Alergi
musim semi alergi serbuk sari, hacuh!
musim pemilu alergi suara mandiri, haduh!
gagah kampanye bermanis lidah,
gagap dikritik megap-megap memerah.
rekah sumringah kala dipuja bak mahadewa,
meringsut pengecut kala ditegur— bukan dihina!
wahai yang duduk di mimbar sana!
mulutmu saja tak selayak miliknya raja,
yang rapi dijaga,yang elok ditata,
yang enak didengar,yang kuat menguar,
alangkah teruklah lalu,
waktu salah ucap enggan kau mengaku,
malah kau tuju pada suara yang padu,
membunuhnya agar mati membisu.
hey, engkau ini calon penguasa!
entah sekarang juga atau buat esok lusa.
jika kemarin hari sudah berani kau bungkam bunyi,
entah bagaimana kebebasan nyanyi kita nanti.
hey, kami ini riak yang merdeka!
berani mewarta yang nyata adanya,
bagi kami sederhana saja,
jurnalis penjaga citra,
tak lain dari bajingan istana.
Penulis: Firaz Adinata





