Fenomena Begadang Masisir; Ketika Subuh Bergeser ke Duha
Informatikamesir.net, Kairo – Ada satu budaya yang hampir tak terelakkan bagi Masisir: begadang. Bukan sekadar fenomena menjelang ujian, melainkan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Memasuki musim dingin, waktu salat subuh yang terus mundur hingga pukul lima sering dianggap sebagai ”bonus waktu” untuk menunda tidur. Tak sedikit mahasiswa yang berpikir masih ada banyak malam tersisa, padahal tanpa sadar mereka tetap terjaga sampai azan subuh terdengar. Tidur lebih awal pun akhirnya hanya jadi wacana.
Menariknya, malam di Mesir itu terasa jauh lebih hidup, bahkan ketika udara sedang menusuk dingin. Jalanan masih dipadati kendaraan, pasar tetap buka, lampu toko menyala terang, sementara kafe-kafe ramai dengan obrolan orang-orang. Suasana seperti itu membuat siapa saja betah berlama-lama di luar rumah. Waktu tidur pun akhirnya terus bergeser semakin larut.
Aktivitas Saat Begadang
Begadang di kalangan Masisir memiliki beragam bentuk. Ada yang menghabiskan waktu dengan bermain gim seperti Mobile Legends, PUBG, eFootball, Roblox, hingga Genshin Impact. Sebagian lagi larut menatap layar ponsel berjam-jam, berselancar di media sosial, atau menonton film tanpa henti. Tak sedikit pula yang memilih nongkrong di ashob sambil menikmati aneka jus, duduk di kafe dengan secangkir teh atau kopi, rapat organisasi mahasiswa, atau sekadar berbincang santai di rumah. Hanya sebagian kecil yang memanfaatkan malam untuk belajar atau mengaji, itu pun dengan konsistensi yang tak selalu terjaga.
Jika di Indonesia sebagian mahasiswa masih terbiasa tidur lebih awal, di Mesir budaya itu tergerus oleh ritme kehidupan kota. Malam terlalu hidup untuk dilewatkan dengan tidur, sementara pagi justru terasa ‘mati’. Banyak toko tutup, jalanan lengang, dan suasana sekitar asrama senyap. Tak heran jika mahasiswa pun akhirnya mengikuti pola masyarakat lokal.
Dampak Buruk yang Terlihat
Dampaknya jelas. Ibadah subuh sering kali menjadi korban. Tak sedikit mahasiswa yang melewatkan subuh berjamaah di masjid, bahkan ada yang baru bangun pukul delapan atau sembilan pagi—padahal itu sudah masuk waktu duha.
Selain itu, tidur setelah subuh hingga menjelang siang membuat produktivitas menurun. Padahal, menurut banyak penelitian, otak manusia berada dalam kondisi paling segar pada pagi hari. Justru di saat itulah belajar dan menghafal Al-Quran bisa lebih efektif. Akibatnya, banyak mahasiswa kehilangan jam emas untuk mengaji, belajar, atau mengerjakan tugas.
Dampak lain terlihat di bangku kuliah. Perkuliahan di Al-Azhar umumnya dimulai pukul delapan pagi. Namun, tak sedikit mahasiswa yang absen karena masih terlelap. Kalaupun hadir, kondisi fisik lelah dan mengantuk membuat sulit berkonsentrasi. Dalam jangka panjang, hal ini tentu mengurangi kualitas proses belajar.
Apakah Ada Sisi Positifnya?
Jika ditanya soal sisi positif, mungkin ada yang berpendapat bahwa malam hari memberi ruang tenang untuk belajar atau menghafal, terutama ketika suasana sudah lebih sepi. Namun, kenyataannya tidak banyak mahasiswa yang benar-benar konsisten memanfaatkan waktu malam untuk produktivitas akademik. Lebih sering, begadang hanya berujung pada hiburan semata, bukan peningkatan kualitas diri.
Refleksi: Mengatur Prioritas
Begadang pada dasarnya bukan hal yang salah, asalkan ada alasan jelas dan dilakukan sesekali. Misalnya saat ada tugas mendesak, rapat organisasi, atau kegiatan akademik tertentu. Tetapi, jika sudah menjadi rutinitas tanpa kendali, ia bisa menjebak mahasiswa dalam lingkaran: kurang tidur, telat ibadah, dan menurunnya produktivitas.
Sebagai mahasiswa perantau yang membawa amanah ilmu dan harapan keluarga, sudah selayaknya kita menata kembali pola hidup. Tidur lebih awal bukan berarti ketinggalan pergaulan, melainkan bagian dari manajemen waktu. Prioritasnya jelas: menjaga ibadah, kesehatan, dan kualitas belajar. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita ikut arus begadang ala Mesir? Atau justru sudah saatnya masisir membangun arus baru—menjadikan malam untuk istirahat, subuh sebagai awal hari, dan pagi sebagai puncak produktivitas?
Pada akhirnya, fenomena begadang ini seringkali muncul bukan karena kebutuhan, tetapi karena pengaruh lingkungan. Berhati-hatilah memilih teman ataupun senior masisir yang ingin dijadikan panutan. Tidak semua yang dilakukan senior itu benar dan tidak semua kebiasaan yang dianggap “biasa” itu baik untuk diikuti. Pegang prinsip, jaga diri, dan pilih lingkungan yang membawa pada kebaikan dan produktivitas!
Penulis: Fahdi Hishnuddin Rantisi
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




