Melacak Standar Ganda dan Jerat Patriarki dalam Seni Tari diKalangan Masisir
Jumat sore yang tenang mendadak menyisakan tanda tanya bagiku sebabsebuah pamflet lomba opini muncul di layar gawai, terselip di antara tumpukanpesan sebuah grup percakapan digital. Pamflet tersebut mengusung tajuk yangcukup memantik: Menakar Batas Kebudayaan Seni Tari di Lingkungan PelajarMuslim. Membaca judul itu, ada panggilan mendasar dalam dada untukmeresponsnya dengan mendaftar. Namun, sebelum saya melangkah lebih jauhmengetik poin-poin argumen, pikiran saya tertahan dan berputar pada labirinpemaknaan dari tema lomba tersebut. Saya perlu untuk mendudukkan terlebihdahulu tema dari lomba opini ini.
Menurut Herbert Read dalam The Meaning of Art (1931), “seni tari”adalah ekspresi estetika gerak tubuh universal manusia untuk merayakan rasakemanusiaan, menyalurkan intuisi artistik, dan merawat ingatan kolektif akanidentitas asalnya. Sementara itu, “lingkungan pelajar muslim”, jika meminjamkerangka sosiologis Peter L. Berger dalam The Sacred Canopy (1967), merupakansebuah ekosistem normatif pelajar muslim yang senantiasa membangun ruangbatas demi menjaga kesalehan dan keteraturan moral komunitasnya. Berangkatdari dua kerangka teoretis ini, saya dapat dengan mudah menyimpulkan bahwakomunitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) merupakan bagian takterpisahkan dari kategori pelajar muslim yang dimaksud dalam konteks tersebut.
Masisir sebagai sebuah entitas sosial di tanah rantau, hidup dalamhimpitan identitas yang bertumpuk dan berkelindan; mereka adalah warga negaraIndonesia, kaum diaspora global, sekaligus penuntut ilmu keislaman yang melekatdengan identitas Azhari. Sebagai masyarakat Indonesia dan bagian dari diaspora, ada panggilan nurani dan beban moral yang melekat untuk bangga, mengenalkan, serta melestarikan kekayaan budaya Nusantara di kancah internasional. Panggilankultural ini mengejawantah secara nyata dalam pelbagai agenda tahunan, mulaidari malam pertukaran kebudayaan bentukan KBRI Kairo di Ismailiyah, perayaanseremonial di internal organisasi Masisir, hingga peringatan hari ulang tahun ditiap-tiap organisasi kekeluargaan daerah.
Di panggung-panggung inilah, pementasan seni tari dibawakan secaraantusias oleh para mahasiswa yang sedang studi di institusi Al-Azhar, baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana seni tari pada umumnya dibawakan diruang-ruang kebudayaan mana pun. Alunan musik tradisional yang ditabuh dariinstrumen seadanya berpadu dengan hentakan ritmis Tari Saman yang rapat, keanggunan gerak Tari Remo yang bersahaja, hingga pelbagai kreasi gerakNusantara yang dibawakan dengan mata berbinar oleh para pelajar memang selaluberhasil meruntuhkan jarak ribuan kilometer antara Kairo dan kampung halamandalam satu gerak tari.
Namun, di balik kemeriahan panggung yang melibatkan partisipasi lintasgender tersebut, ada satu hal ganjil yang patut kita soroti secara tajam: begitu tiraipanggung diturunkan dan lampu sorot dipadamkan, grup-grup percakapan digitalseketika berubah wujud menjadi ruang pengadilan moral yang pincang dan penuhcuriga. Pasalnya, ketika yang menari itu laki-laki (mahasiswa), hal tersebutdianggap sah-sah saja, wajar, dan dipuja sebagai bentuk kreativitas maskulin, tetapi kalau yang menari itu perempuan (mahasiswi), masih ada banyak sebagiandari kita yang mengecamnya di balik tirai-tirai kesunyian. Kontras perilaku initelah lama menjadi rahasia umum yang hidup dalam tengah-tengah kehidupanperantauan kita di bumi Kinanah.
Ketika mahasiswa laki-laki tampil dari panggung membawakan sebuahtarian, mereka dipuji atas energi maskulin mereka, sebaliknya, para mahasiswijustru mendapati diri mereka digiring ke meja perbincangan publik dengantudingan yang jauh lebih kejam. Ada bisik-bisik tajam yang mempertanyakankepantasan tubuh mereka yang meliuk, membedah helai kain yang melekat, hingga menghakimi setiap jengkal pilihan gerak di bawah sorot lampu. Seolah- olah, gerak seni seorang perempuan adalah ancaman moral yang tak kasat mata, sementara milik laki-laki adalah kewajaran mutlak yang dimaklumi tanpa perludisoal.
Fenomena ini memaksa kita untuk menelusuri akar kecemasan yang kerapdisembunyikan di balik jubah moralitas kolektif. Mengapa ekspresi seni yangbersumber dari akar budaya yang sama bisa melahirkan dua perlakuan yang begitubertolak belakang ketika melibatkan subjek yang berbeda jenis kelamin? Pertanyaan ini menuntut kejujuran nalar yang merdeka dari kita semua sebagai
Beban psikologis dan kultural ini terasa semakin berlapis karena para
mahasiswi tersebut menuntut ilmu di lembaga keislaman tertua yang menuntut
citra penjagaan moral yang ketat di ruang publik, misalnya, mahasiswi dituntut
berpakaian yang tertutup dan sopan, sekadar memakai celana yang longgar pun
masih ada mata-mata yang sewot dan julid. Sementara di sisi lain, mereka juga
memikul identitas alternatif sebagai warga negara Indonesia yang memiliki
panggilan nurani untuk mengenalkan, merawat, dan melestarikan kekayaan
budayanya di kancah global. Ketegangan identitas ganda ini mencerminkan
dinamika kaum diaspora yang di satu sisi harus menjaga marwah keagamaan, tetapi di sisi lain berkeinginan kuat merawat akar kebangsaan.
Ironisnya, ketika narasi besar tentang mengenalkan budaya Nusantara di
kancah dunia didengungkan dengan penuh semangat kebangsaan, begitu gagasan
yang sama dibawa masuk ke dalam ekosistem diaspora pelajar agama di Mesir, ia
mendadak berbenturan dengan tembok kecurigaan yang tebal dan kaku. Hal yang
di luar sana dianggap sebagai kebanggaan kultural yang universal, di dalam
komunitas Masisir justru dipermasalahkan, diuji dengan standar moral yang
sempit, dan dicurigai sebagai celah yang mencederai kesalehan. Perbandingan
kontras ini menelanjangi betapa komunitas pelajar agama sering kali mengalami
ketakutan struktural yang akut ketika berhadapan dengan ekspresi estetika tubuh
manusia, khususnya tubuh perempuan yang selalu diletakkan dalam posisi paling
rentan terhadap penghakiman.
Kondisi yang terus berulang dari tahun ke tahun ini menyisakan sebuah
keresahan yang mendalam dan menyesakkan di dalam dada, sebuah beban
psikologis yang dirasakan oleh siapa saja yang merindukan ruang komunitas yang
lebih bernapas dan beradab. Sampai kapan panggung kebudayaan kita di tanah
rantau harus berjalan pincang di atas kecemasan-kecemasan semu yang tidak
berkesudahan?
Menakar batas kebudayaan seni tari di lingkungan pelajar muslim
seharusnya bukan soal mencari-cari celah untuk menghakimi, melarang secara
sewenang-wenang, atau melanggengkan prasangka buruk terhadap perempuan
yang notabene merupakan bagian dari diri kita sendiri dalam membangun
peradaban diaspora. Sebab, kita terus memelihara standar ganda ini dan membiarkan ketakutan-ketakutan sempit itu mendikte nalar kolektif kita, panggung-panggung seni tari di Mesir lambat laun akan bertransformasi menjadi
Sudah saatnya kita merumuskan kembali kewarasan identitas kita dengankepala dingin dan hati yang jernih tanpa harus terseret oleh arus prasangka yangdestruktif. Bahwa merawat budaya bangsa, menjaga etika keagamaan yang luhur, dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berekspresi secara bermartabatbukanlah hal-hal yang saling meniadakan atau bertentangan dalam satu ruangkehidupan. Ketiganya bisa berjalan berdampingan secara harmonis apabila kitamau melepaskan kacamata patriarki yang selama ini menyamar sebagai hukummoral yang absolut.
Menari di negeri orang bagi seorang mahasiswi bukanlah sebuah bentukpengkhianatan atas nilai-nilai kesalehan yang ia junjung dengan penuh keikhlasan, melainkan sebuah manifestasi dari keberanian kultural untuk menolak tundukpada ketakutan kolektif yang tidak beralasan dan tidak berdasar. Sudah saatnyakita belajar adil sejak dari pikiran, menghentikan standar ganda yang melelahkanini, dan membiarkan panggung-panggung seni kita bertransformasi menjadi ruangperayaan kemanusiaan yang utuh bagi siapa saja yang merayakan keindahandengan jujur.
Walakhir, menakar batas kebudayaan di lingkungan pelajar muslim diMesir adalah sebuah ujian besar bagi kesadaran kolektif kita sebagai manusiayang berpikir: apakah kita sanggup menjadi masyarakat terpelajar yang merangkulperadaban dengan kelapangan dada, ataukah kita memilih untuk tetap terjebakdalam lorong sempit ketakutan yang perlahan-lahan menggerogoti kewarasan kitasendiri.
Panggung-panggung kebudayaan di Ismailiyah dan Kairo akan terusberdiri, lampu-lampu sorot akan kembali dinyalakan di setiap kesempatan, danalunan musik tradisional akan terus memanggil kita untuk pulang secara batin ketanah air tercinta. Harapannya sangat sederhana: semoga kelak, ketika tirai dibukadan para mahasiswi melangkah ke atas panggung untuk merayakan keindahan seni budaya bangsa, mereka tidak lagi harus membawa serta rasa cemas akandihakimi oleh lidah-lidah sesama saudaranya sendiri di balik bilik-bilik gelap.
NB: Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.
Penulis: Muhammad Sahrul Mubarok (Peserta Lomba Opini)




