Ketika Turats Menembus Ranking Dunia: Catatan Sebagai Alumni Al-Azhar

Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal-Universitas PTIQ Jakarta, Alumni Al-Azhar 2021. Dok: Pribadi
Ada kejutan tersendiri ketika melihat QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Theology, Divinity & Religious Studies. Di tengah dominasi kampus-kampus yang sangat akrab dengan ekosistem riset modern, Al-Azhar justru tetap muncul di papan atas; dalam pemberitaan yang merujuk pada data QS, posisinya berada di peringkat 36 dunia (QS World University Rankings for Theology, Divinity & Religious Studies, 2026). Bagi saya, ini menarik bukan hanya karena angkanya, tetapi karena Al-Azhar mencapainya dengan watak akademik yang berbeda dari banyak universitas lain.
Bila kampus-kampus lain berlomba memperkuat sitasi, publikasi jurnal internasional, dan jejaring riset global, Al-Azhar masih berdiri dengan napas lama: membumikan turats, talaqqi, ketekunan membaca kitab, dan otoritas keilmuan yang tidak selalu diterjemahkan ke dalam artikel berbahasa Inggris. Di sinilah letak paradoksnya. Al-Azhar tampak “tradisional” dalam format produksi ilmu, tetapi tetap cukup kuat untuk hadir dalam arena yang metriknya justru sangat modern. Paradoks itu, menurut saya, adalah kunci untuk memahami reputasi Al-Azhar hari ini.
Metrik QS World Ranking dan Dominasi Kampus Modern
Untuk membaca fenomena ini dengan adil, kita perlu memahami dulu apa yang sebenarnya dinilai oleh QS. Menurut penjelasan resmi QS, pemeringkatan bidang studi dibangun di atas lima indikator: academic reputation, employer reputation, citations per paper, h-index, dan international research network (How to Use the QS World University Rankings by Subject, 2026). Artinya, ranking tidak semata mengukur kedalaman materi ajar, tetapi juga mengukur seberapa kuat sebuah institusi hadir di ruang akademik global yang berbasis reputasi, produktivitas, dampak riset, dan jejaring kolaborasi internasional.
Karena itu, wajar bila kampus-kampus Islam yang sejak awal dibangun dengan budaya publikasi dan internasionalisasi tampak lebih “mudah dibaca” oleh QS. Sebagai contoh, UIN Jakarta pada profil resmi QS menduduki peringkat 29, sementara IIUM Malaysia, yang sama-sama menjadi mitra Al-Azhar di Asia Tenggara, menduduki peringkat 25 untuk QS WUR Ranking by Subject 2026.
Dalam laporan yang sama, capaian itu dijelaskan ditopang oleh indikator seperti citations per paper, h-index, dan academic reputation. Ini menunjukkan bahwa kampus yang mampu menerjemahkan kekuatan akademiknya ke dalam format riset terindeks memang lebih cepat melesat dalam sistem penilaian semacam ini.
Namun, justru di sinilah kehadiran Al-Azhar menjadi penting. Ia tidak lahir sebagai universitas riset modern dalam pengertian sekarang. Al-Azhar sudah beroperasi lebih dari 1000 tahun dan menjadi salah satu kampus di Arab yang mampu menjawab modernisasi tanpa kehilangan identitas klasiknya.
Oleh karena itu, karakter Al-Azhar tidak bisa dipahami hanya melalui logika “berapa artikel terbit tahun ini”. Lebih dari itu, kekuatan utamanya ada pada penguasaan material studi yang sangat intens, kedekatan dengan sumber primer, dan kepercayaan pada sanad keilmuan. Mahasiswa Al-Azhar dibesarkan dalam tradisi bahwa ilmu agama bukan sekadar data yang dikutip, melainkan warisan yang dipelajari dengan disiplin, adab, dan kesinambungan otoritas.
Dalam bahasa sederhana, Al-Azhar tidak hanya mengajarkan “apa yang harus diketahui”, tetapi juga “dari siapa ilmu itu diwarisi”. Ini sesuatu yang tidak mudah diukur oleh metrik bibliometrik konvensional.
Kekuatan kedua Al-Azhar ada pada reputasi internasionalnya yang hidup melalui manusia, bukan hanya melalui dokumen. Situs resmi pusat pendidikan mahasiswa asing Al-Azhar menjelaskan bahwa lembaga ini memang dibayangkan sebagai tujuan ilmiah bagi pencari ilmu dari seluruh dunia Islam.
Mereka datang untuk belajar agama, lalu kembali ke negeri masing-masing sebagai ulama, akademisi, politisi, bahkan menjadi policy maker di negara asalnya. Bagi saya, ini penting: reputasi Al-Azhar menyebar bukan terutama lewat jurnal, melainkan lewat alumninya yang menanamkan pengaruh bahkan di kancah global (Al-Azhar Al-Syarif, t.t.).
Keterbatasan Al-Azhar yang Perlu Diakui
Akan tetapi, romantisme terhadap turats saja tidak cukup. Jika Al-Azhar ingin terus hadir kuat di panggung global, maka kekayaan material studi itu harus dilengkapi dengan kekayaan metodologi. Penguasaan teks klasik adalah modal besar, tetapi ia perlu dibawa ke dalam percakapan akademik kontemporer, kemudian ditulis secara sistematis, dibahasakan dalam format ilmiah modern, dan dipertemukan dengan metodologi yang dibaca dunia. Problemnya bukan pada turats, melainkan pada cara menyajikan turats agar dapat berjumpa dengan standar pengetahuan internasional.
Kesempatan Azhary di Kancah Global
Di titik inilah saya melihat peluang besar bagi para Azhary. Seorang lulusan Al-Azhar sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk tampil di ruang akademik global sebagaimana lulusan Oxford, McGill, atau Harvard. Bahkan, dalam beberapa aspek penguasaan sumber klasik, Azhary bisa memiliki keunggulan yang tidak kecil.
Syaratnya jelas: kuasai materi studi dengan serius, latih kemampuan menulis akademik, dan tambah wawasan metodologi agar ilmu yang dimiliki tidak berhenti sebagai kekayaan personal, tetapi berubah menjadi kontribusi yang dapat dibaca dunia.
Perubahan lain yang juga mendesak adalah soal bahasa. Sarjana Al-Azhar sering kali sudah sangat kuat dalam bahasa Arab, tetapi tidak selalu dibarengi dengan kemampuan bahasa asing lainnya, seperti bahasa Inggris atau bahasa ilmiah global lain. Semua itu bukanlah ancaman bagi identitas keilmuan Azhar, melainkan jembatan.
Kita tidak sedang diminta meninggalkan bahasa Arab; kita sedang diminta memperluas jangkauan ilmu Arab agar bisa berbicara di forum yang lebih luas. Dalam konteks QS, hal ini juga berkaitan langsung dengan visibilitas, kolaborasi, dan jaringan riset internasional.
Pada akhirnya, Al-Azhar menarik bukan karena ia sekadar berhasil masuk ranking dunia. Ia menarik karena menunjukkan bahwa warisan klasik belum selesai, bahkan di tengah dunia akademik yang sangat terobsesi pada metrik.
Namun, anomali ini tidak boleh membuat kita puas diri. Justru karena Al-Azhar sudah terbukti tetap relevan, tantangan berikutnya adalah membawa turats, sanad, dan kedalaman ilmu itu ke bahasa global yang lebih terbuka. Jika itu terjadi, maka Azhary tidak hanya akan bangga pada masa lalu, tetapi juga sanggup memimpin masa depan.
Daftar Referensi
Al-Azhar Al-Sharif. (n.d.). Foreign students. Retrieved March 31, 2026, from https://azhar.eg/foreignstudent/en
QS Top Universities. (2026, March 24). How to use the QS World University Rankings by Subject. https://www.topuniversities.com/subject-rankings/methodology
QS Top Universities. (2026, March 5). QS World University Rankings for Theology, Divinity & Religious Studies. https://www.topuniversities.com/university-subject-rankings/theology-divinity-religious-studies
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini



