Cermin Berkabut di Ambang Panggung Terakhir
Oleh: Muhammad Neil Awthar Fattah
Banyak orang menganggap Wisuda PPMI Mesir sebagai puncak perayaan akademik bagi orang-orang yang konon katanya azhari, semacam momen sakral yang setiap tahun wajib hadir tanpa perlu dipertanyakan. Bagi sebagian besar mahasiswa baru, kata “kepanitiaan” bahkan terdengar glamor, terlebih kepanitiaan Wisuda PPMI Mesir yang tampak amat menggiurkan. Ada yang membayangkan rapat terstruktur, koordinasi strategis, dan kerja-kerja yang tertib. Namun, seperti halnya banyak tradisi di lingkungan kita, apa yang tampak di panggung jarang mencerminkan apa yang di belakang tirai.
Pertanyaan paling dasar justru jarang ditanyakan “Apa sebenarnya hakikat wisuda ini?” Dalam Ilmu Mantiq dikatakan “Penilaian hanya mungkin jika kita benar-benar memahami objek yang kita nilai.” Lalu, pertanyaan berikutnya adalah Wisuda PPMI Mesir ingin kita nilai sebagai apa? Apakah panggung kehormatan itu benar-benar menjadi ajang penghargaan bagi prestasi akademik atau sekadar formalitas untuk memproduksi keramaian supaya PPMI Mesir terlihat hidup?
Belakangan, banyak dari kita mengeluh tentang kultur organisasi dan kepanitiaan yang seharusnya menghidupi Mahasiswa al-Azhar, sementara halakah-halakah kecil hidup dan diskusi keilmuan tumbuh di pojok-pojok apartemen tua. PPMI Mesir sebagai organisasi induk justru sering berdiri sebagai pengamat yang kebingungan menafsirkan perannya sendiri. Panitia wisuda kerap menjadi cermin yang memantulkan realitas itu. Rapat yang seharusnya menjadi ruang pengambilan keputusan berubah menjadi ritual panjang tanpa tujuan. Foto dan video yang tersebar lebih banyak menampilkan gelas-gelas kopi, ketawa-ketiwi tiada henti, berkumpul bersama lawan jenis hingga malam hari. Rapat yang seharusnya produktif berubah menjadi semacam ajang nongkrong versi sedikit lebih formal. Yang lebih menggelitik, sebagian panitia bahkan menjadikan kesibukan acara sebagai alasan yang sah untuk menyingkirkan kuliah dan talaki. Seolah identitas sebagai pelajar ilmu syari bisa “dijeda” sampai panggung selesai dibongkar. Ada yang berkata bahwa menjadi panitia adalah bentuk pengabdian. Namun pengabdian macam apa yang mengikis kewajiban sebagai penuntut ilmu? Bila identitas itu hilang, jabatan panitia sebesar apa pun tidak akan menambah nilai apapun dalam diri seseorang.
Sorotan lain datang dari persoalan interaksi antar panitia. Keluhan soal batas-batas yang semakin longgar terdengar dari berbagai penjuru. Ada yang menyindir bahwa kepanitiaan berubah menjadi pintu pertemuan yang tidak perlu, dan kadang malah menjadi ruang pendekatan antar lawan jenis yang tidak selaras dengan etika seorang azhari. Bilamana simpul perayaan yang diharapkan menjadi ruang syukur dan penghormatan justru membuka peluang lalai, kita seharusnya bertanya apakah agenda besar ini benar-benar masih memelihara muruah al-Azhar? Di saat yang sama, banyak panitia merasa sudah bekerja keras. Ada yang mengeluarkan uang pribadi, ada yang rela tidak tidur. Tetapi, pertanyaannya tetap sama, Kerja keras untuk apa? Untuk nilai organisasi atau untuk ilusi kemeriahan? Untuk kemanfaatan bersama atau sekadar menghidupkan panggung sesaat?
Fenomena ini mengingatkan pada kritik Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves to Death “Masyarakat bisa rusak bukan semena-mena karena ditekan, akan tetapi karena teralihkan oleh hiburan yang tanpa sadar menggerogoti fokus”. Konteksnya berbeda, tetapi relevansinya sama. PPMI Mesir terlalu sibuk mengesankan diri. Kultur dokumentasi lebih hidup daripada kultur kerja. Foto rapat di kafe dan berita acara yang memenuhi kolom status Whatsapp menjadi bukti prestasi, bukan keputusan atau hasil kerja. Dalam konteks kepanitiaan wisuda, hal yang sama terulang. Ramai di luar, tetapi kosong di dalam. Padahal bila kita kembali pada nilai dasar, wisuda seharusnya menjadi momentum berharga untuk menghormati pencapaian ilmu dan mengingatkan semua pihak pada tujuan awal datang ke Mesir. Perayaan wisuda itu boleh saja dibangun di atas panggung penuh kilau asal jangan menjadi laboratorium untuk menumbuhkan budaya organisasi yang melenceng. Momen berharga itu seharusnya menjadi ruang untuk mengembalikan kompas PPMI Mesir, bukan malah membuat kita makin jauh dari titik awal.
Sebagai generasi yang hidup di pusat ilmu yang di mana jutaan pasang mata tertuju pada kita, seharusnya para panitia menyadari bahwa muruah seorang pelajar diukur dari seberapa kuat ilmunya menuntun tindakannya. Ini yang sering hilang. Jika kepanitiaan wisuda tetap berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya mencurahkan energi untuk mengejar dekorasi dan tepuk tangan, bukan kepada substansi nilai dan keberkahan, siklusnya tidak akan berhenti. Kepanitiaan boleh berganti-ganti kepengurusan, tetapi kalau cara berpikirnya tetap berputar pada lingkaran yang sama, bukankah itu namanya hanya memodifikasi wajah saja? Setiap tahun akan terulang cerita yang sama. Panitia sibuk tanpa arah, acara meriah tak bermakna, dan nilai PPMI Mesir semakin tipis di hadapan realitas.
Solusinya bukan membubarkan acara, bukan pula membabi buta menyalahkan seluruh panitia, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk kembali ke awal. Panitia sepatutnya dibangun atas dasar kesadaran, tidak karena gengsi. Rapat harus berjalan secukupnya, bukan malah sepanjang hari tanpa keputusan. Relasi antar anggota harus tetap dalam batas adab. Waktu belajar tidak boleh dikorbankan demi acara. Acara kehormatan itu harus dikembalikan menjadi ruang hormat kepada ilmu dan bukan menjadi ajang kompetisi pencitraan dan gengsi.
Kalaulah para panitia dan pemangku jabatan berani merapikan kembali arah langkahnya, wajah wisuda tahun ini mungkin berubah. Gemerlapnya sama besar, bahkan lebih berkilau. Akan tetapi isi dan maknanya pasti jauh lebih terasa. Pada titik itu, jati diri PPMI Mesir tidak lagi akan bergantung pada baliho-baliho atau panggung-panggung megah, akan tetapi pada cara orang-orang di balik layar yang menjaga adab kerja mereka. Sehingga bukan tidak mungkin agenda-agenda PPMI Mesir termasuk wisuda, bukan hanya mendapat kesuksesan, tetapi termasuk di dalamnya keberkahan.
Barangkali dari ruang kecil bernama kepanitiaan wisuda inilah perubahan besar dan reformasi budaya organisasi di lingkungan kita bisa berjalan. Dari cara rapat yang disederhanakan, dari waktu belajar yang tidak dikorbankan, dari interaksi yang dijaga, dan dari nilai yang ditaruh lebih tinggi daripada dekorasi acara.
*Tulisan ini adalah tulisan terbaik 2 dalam rangka Lomba Opini Anniversary ke-32 Informatika Mesir
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




