Belajar Berseni dan Bersyukur dari Tukang Cukur
Kalau ada Masisir yang memilih untuk bekerja sampingan sebagai barber, mungkin orang melihatnya sebagai suatu hal yang tidak terlalu sejalan dengan kehidupan pelajar yang semestinya. Tetapi, yang perlu kita ketahui adalah setiap orang berhak memilih mau menjadi apa ia. Tidak ada yang salah jika Masisir memilih untuk menjadi tukang cukur, asal tidak bertentangan dengan etika maupun norma yang ada. Sama halnya seperti sebagian Masisir lain yang memilih untuk bekerja dari profesi lain.
Di balik deru mesin cukur dan aroma pomade yang menguar, berdiri Tajudin Subki, seorang pria berambut pendek dan senyum hangat. Kisah hidupnya dalam menekuni dunia barber sudah dimulai sejak SMP. Tidak disangka, pria yang akrab disapa Uki tersebut memulai perjalanannya sebagai tukang cukur bukan dari kursi empuk barbershop mewah, melainkan dari emperan toko sempit ketika ia SMP dulu. Ia menekuni bidang barber bukan karena uang semata, melainkan sebagai bagian dari ekspresi berseni, sama seperti halnya menggambar.
“Saya memang sudah menekuni bidang barber ini sejak usia masih SMP, tepatnya mungkin tahun 2012 atau 2013. Pada awalnya, saya mulai mencukur pakai gunting terlebih dahulu, mungkin baru tahun 2021 saya baru mulai pakai mesin cukur. Alhamdulillah juga dari mencukur ini saya bisa mendapatkan uang, bisa menjadi ladang pekerjaan buat saya untuk bisa menghidupi diri saya sendiri,” ujar Uki.
Pada Selasa (11/11) kemarin, Uki berhasil keluar sebagai juara 1 dalam kompetisi Indonesian Battle Cut Kairo. Wajahnya semringah ketika namanya disebut sebagai juara. Terdengar riak suara dan tepuk tangan dari para penonton yang hadir dan tidak lupa juga para peserta lain ikut memberikan ucapan selamat kepada Uki.
“Alhamdulillah, bidang mencukur ini adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada saya. Saya sangat bahagia dan bersyukur sudah diberikan kesempatan untuk bisa mengikuti kompetisi ini, terlebih-lebih saya keluar sebagai juara 1,” demikian ungkap Uki.
Uki juga membuktikan bahwa setiap manusia yang tekun dalam passion-nya juga bisa bersinar dan keberhasilan akan diraih mereka yang percaya bahwa hidup bisa berubah dengan semangat dan menghargai kelebihan yang diberikan Allah. Boleh jadi, Uki hanyalah satu dari sekian banyak Masisir yang memiliki passion dan kisah hidup serupa.
Semua boleh mengekspresikan minat dan bakat masing-masing selama dalam batasan norma dan etika. Terlepas dari itu semua, setiap Masisir yang memiliki pekerjaan sampingan hendaknya tetap memperhatikan identitas dirinya sebagai seorang penuntut ilmu dan tidak terlena dengan pekerjaan yang dimiliki.
Penulis: Ferdian Hudatullah
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini



