Seminar Ilmiah ATM Sadarkan Penggunaan Ilmu Mantik dalam Keseharian
Informatikamesir.net, Kairo – ATM (Akedemi Tarsikh Manthiq) menggelar Seminar Ilmiah Seputar Manthiq sebagai pemahaman peran ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari pada Sabtu (22/11) di Sahah Qazzaz, Gamalia yang dihadiri banyak peserta dari lintas jurusan dan tingkatan.
Agung Saputro, Lc., selaku pemateri sekaligus guru di bidang ilmu aqliat dan lugawiat menguraikan dari awal makna ilmu itu sendiri—metodologi ilmu mantik, dasar-dasarnya, hubungan dengan disiplin ilmu lain, hingga cara mempelajarinya secara tadaruji (red: bertahap) dan berkesinambungan.
Menurut Agung, penggunaan sehari-hari mantik itu di mana kita bisa mempertanggungjawabkan setiap pernyataan—baik dalam ranah tasawur maupun tasdiq. Ia mencontohkan bagaimana kesalahan memahami konteks sering memantik respons berlebihan di masyarakat.
“Seperti kalimat ‘Tuhan telah membusuk’”, ujar Agung memberi contoh, “Biasanya orang-orang yang membacanya langsung sensitif, marah-marah. Padahal maksud di dalamnya hanyalah mengejek beberapa oknum jelek yang suka membawa-bawa agama, ya maknanya juz’i (red: sebagian), tetapi redaksinya kulli (red: menyeluruh). Di situlah salah satu ilmu mantik bekerja. Jadi untuk meredam respons berlebihan manusia seperti ini, banyak-banyaklah belajar.”
Untuk lebih menekan pentingnya mendalami ilmu, Agung juga mengingatkan para thullab jangan bertaqlid tanpa pemahaman. “Kalian yang terlahir islam dengan mazhab Asyariah akan terbuka matanya saat belajar muktazilah, karena kalian tidak mempelajari dengan baik mazhab kalian sendiri, hati-hati bisa penyimpangan akidah,” tegas Agung.
Agung juga menjelaskan perbedaan antara orang awam dan orang berilmu dalam menyikapi informasi. “Kenapa orang awam gampang terombang-ambing dengan informasi? Karena mereka mudah mendapat ilmu tanpa mendalaminya, berbeda dengan orang berilmu yaitu kita yang mendalami satu ilmu dalam banyak waktu,” jelas Agung.
Seminar yang berlangsung lebih dari 4 jam pun berakhir dengan penekanan bahwa belajar mantik sebenarnya tidak bisa secara instan seperti seminar ini. “Siapapun sangat bisa menjelaskan mantik hanya dalam satu pertemuan (menjadi guru), tapi murid tidak dengan cara itu belajarnya, melainkan butuh waktu untuk menjadi seperti gurunya. Bukan pula dengan mendapat talkhisan (red: ringkasan) itu hanya menunjukkan kealiman seorang guru, bukan membuat muridnya sealim gurunya,” tutup Agung.
Dalam sesi wawancara, Fahmi Afandi selaku Direktur ATM menjelaskan, “Dahulu sangat sedikit majelis yang membahas ilmu aqliat. Baru sekarang mulai banyak, salah satunya karena kontribusi besar Ustaz Agung. Dari situlah ATM terbentuk untuk mengader dan memberikan pemahaman mantik secara benar.”
Moderator juga mengingatkan agar jangan banyak berdebat dengan orang lain, melainkan carilah guru untuk menunjang kembali ilmu sampai tingkat muntahi (red: lanjutan).
Reporter : Iffah Mufidah Al-Maulidyah
Editor: Muhammad Saladin Ghaza Al Arsyad
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini



