SENI TARI DAN PELAJAR ISLAM
Batas : pembatas atau pemisah antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya
Seni tari : gerakan berirama dan ekpresif yang menjadikan gerakan manusia sebagaiobjek untuk menampilkan isi hati dan pikiran juga sebagai wujud keindahan
Lingkungan pelajar muslim : suasana, keadaan, atau pertemanan yang mendukungpelajar dalam mendalami, mempelajari, dan mengamalkan ajaran islam sekaligus menjauhisegala larangannya. tanpa paksaan untuk menajuhinya dan tanpa malu untukmengerjakannya.
PEMBUKAAN
Saya memulai opini ini dengan penjelasan singkat variabel-variabel penting yang adadi tema guna mengetahui inti pembahasan sekaligus membatasi agar tidak keluar daritema opini.
Bismillahirrahmanirrohim, setelah membaca dan memahami tema opini diatas, saya akan langsung mengambil kesimpulan bahwa “ Seni tari adalah kebudayaan yang tidak bolehdilepas oleh pelajar islam”. Mengapa saya bisa bilang begitu?
ARGUMENTASI
Seorang teman saya yang belajar di jurusan dakwah di universitas Al-Azhar, Mesirpernah memberikan pandangannya tentang mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Mesiryang fokus pada selain belajar seperti organisasi, berbisnis, kursus, atau mengembangkanskill mereka yang pada saat pembicaraan itu fokus membahas standup comedy mahasiswa. Dia langsung berkata “ kita ini terlalu radikal terhadap makna pelajar islam itu sendirisehingga kita menganggap mahasiswa yang tidak fokus belajar agama otomatis bukanpelajar islam, padahal kita butuh orang-orang yang mengisi bidang-bidang tersebut agartidak diisi oleh orang-orang yang bukan pelajar islam. coba kalian lihat, orang-orang yanghabis pulang belajar, lapar, dan butuh makan, perginya kemana? restoran indonesia yangdiurus oleh mahasiswa. kalau semisal mereka tidak jualan dan fokus belajar semua, siapayang bakal menjalankan restoran-restoran itu? Sama halnya sama standup, merekamelakukan itu tidak membuat mereka keluar dari islam kan, lalu kenapa kita terlalukhawatir bahkan sampai merendahkan mereka. Justru kita yang mempunyai kesempatanbelajar lebih dalam yang merangkul mereka agar tidak terjadi penyelewengan danmenjaga mereka agar tetap punya semangat belajar.”
Pernyataan ini sekaligus menguatkan opini saya diatas bahwa sebagai seorang pelajarislam tidak serta merta meninggalkan sesuatu yang sudah kita kuasai, dalam hal ini adalahseni tari. Justru ia harus menjadi bukti bahwa pelajar islam itu bisa menjadi bagian darikehidupan sosial dan budaya tanpa perlu meninggalkan aturan agamanya. Apakah tariadalah sesuatu yang bebas tanpa aturan? tentu tidak. Sepak bola saja ada aturan danlarangan. Maka tari tentu punya batas wajar dan aturan yang tidak boleh dilanggarapalagi jika sudah masuk ranah kita sebagai pelajar islam. Dalam tari seperti ketentuanberpakaian, gerakan yang pantas, menjaga waktu, interaksi antar lawan jenis, dansebagainya adalah aturan yang harus dilaksanakan dan dijaga sebagai seorang manusiayang beradab apalagi seorang pelajar islam.
Selain dalam urusan adab juga dalam urusan psikologi. Ia bisa menjadi batu loncatansekaligus penyemangat menuju hal yang mereka impikan atau sekadar pelipur lara saatmereka sedang tidak semangat. Karena dalam islam, keadaan psikologi manusia jugadibahas secara terperinci. Saat jenuh, manusia berpotensi membayangkan atau bahkanmelakukan sesuatu yang berdampak buruk yang tentu berpengaruh untuk diri mereka dansekitarnya. Maka tari bisa menjadi salah satu kegiatan positif yang menjauhkan merekadari melakukan hal-hal negatif, seperti judi, mabuk, pacaran, dan sebagainya.
Selain itu, kita bisa melihat banyak orang islam yang punya potensi dan dampak disuatu bidang bahkan ia menjadi simbol terkenal dari bidang tersebut, seperti MuhammadAli dengan tinjunya, Mohammed Salah dengan bolanya, Sunan Kalijaga denganwayangnya, Habiburrahman El-Shirazy dengan novel legendarisnya, Jusuf Hamka dengangurita bisnisnya dan masih banyak yang lainnya. Mereka masuk ke bidang-bidang tersebutsudah menjadi bukti bahwa islam tidak melarang pemeluknya untuk pandai bahkanprofesional dalam hal-hal duniawi, justru inilah wujud representasi islam yang turunsebagai rahmat bagi seluruh alam itu sendiri melalui para pemeluknya yang berkecimpungdi berbagai bidang. Islam tidak melarang sesuatu tanpa hadir sebagai solusi, alasan, sekaligus penentu batas itu sendiri. Apakah ini boleh, apa batasannya, bagaimanamenyikapinya, dan sebagainya. Ia mengatur kehidupan kita agar nyaman dijalani danditaati.
Maka di bidang kebudayaan, dalam hal ini tari menjadi titik berat pelajar islam yangsudah menguasainya agar terus menjaganya berada dalam koridor keislaman. Pahamiaturan syariatnya dan aplikasikan dalam berkesenian, yang salah adalah jika mereka sudahtahu aturan-aturannya tapi malah melupakan bahkan menyelewengkannya. Melupakansyariat keislaman dengan alasan budaya ibarat melupakan bernafas dengan alasan malas.
KESIMPULAN
Para pelajar islam dimanapun berada, berdampak dan berkaryalah kalian sejauh danseluas mungkin. Dan ingatlah selalu bahwa kalian secara tidak langsung adalahrepresentasi islam di mata dunia. Ketahuilah segala aturan yang berlaku dan jauhilahsegala larangan yang berlaku. Be the best of yourself without being far from your deen.
NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.
– Referensi penulis tidak ditampilkan, bila ingin membacanya, bisa hubungi narahubung yang tertera di BC-an pamflet Lomba Opini.
Penulis: Zain Musthofa Kamal (Peserta Lomba Opini)


