentangan.
Hadirnya budaya seni tari di lingkungan pelajar muslim menjadi salah satu hal yang harus mendapat penyesuaian. Sebab, hal ini merupakan bagian dari perkembangan. Dalam hal busana yang dikenakan, misalnya. Budaya seni tari, khususnya Nusantara, menampilkan busana semi terbuka. Busana dengan model demikian tidak sesuai jika dihadirkan di lingkungan pelajar muslim. Oleh karena
itu, perlu ada penyesuaian dalam penyarungan busana tersebut. Busana yang
ditampilkan tidak bisa keluar dari nilai-nilai Islam.
Begitupun dalam hal penampil. Penampil pentas perlu mendapat perhatian,
terlebih jika berasal dari kaum wanita. Seorang wanita muslimah mendapat
perhatian lebih di ruang publik guna menjaga diri mereka. Dengan demikian,
pemilihan penampil dari kaum wanita mesti disesuaikan dengan isi dari pementasan.
Apabila, dalam pementasan ada unsur yang tidak layak dilakukan oleh wanita
muslimah, maka penampil tidak bisa dari kaum wanita. Mereka harus tetap dijaga
perihal penjagaan diri di ruang publik.
Permasalahan yang paling penting adalah mengenai gerakan-gerakan yang
ditampilkan. Sebab, gerakan-gerakan ini menjadi unsur utama dalam pentas budaya
seni tari. Kehadirannya menjadi tempat penyampaian utama dari makna yang dituju.
Gerakan-gerakan yang ditampilkan tidak bisa menggunakan gerakan yang memiliki
unsur tentang terhadap ajaran Islam. Hal ini dapat dimodifikasi sesuai dengan
kebutuhan, tanpa mengurangi nilai-nilai yang akan disampaikan. Pesan-pesan yang
terkandung di baliknya tetap tersampaikan meski melalui penyampaian yang
berbeda.
Dengan demikian, pentas budaya seni tari dapat dilakukan di lingkungan
pelajar muslim. Pentas ini akan menjadi ajang pelestarian produk budaya tanpa
adanya pertentangan terhadap hal lain. Makna-makna yang terkandung dalam
pentas masih dapat disampaikan. Ajaran agama pun tidak akan menentang
pementasan tersebut. Budaya tetap dilestarikan dan ajaran agama tetap ditegakkan.
Masing-masing memegang porsi bagi nilainya.
Walakhir, persoalan mengenai gesekan antara praktik budaya seni tari dan
ajaran agama merupakan hal yang dapat disesuaikan. Kehadiran budaya seni tari
menjadi bagian dari pelestarian warisan leluhur dan penyampaian pesan. Ajaran
agama merupakan penuntun hidup bagi masyarakat. Keduanya bisa berjalan
beriringan tanpa adanya pendeskreditan satu dan lainnya.
NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.
– Referensi penulis tidak ditampilkan, bila ingin membacanya, bisa hubungi narahubung yang tertera di BC-an pamflet Lomba Opini.
Penulis: Musthafa Hasbi Rahmatullah (Peserta Lomba Opini)




