Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Menjaga Tradisi, Memegang Nilai,
Menak
ar Batas : Menakar Batas Kebudayaan Seni Tari di Lingkungan Pelajar Muslim

Menjaga Tradisi, Memegang Nilai,
Menak
ar Batas : Menakar Batas Kebudayaan Seni Tari di Lingkungan Pelajar Muslim

Di ruang-ruang latihan sekolah, pemandangan ini kerap berulang. Sekelompok pelajar muslim tampak tekun melatih gerakan tari tradisional untuk pementasan seni atau perlombaan. Namun, dibalik antusias dan keindahan ayunan tangan serta pola lantai, perdebatan klasik sering muncul di ruang guru maupun dan diantara siswa. “Apakah busana tari ini cukup santun? Apakah lekuk geraknya tidak melanggar norma kesopanan? Haruskah kesenian tradisional seperti tari dikorbankan demi menjaga nilai keagamaan?”

Dilema ini menempatkan seni tari dan identitas keislaman di lingkungan pelajar muslim seolah berada dalam dua hal yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, ada semangat melestarikan dan menjaga warisan budaya luhur bangsa. Di sisi lain, terdapat tanggung jawab moral untuk memegang teguh kaidah-kaidah syariat dan etika berbusana. Namun, apakah kita akan selalu memandang keduanya sebagai dua hal yang bertentangan dan tidak bisa digabungkan?

Seni sebagai Warisan, Islam sebagai Tuntunan

Dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, seni pertunjukan termasuk seni tari bukanlah musuh bagi agama. Para pendahulu dan penyebar Islam di tanah air menggunakan artikulasi budaya sebagai media dakwah, pencerahan, dan perekat sosial. Sebagaiman kita berkaca kepada sejarah wali songo yang mana mereka memanfaatkan kebudayaan yang ada sebagai sarana dan media dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman. Begitu juga dengan tarian seperti Tari Saman dan Ratoh Jaroe dari Aceh, atau Tari Zapin dari Melayu, adalah bukti nyata bagaimana kesenian gerak dan syair dapat menyatu secara harmonis dengan nilai-nilai tauhid dan pesan moral. Al-Faruqi dalam bukunya “Seni Tauhid” menjelaskan bagaimana ideologi Tauhid ini mengubah wajah kebudayaan material menjadi “Kebudayaan Qur’ani” melalui bentuk-bentuk ekspresi seni yang khas. Jadi disini beliau memaknai bahwa kesenian itu harus dijiwai oleh pandangan akidah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Masalah yang muncul hari ini di lingkungan pelajar muslim kerap kali lahir akibat dikotomi yang kaku. Ketika seni dipandang secara sempit sebagai ekspresi tanpa batas, dan agama dipahami sebatas rentetan larangan dan batasan, ruang kreatif pelajar menjadi makin sempit. Padahal, yang dibutuhkan bukanlah pelarangan sepihak, melainkan proses menakar batass sebuah ikhtiar untuk membingkai ekspresi seni agar tetap terlihat estetik dan berakhlak.

Menakar Batas: Dari Busana hingga Koreografi

Menakar batas seni tari di lingkungan pelajar dalam artian sekolah ataupun kampus tidak berarti mematikan daya cipta pelajar. Sebaliknya, proses ini menuntut kreativitas yang lebih tinggi dari para koreografer muda dan pembina seni.

Pertama, Inovasi Busana dan Kostum. Banyak tarian tradisional yang secara pakem asli menggunakan kostum terbuka. Di sinilah ruang kontekstualisasi bekerja. Mulai dari modifikasi busana seperti penggunaan manset yang senada, jilbab yang terintegrasi dengan mahkota adat, atau penyesuaian potongan pakaian. Hal ini tidak serta-merta merusak keaslian budaya. Justru, ini adalah bentuk adaptasi dan improvisasi agar seni tradisi tetap hidup dan inklusif di lingkungan pelajar muslim.

Kedua, Kurasi Gerak dan Interaksi. Keindahan seni tari pada dasarnya terletak pada keharmonisan irama, ketegasan formasi, dan kedalaman penjiwaan cerita bukan pada eksploitasi gestur tubuh. Koreografi dapat dirancang dengan meminimalisasi atau meniadakan kontak fisik antar lawan jenis, serta menghindari gerakan yang berlebih secara sensual, tanpa mengurangi bobot estetika pertunjukan. Karna tidak sedikit kita melihat dari gerakan tari menimbulkan banyak sekali pro-kontra yang berkaitan dengan moral dan etika.

Ketika Pelajar Menjadi Koreografer : Mengubah Batasan Menjadi Ruang
Cipta Baru

Selama ini, perdebatan soal seni tari di sekolah sering kali menempatkan pelajar hanya sebagai penari yang pasif. Mereka sekadar mengikuti koreografi yang sudah ada, lalu mereka menilai apakah ini sesuai dengan norma yang ada atau belum. Padahal, jika kita ingin melihat seni tari tetap tumbuh dan tetap santun di lingkungan pelajar muslim, kita harus mengubah dari sudut pandangnya, pelajar harus didorong untuk menjadi pencipta karya atau koreografer muda yang memiliki ide kreatif serta tetap menjaga nilai keagamaan.

Ketika pelajar diberi kepercayaan untuk merancang tarian mereka sendiri, pandangan mereka terhadap kata “batasan” akan berubah secara drastis. Batasan etika atau aturan busana tidak lagi dianggap sebagai tembok pengekang yang membosankan, melainkan sebagai sebuah tantangan nyata untuk bisa improve dan berinovasi se kreatif mungking. Sebagai contoh, ketika mereka harus menciptakan tarian tanpa kontak fisik antar-lawan jenis atau tanpa kostum yang terbuka, pelajar diajak untuk sama-sama memikiran. Mereka dilatih mencari solusi yang cerdas, seperti memperkuat keindahan formasi kelompok, memainkan dinamika tempo, atau memanfaatkan properti tari seperti kipas, selendang, dan rabana untuk menyampaikan pesan emosional dalam pementasan.

Sudut pandang baru ini membuktikan bahwa estetika sebuah tarian tidak pernah bergantung pada lekuk tubuh yang terbuka, busana yang ketat atau gerakan yang berlebihan, melainkan pada kejelian mengolah cerita dan makna. Melalui proses ini, seni tari di sekolah berbasis Islam bertransformasi dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa menjadi ruang latihan kreatif,kepemimpinan dan olah rasa.

Pelajar muslim tidak hanya belajar bagaimana cara bergerak di atas panggung, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan nilai-nilai kebaikan, pesan sejarah, dan problematika yang ada melalui bahasa tubuh yang sesuai dengan norma dan estetik . Pada akhirnya, melatih pelajar menjadi koreografer muda adalah cara terbaik untuk melahirkan generasi yang bangga dengan identitas budayanya, sekaligus teguh memegang prinsip nilai agama yang sesuai syariat.

Mengakhiri Ego Sektoral di Sekolah dan Kampus

Agar ruang seni di lingkungan sekolah berbasis Islam dapat tumbuh secara sehat, perlulah dibangun sinergi antara pembina seni budaya dan pendidik agama Islam. Agama yang melarang secara instan tanpa memberikan alternatif solusi kreatif hanya akan memadamkan minat serta bakat pelajar terhadap menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal.

Dialog yang inklusif di lingkungan sekolah dan kampus menjadi kunci. Guru

agama maupun dosen dapat memberikan panduan nilai dan norma yang sesuai dengan syariat, sementara guru seni menerjemahkan panduan tersebut ke dalam karya pementasan yang indah dan tidak menghilangkan nilai estetika serta menjaga nilai moral dan norma agama. Ketika kedua belah pihak duduk bersama, seni tari tidak lagi dicurigai sebagai ancaman moral, melainkan diakui sebagai media pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kerja sama tim bagi peserta didik serta melestarikan apa yang telah dilakukan leluhur kita.

Penutup: Estetika yang Berakhlak

Pada akhirnya, menakar batas kebudayaan seni tari di lingkungan pelajar muslim bukanlah bentuk pengekangan kebebasan berkesenian. Ini adalah upaya mendewasakan cara kita berbudaya dan beragama serta berimprovisasi secara seimbang tanpa mengorbankan salah satunya

Generasi muda muslim tidak perlu dipaksa memilih antara menjadi manusia yang agamis atau menjadi penikmat budaya. Dengan bingkai etis yang tepat, seni tari dan kesesuaiannya dengan syariat agama justru menjadi sarana mengasah kehalusan budi, memperjelas identitas dan ke auntetikan bangsa yang plural ini, dan membuktikan bahwa dalam keindahan gerak dan artikulasi yang susuai, ada nilai-nilai keimanan yang tetap terjaga secara sempurna.

NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.-

– Referensi penulis tidak ditampilkan, bila ingin membacanya, bisa hubungi narahubung yang tertera di BC-an pamflet Lomba Opini.

Penulis: Muhammad Raihan (Peserta Lomba Opini)

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad