by

Seberapa Siap Kita Menyelenggarakan Kuliah Semi-Daring?

Oleh: Alya Firdausi Emha, Peserta Opini Terbaik di Sanggar Informatika 2020

Rabu kemarin, selepas subuh saya menyimak obrolan WhatsApp di grup kelas dengan seksama. Pasalnya, teman-teman saya ramai membicarakan cara mengikuti kuliah daring yang dijadwalkan hari itu. Seorang teman di grup tersebut menjelaskan langkah-langkah mengikuti kelas. Dari aplikasi apa yang dipakai hingga cara membuat akun. Saya pun mengikuti apa yang ia sampaikan hingga usai. Pagi itu saya sudah sangat siap mengikuti kelas daring. Namun, apa yang saya nantikan tak kunjung ada. Ternyata hari itu tak ada satupun kelas daring.

Memasuki tahun ajaran baru setelah libur panjang musim panas, Universitas Al-Azhar kini menghadapi tantangan baru dalam pembelajarannya. Tidak lain dan tidak bukan adalah pandemi Covid-19 ini. Universitas Al-Azhar mengambil keputusan untuk mulai mengadakan perkuliahan dengan sistem semi-daring. Yang dimaksud semi-daring disini adalah perkuliahan diadakan dengan dua cara yaitu offline dan online. Contohnya, saya jurusan Ushuluddin memiliki empat hari masa kuliah, dua hari tatap muka secara langsung dan dua hari lagi kuliah daring. Pun pembagian ini tergantung jurusan masing-masing.

Hal ini bukan tanpa masalah, Al-Azhar yang dikenal dengan sistemnya yang manual seolah-olah dipaksa untuk mulai menggunakan teknologi daring. Permasalahan yang muncul pun beragam, mulai dari sebagian dosen atau mahasiswa yang belum terbiasa dengan sistem tatap muka daring sampai kendala kuota yang belum tentu mencukupi untu melaksanakan kelas daring.

Beberapa teman pun menanyakan dan merasa kebingungan perihal kelas daring ini. Tentang caranya hingga kepastian kelas ini. Saya pun yang ditanya merasa bingung akan hal ini karena memang kelasnya belum berlangsung efektif.

Menyaksikan hal tersebut, saya mencoba menghubungi beberapa kawan. Diantaranya seorang teman saya dari Fakultas Kedokteran Al-Azhar. Saya pun bertanya perihal kuliah daring di fakultasnya. Ia mengatakan bahwa di fakultasnya telah diadakan kuliah daring semenjak lockdown. “Jadi dosen dan mahasiswa sudah beradaptasi dan terbiasa dengan adanya sistem daring ini,” ujarnya.

Dari percakapan ini saya menyimpulkan bahwa masalah pembiasaan akan sistem tatap muka daring ini mungkin akan teratasi seiring berjalannya waktu. Namun, saya tidak yakin sepenuhnya karena hal lain, seperti kesanggupan tiap individu secara finansial, karena yang saya lihat, ada teman pribumi Mesir atau teman dari negara-negara lain belum memiliki fasilitas untuk mengakses internet.

Jikalau pembelajaran daring memang harus dilakukan demi terselesaikannya target perkuliahan, maka hal-hal terkait permasalahan dosen dan mahasiswa harus diselesaikan terlebih dahulu. Contohnya dengan memberikan alternatif lain ketika ada mahasiswa yang memiliki kendala kuota seperti mengirimkan rekaman suara penjelasan dosen ke telegram yang relatif lebih kecil gigabyte-nya sehingga tak terlalu membutuhkan banyak kuota. Untuk masalah fasilitas, mungkin mahasiswa bisa mengajukan keberatan kepada universitas agar bisa ditangani langsung.

Permasalahan yang saling tumpang tindih antara pihak universitas dan mahasiswa bukan tidak bisa diselesaikan. Tentu permasalahan ini bisa terselesaikan dengan sinergi masing-masing pihak. Baru saja saya menerima google form dari grup untuk mengisi beberapa pertanyaan terkait pendapat kita tentang sistem yang digunakan universitas pada masa pandemi ini. Pun usulan dan masukan kita sebagai mahasiswa. Semoga saja pihak universitas benar-benar menampung usulan kita dan memperbaiki sistem perkuliahan yang ada.

Editor: Muhammad Adisurya Pahlawan

Comment

Berita Lainnya