Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa CV Mentereng, Isi Otak Kering

CV Mentereng, Isi Otak Kering

Sumber: istimewa

Informatikamesir.net, Kairo – Banyak fenomena di kalangan mahasiswa sekarang yang gila kemasan. Mereka umumnya terobsesi menjadi manusia sejuta CV (Curriculum Vitae), yang katanya bisa membuat mereka terlihat hebat. Stigma semakin banyak CV berarti semakin hebat membuat banyak mahasiswa terjebak pada sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dengan mengoleksi berbagai sertifikat, seperti kepanitiaan, organisasi, webinar, dan lain-lain. Mereka beranggapan bahwa CV secara otomatis membuat nama mereka besar.

Padahal, yang jadi persoalan bukan banyak atau sedikitnya isi CV. Yang jadi persoalan adalah apakah semua yang ditulis di sana mencerminkan kualitas dirinya, atau cuma jadi daftar riwayat yang terlihat keren di atas kertas.

Kita tidak menafikan pentingnya CV  di dunia karir dan profesional. Kita memang butuh CV sebagai bukti dari pengalaman, prestasi, hingga keikutsertaan kita dalam kepanitiaan, organisasi, dan lain-lain. CV tersebut dapat memudahkan kita sampai di tahap screening. Tapi sadarlah bahwa CV hanyalah pintu masuk. 

Saat sudah di lapangan atau di posisi tinggi tertentu, kita bakal ditanya habis-habisan soal teknis dan juga dites tentang bagaimana pola pikir kita. Belum lagi penilaian tentang isi kepala kita saat ngomong di depan mereka. Di situ baru kelihatan apakah pengalaman yang selama ini kita kumpulkan memang membentuk kemampuan atau cuman berhenti sebagai tulisan.

Ibarat membeli HP, CV itu cuma kardus yang di luarnya estetik dan banyak tulisan fitur canggih. Namun pas kardusnya dibuka, ternyata mesin di dalamnya lemot dan rusak.

Banyak perekrut zaman sekarang di dunia kerja dan profesional tahu mana bedanya mahasiswa yang beneran mikir, kerja, dan berskill, dengan yang cuma “numpang nama” di kepanitiaan atau organisasi demi sertifikat atau tulisan riwayat. Mereka juga tahu bedanya mahasiswa yang beneran punya kapasitas dengan mahasiswa kosong yang terkamuflase dalam foto berdasi dengan balutan jas.

Karena sertifikat hanya membuktikan bahwa kita pernah ikut sesuatu, foto hanya membuktikan bahwa kita pernah hadir, dan riwayat jabatan hanya membuktikan bahwa kita pernah memegang posisi itu. Semua itu belum tentu membuktikan bahwa kita pulang membawa ilmu dan kemampuan.

Ikut organisasi, kepanitiaan, webinar, atau kegiatan apa pun sebenarnya bukan masalah. Malah bagus kalau memang kita serius di dalamnya. Namun, yang jadi masalah adalah ketika semuanya cuma dijadikan bahan untuk mempercantik CV. Setelah itu semua selesai, tidak ada yang berubah dari dirinya. Isi kepalanya tetap sama, kemampuannya tetap segitu-gitu saja.

Kalau mentalitas “malas isi otak tapi ambisius,” ini dipelihara sampai lulus, dampaknya ke depannya bisa luas, apalagi kalau sudah sampai level pemimpin. Bukan karena orang yang punya banyak sertifikat otomatis akan jadi pemimpin yang buruk. Tapi karena kebiasaan mengejar tampilan tanpa membangun kapasitas bisa terbawa ketika seseorang nantinya memegang tanggung jawab yang lebih besar.

Mahasiswa model begini yang nantinya kalau jadi pejabat akan asbun (asal bunyi) saat diwawancara. Hal itu disebabkan otaknya yang kosong dan tidak bisa berpikir kritis. Mereka hanya akan melahirkan kebijakan-kebijakan bodoh yang akan merugikan masyarakat luas karena tidak bisa menghadirkan solusi nyata. Itu adalah hasil nyata dari ambisi yang besar tapi kapasitas otak sekecil cangkir.

Masalahnya, ketika dari mahasiswa saja seseorang sudah terbiasa lebih sibuk membangun citra daripada membangun kapasitas, dia akan terbiasa mengejar pengakuan daripada kompetensi. Selama yang dilihat hanya CV, foto, jabatan, dan sertifikat, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi ketika harus berhadapan dengan persoalan nyata, baru ketahuan apa yang sebenarnya dia punya.

Pada akhirnya, mahasiswa yang cuma kejar kuantitas CV tanpa isi itu sebenarnya sedang menumpuk utang ekspektasi. Semakin mentereng CV yang ia buat, semakin banyak sertifikat yang ia kumpulkan, semakin tinggi pula ekspektasi orang terhadap dirinya. Orang akan mengira dia punya pengalaman, punya kemampuan, punya kapasitas. Namun, ketika semua itu ternyata tidak sebanding dengan kemampuan aslinya, yang bermasalah bukan cuma CV-nya, tapi dirinya.

CV yang awalnya dipakai untuk menunjukkan pengalaman malah berubah menjadi sesuatu yang harus ia pertanggungjawabkan. Karena semakin banyak yang ia klaim pernah dilakukan, semakin banyak pula yang suatu hari bisa ditanyakan kepadanya. Sebenarnya, tidak ada salahnya punya CV yang panjang. Tidak ada salahnya aktif organisasi, ikut kepanitiaan, ikut seminar, atau mengumpulkan sertifikat. Tapi jangan sampai kita sibuk membangun kemasan sampai lupa mengisi kualitas yang ada di dalamnya.

Kalau CV-nya mentereng tapi isi kepalanya kosong, buat apa?

Penulis: Maujihan al-Maghfur

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad