Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Respons Tak Berarah: Mengulik Pembelaan Almamater Olympiad atas Kritik Adiaramu Lingga Sastra

Respons Tak Berarah: Mengulik Pembelaan Almamater Olympiad atas Kritik Adiaramu Lingga Sastra

Tulisan ini saya hadirkan sebagai respons atas tulisan bantahan berjudul “Hiperbola Tanda Tak Dalam” oleh saudara Haekal Afriadi terkait kritik Adiaramu Lingga Sastra terhadap Almamater Olympiad beberapa waktu lalu. Hal ini saya rasa perlu bukan untuk memperpanjang polemik, melainkan demi mengembalikan arah diskusi agar tetap berada pada substansi yang sejak awal dipersoalkan. Jika dicermati dengan saksama, terdapat kecenderungan dalam tulisan bantahan tersebut untuk menggeser fokus pembahasan dari isu utama menuju hal-hal yang bersifat periferal, bahkan dalam beberapa bagian beralih ke penilaian personal. Padahal jika kembali ke titik awal, kritik yang disampaikan Adiaramu berdiri di atas satu pertanyaan sederhana, apakah penghargaan yang diberikan dalam Almamater Olympiad sudah proporsional dengan skala dan pengemasan kegiatan tersebut?

Pertanyaan ini tidak pernah dijawab secara langsung. Sebaliknya, bantahan yang muncul justru banyak menekankan bahwa kegiatan ini sejak awal diniatkan sebagai “ajang silaturahmi”, bukan kompetisi ambisius. Di sini letak pergeseran pertama yang perlu dicermati. 

Benar bahwa silaturahmi merupakan nilai luhur yang perlu dibangun. Namun, menjadi problematis ketika narasi tersebut digunakan untuk meniadakan dimensi lain yang secara faktual hadir dalam kegiatan tersebut. Pada kenyataannya, Almamater Olympiad tidak diselenggarakan dalam format pertemuan biasa, melainkan dalam bentuk kompetisi yang lengkap. Di dalamnya terdapat berbagai cabang lomba, sistem pertandingan, penentuan juara, hingga pemberian penghargaan. Dalam kondisi seperti ini, menempatkan kegiatan semata-mata sebagai ajang silaturahmi tanpa mengakui konsekuensi kompetitifnya justru menimbulkan inkonsistensi secara konseptual.

Pada dasarnya, silaturahmi dan kompetisi bukan dua hal yang saling meniadakan. Tetapi ketika kompetisi sudah dipilih sebagai medium, maka standar-standar yang melekat padanya tidak dapat diabaikan begitu saja. Dengan kata lain, kritik terhadap aspek penghargaan tidak serta-merta bertentangan dengan semangat silaturahmi. Justru kritik tersebut muncul karena adanya dimensi kompetisi yang nyata dan dialami oleh para peserta.

Lebih jauh lagi, bantahan tersebut juga mengajukan argumen bahwa “tidak ada janji besaran hadiah di awal” sehingga ekspektasi yang muncul dianggap tak berdasar. Pernyataan ini sekilas tampak logis. Namun jika hal tersebut ditelaah lebih dalam, justru menyisakan persoalan yang belum selesai.

Perlu diketahui, bahwa dalam praktik sosial, ekspektasi tidak selalu lahir dari janji eksplisit, tetapi juga dapat terbentuk dari konteks bagaimana skala kegiatan, cara pengemasan, intensitas publikasi, hingga keseriusan penyelenggaraan. Ketika sebuah acara dikemas secara besar-besaran, melibatkan puluhan almamater, menghadirkan pembukaan dan penutupan yang megah, bahkan sampai memungut biaya partisipasi, terbentuknya standar tertentu di benak peserta adalah sesuatu yang tak terhindari. Pun demikian, dalam konteks ini. 

Persoalan yang diangkat oleh Adiaramu bukanlah soal “janji yang dilanggar”, melainkan soal ketidaksesuaian antara ekspektasi yang terbangun dengan realitas yang diterima, khususnya dalam hal penghargaan. Menjawab kritik tersebut dengan mengatakan “tidak ada janji di awal” justru terkesan menyederhanakan persoalan seolah-olah dimensi kepantasan dapat sepenuhnya dilepaskan dari tanggungjawab penyelenggara. Padahal, itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di sinilah letak inti diskusinya, apakah kepantasan itu dipertimbangkan secara memadai sejak awal perencanaan, atau sebaliknya?

Menariknya dalam bagian lain, bantahan tersebut juga mengakui bahwa kecilnya hadiah merupakan kekurangan dalam aspek pendanaan. Pengakuan ini sebenarnya membuka ruang refleksi yang penting. Namun sayangnya, hal itu tidak dilanjutkan dengan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai bagaimana kondisi tersebut terjadi atau bagaimana proporsi anggaran secara keseluruhan dialokasikan.

Di titik ini, muncul satu pertanyaan yang justru semakin menguat. Jika keterbatasan hadiah memang diakui sebagai kekurangan, sejauh mana hal tersebut diantisipasi dalam desain kegiatan? Apakah skala kegiatan yang besar bahkan dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya cabang lomba tetap dipaksakan meskipun konsekuensi terhadap kualitas penghargaan belum sepenuhnya siap? Apakah memang terdapat prioritas lain yang secara tidak langsung menempatkan aspek penghargaan di posisi terbelakang?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, tetapi untuk menunjukkan bahwa persoalan yang diangkat tidak sesederhana “ekspektasi yang berlebihan” sebagaimana yang digambarkan dalam bantahan. 

Lebih lanjut, penggunaan istilah seperti “eksploitasi” dalam kritik Adiaramu juga mendapat sorotan sebagai bentuk hiperbola. Namun jika diperhatikan secara utuh, istilah tersebut disampaikan dalam bentuk kemungkinan (jangan-jangan) yang menunjukkan adanya kecurigaan, bukan tuduhan definitif. Alih-alih membedah kecurigaan tersebut, bantahan justru lebih berfokus pada cara penyampaian. Ini kembali menunjukkan adanya pergeseran dari substansi menuju gaya, dari isi menuju ekspresi. Padahal dalam diskursus yang sehat, di antara hal yang lebih penting untuk diuji adalah apakah kecurigaan itu memiliki dasar yang layak untuk dipertimbangkan, bukan sekadar bagaimana ia diungkapkan.

Hal lain yang juga patut dicermati adalah kecenderungan dalam bantahan untuk memasukkan penilaian subjektif terhadap pribadi penulis kritik. Frasa-frasa seperti kedangkalan, terbawa perasaan, hingga penggambaran yang bernada merendahkan tidak memberikan kontribusi berarti terhadap penguatan argumen. Sebaliknya, hal tersebut justru berpotensi melemahkan posisi bantahan itu sendiri karena mengalihkan diskusi dari ranah argumentatif ke ranah personal, terlebih-lebih ketika menggiring pemahaman publik seolah-olah semua itu hanyalah berasal dari pribadi atau perasaan Adiaramu sendiri.

Ini yang sungguh fatal. Padahal, Adiaramu di sini tidak berdiri sendiri, tetapi bahkan merupakan representasi dari keresahan para peserta lomba yang mendapati ketidaksesuaian euforia yang dihadirkan dengan penghargaan yang diberikan. Saya juga mendorong penyadaran terhadap penghargaan bakat seseorang. Pun itu adalah posisi yang sah dalam ruang publik dan seharusnya dijawab dengan argumentasi yang setara, bukan dengan penilaian terhadap motif atau karakter yang bahkan disimpulkan dengan sembrono. 

Pun tindakan menggelikan ketika penulis bantahan mem-framing seolah-olah Adiaramu telah melakukan sikap tak patut dengan menyertakan screenshot-an kolom komentar tanpa konteks sesungguhnya. Padahal, di situ Adiaramu sedang merespons seseorang yang menyatakan media Bedug telah memuat opini yang nyeleneh dan kosong dari seorang penulis serta bernada cemoohan. Ini sangat memalukan. Kalau mau, kami juga bisa, tapi kami tidak serendah itu. Ihtarim nafsak!

Terakhir, ada satu aspek yang menurut saya justru paling krusial namun sengaja tidak disentuh dalam bantahan tersebut, yaitu soal transparansi. Ketika sebuah kegiatan melibatkan kontribusi dana dari banyak pihak dengan skala partisipasi yang luas, pertanyaan mengenai pengelolaan anggaran menjadi sesuatu yang wajar. Transparansi bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan bagian dari akuntabilitas yang justru memperkuat legitimasi penyelenggara. Tabik!

Penulis: Zia Raihan Al-Hafiz

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad