Amanat Kepemimpinan yang Tersaji dalam Attack on Titan dan Refleksinya
Attack on Titan (AoT) adalah serial fenomenal asal Jepang karya Hajime Isayama. Kisah bergenre aksi-fantasi ini terdiri dari empat musim anime, sementara versi manganya telah tamat pada 2021 dan animenya berakhir pada 2023. Berlatar belakang kehidupan manusia yang menghadapi ancaman titan atau raksasa pemakan manusia. Akibatnya, peradaban manusia dikelilingi oleh tembok besar yang memisahkannya dari dunia luar. AoT juga dikenal dengan alur yang penuh kejutan dan berbagai plot twist yang membuat ceritanya sulit ditebak.
Alur cerita yang menggambarkan perlawanan antara umat manusia dengan titan tak jarang menyorot kebijaksanaan para tokoh pemimpin di dalam serial tersebut. Pada musim Pertama, Dot Pixis, komandan militer Distrik Throst menunjukkan betapa keputusan pemimpin sangat menentukan hasil.
Di hadapan seluruh masyarakat Distrik Throst, Pixis meredakan kepanikan dan menyampaikan ide gilanya dengan memerintahkan Eren Yeager—salah satu prajurit militer yang memiliki kemampuan berubah menjadi titan—untuk memindahkan batu besar ke tembok Distrik Throst yang hancur. Awalnya seluruh prajurit dan masyarakat menentangnya sebab memiliki risiko gagal yang besar karena belum pernah dilakukan sebelumnya, terlebih lagi operasi militer ini mempertaruhkan banyak prajurit.
Perkataan Pixis sangat krusial pada momen itu, menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin. Melalui ide gilanya, Pixis dapat merubah ancaman menjadi jalan keluar. “Dengar baik-baik! Aku akan mengajukan sebuah usulan. Kita harus menggunakan titan itu untuk menutup lubang di Trost! Ya, betul. Kita akan menggunakan Titan itu untuk melawan Titan lain. Dia adalah pedang paling tajam yang akan kita miliki!”
Ketika pasukan lain melihat Titan Eren sebagai ancaman yang menakutkan, Pixis justru mendefinisikannya sebagai solusi dan senjata pamungkas. Tindakan Pixis mengubah sudut pandang dengan mengalihkan suasana yang awalnya putus asa menjadi jalan keluar. Menggambarkan peran kepemimpinan yang bukan sekedar dapat mengelola masalah, namun mampu melihat solusi yang tak terpikirkan oleh orang lain dan menjadikannya pandangan yang dapat diterima.
Seorang pemimpin juga dinilai dari kemampuannya menguasai emosi terlebih di keadaan genting. Kecerdasan emosional dan rasionalitas pola pikirlah yang dapat mengarahkan komando dalam menentukan hasil. Dengan emosi yang stabil, ia mampu menopang tanggung jawab besar, sementara empatinya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan mengkoordinasi masyarakat yang panik.
Perkataannya menjukkan nilai tersebut, “Tentu saja, aku mengerti kalian takut. Tapi jika kita mundur, kita hanya akan memajukan batas pertahanan umat manusia sejengkal demi sejengkal, sampai kita tidak punya tempat lagi untuk berlari! Pertanyaannya adalah, apakah kalian ingin menyaksikan akhir dunia sambil berpelukan dengan keluarga kalian, atau apakah kalian ingin berjuang untuk hidup kalian sampai akhir?!”
Selain Pixis, komandan militer pasukan pengintai yaitu Erwin Smith menunjukkan kepemimpinan yang berani dan rela berkorban. Ketika memimpin operasi militer penyelamatan Eren di musim kedua, pasukan pengintai khawatir melihat komandan mereka salah satu lengan nya di dalam mulut titan yang menyebabkan lengan nya terputus. Alih-alih menyelamatkan dirinya, Erwin justru membangkitkan semangat pasukannya dengan berseru “Maju! Kita maju! Jangan berhenti! Jangan biarkan pengorbanan kita menjadi sia-sia! Jangan pernah menyerah! Jangan pernah berhenti maju!”
Ia menggunakan penderitaannya sendiri sebagai dorongan untuk menggerakkan pasukannya, seolah ingin mengatakan bahwa semua pengorbanan yang sudah terjadi harus memiliki arti. Seruan khas itu juga menunjukkan betapa teguh tekadnya. Baginya, pemimpin tidak layak menomorsatukan diri sendiri atau memakai kekuasaan hanya untuk keuntungan pribadi maupun kelompoknya.
Hal ini dapat direfleksikan di kehidupan nyata yang dimana banyak pemimpin-pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya, peran pemimpin adalah mensejahterakan masyarakatnya. Meskipun tantangan di dunia nyata bukanlah titan, nilai kepemimpinan tetaplah mutlak dan harus di representasikan bagaimana pun keadaannya.
Oleh: Yasmin Sholihatul Amalia
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




