by

Penipuan dan Pemerasan Simsar Sabi Terhadap Masisir Berujung Kerugian Mencapai 10.000 Pound

Oleh: Bagus Kamal (Korban penipuan dan teman rumah Zulfikar)

Telah terjadi penipuan dan pemerasan struktural oleh salah satu simsar syaqqoh di kawasan Hay sabi, tepatnya di samping Mahkamah Lantai 2 Gedung 25. Namanya Ghom’ah. Bapak tua, asli Mesir dengan usia kisaran 50 tahun ke atas.

Peristiwa penipuan dan pemerasan yang dilakukan Ghom’ah kepada saudara kita asal Indonesia yang bernama Zulfikar asal kekeluargaan KMM dan kawan-kawan rumahnya mencapai kerugian berkisar 10.000 pound Mesir.

Kronologis kejadian bermula saat Zulfikar dan kawan-kawan serumah hendak ingin mengakhiri masa sewa rumah tersebut pada tanggal 27 Agustus 2020 lalu. Ghom’ah sudah memberikan izin dan kedua belah pihak telah sepakat untuk mengakhiri akad sewa rumah tersebut tanpa adanya permintaan dari pihak Ghomah uang apapun, kecuali uang senilai 2.000 pound sebagai sewa akhir selama dua pekan kedepan guna merapihkan semua perabotan rumah yang belum di rapihkan. Ghom’ah juga berjanji akan mengembalikan uang takmin yang baru diminta Ghomah dua bulan lalu sebesar 4500 pound sebagai perpanjangan akad genap satu tahun.

Zulfikar dikejutkan dengan kedatangan Ghom’ah pada hari itu juga, tepatnya pukul 13.00 CLT dengan perubahan fikiran yang drastis dan mengatakan kepada Zulfikar untuk segera pergi dari rumah tersebut dengan tenggang waktu hanya tiga hari kedepan. Padahal ini tidak ada dalam perjanjian pertemuannya tadi pagi dengan Ghom’ah yang sudah menerima uang 2000 pound sebagai uang sewa terakhir selama dua Minggu kedepan.

Tidak hanya itu, Ghom’ah juga meminta resi pembayaran listrik, gas tobi’i, dan air selama pembayaran bulan terakhir. Yang membuat terkejut dan kesal Zulfikar beserta kawan-kawan rumah, Ghom’ah meminta uang senilai 6000 ribu pound untuk melunasi tunggakan pembayaran uang air, listrik, dan gas tobi’i. Padahal Zulfikar sudah membayar secara rutin tagihan air, listrik, dan gas tobi’i tersebut setiap bulan tanpa tunggakan satu bulanpun.

Ghomah mengatakan tagihan sebesar 6000 ribu yang meliputi tagihan air, listrik, gas tobi’i   itu bagian dari tagihan untuk pelunasan tanggungan bulanan yang ditangguhkan, yang memang ada di setiap sewa rumah di seluruh Mesir. Karena saat membayar setiap bulan kepada pegawai listrik, air, dan gas tobi’i yang datang kerumah itu belum termasuk pembayaran total keseluruhan.

Zulfikar ditekan untuk segera membayar total keseluruhan tagihan tadi. Jika tidak, ia diancam untuk segera keluar dari rumah hari itu juga tanpa boleh membawa barang miliknya, alias tangan kosong sebagai jaminan.

Suasana mencengkam dan memanas terjadi antara Ghom’ah dan Zulfikar beserta kawan-kawan rumahnya. Zulfikar merasa sudah membayar semua tagihan yang ada setiap bulan tetapi kenapa masih diminta tagihan sebesar itu. Mau tidak mau melihat sikap Ghom’ah yang sudah tidak bisa diajak negosiasi untuk memberikan waktu beberapa hari lagi untuk menanyakan langsung ke pihak syirkah air, gas tobii, dan listrik, dengan terpaksa Zulfikar merogohkan uang senilai 3.000 pound untuk diberikan kepada Ghom’ah. Tujuannya agar tetap bisa bertahan merapihkan semua barang miliknya selama dua hari kedepan dan keluar rumah dengan bisa mendapatkan uang Takmin yang dijanjikan akan dikembalikan setelah semua tanggungan tunggakan listrik, air, dan gas tobii sudah di lunasi.

Hari ketiga, setelah transaksi uang 3000 pound untuk membayar saparuh dari tanggungan air, gas tobii, dan listrik tadi sudah dibawa Ghom’ah untuk dibayarkan ke syirkah, Zulfikar dan kawan-kawannya terpaksa harus angkat kaki dari rumah itu dengan sangat tidak terhormat. Ghom’ah dengan sikap dan nada bicaranya yang keras mengusir kami sore itu. Tepatnya hari Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 19.00 CLT.

Pengusiran secara tidak manusiawi itu terjadi dengan cara Ghomah mengganti kunci pintu rumah yang ada dengan kunci baru. Sedangkan Kulkas, kipas angin, freezer milik Zulfikar masih ada di dalamnya sebagai jaminan untuk pelunasan sisa uang tanggungan air yang menurut Ghomah belum lunas.

Tidak hanya itu, anehnya Ghomah kembali meminta uang sebesar 3000 ribu pound  kepada Zulfikar untuk kebutuhan pembersihan kecoa, beserta sisa tanggungan uang air yang belum lunas menurutnya.

Kekesalan Zulfikar memuncak saat ia menagih janji Ghom’ah yang katanya akan mengembalikan uang takmin yang dijanjikan padanya tiga hari yang lalu setelah semua perabotan rumah rapih, uang kebutuhan tanggungan air, listrik, dan gas tadi lunas, dan semua barang milik pribadi Zulfikar sudah keluar. Semua sudah dipenuhi Zulfikar, namun Ghom’ah berkata lain. Uang Takmin yang ia janjikan tidak bisa dikembalikan dengan alasan pemilik rumah yang bernama Muniroh tidak mau mengembalikan uang takmin tersebut.

Dengan perasaan kesal berbalut kerugian besar, terpaksa Zulfikar harus keluar rumah itu dengan kerugian tak terkira, yaitu uang takmin tidak kembali, freezer, kulkas, dan kipas angin yang total nilainya mencapai 1500 pound masih ditahan di rumah itu, dan uang 2000 pound yang awalnya sebagai uang sewa terakhir selama dua pekan kedepan harus terusir menjadi  hanya tiga hari saja untuk membersihkan rumah dan mengosongkan dari barang barang Zulfikar. Ditambah lagi Zulfikar diminta untuk segera melunasi sisa pembayaran uang air dan untuk kebutuhan pembersihan kecoa tadi senilai 3000 pound.

Puncaknya, dua hari setelah Zulfikar pindah rumah ke Darosah, Ghomah kembali menghubungi Zulfikar untuk menagih uang pembersihan kecoak dan sisa tagihan air tadi. Terjadi adu mulut via telpon, dan Zulfikar berjanji akan menyebarkan kebejatan Ghom’ah dengan pemerasan dan penipuan struktural ini kepada semua media Masisir yang ada.

Ghom’ah terdengar ketakutan melihat ancaman itu dan menurunkan tagihan pembersihan kecoa tadi menjadi 2000 pound. Namun Zulfikar tetap tidak akan memenuhi tagihan ini. Ia merasa sudah ditipu dengan total kerugian uang takmin 4500 pon yang tidak kembali padahal sudah dijanjikan akan kembali, uang 3000 pound yang katanya untuk membayar kebutuhan listrik dan gas tobi’i padahal Zulfikar sudah membayar setiap bulan, dan barang miliknya berupa Freezer, dua buah kipas angin dan juga kulkas masih ditahan di rumahnya jika tidak membayar uang pembersih kecoa tadi. Dengan ini total kerugian yang ditanggung Zulfikar berserta kawan-kawan mencapai 10.000 pound.

Kantor Gom’ah berada tepat di depan Markaz Nile di kawasan distrik Sabi. Setidaknya ada dua simsar yang bermasalah dan layak untuk di-blacklist. Namanya Gom’ah dan Abdussattar.

Editor: Muhammad Adisurya Pahlawan

Comment

Berita Lainnya