by

Tips Ampuh Hadapi Corona dari Dr. Shafa Machdy

Informatikamesir.net, Kairo — Dunia sedang diguncangkan dengan virus yang sedikit banyak nya telah menelan banyak nyawa manusia dari berbagai penjuru negeri. Virus yang vaksinnya hingga kini belum juga ditemukan ini kian hari semakin mengkhawatirkan penyebarannya.

Berkaca pada fenomena ini, pemerintah manapun sekarang mengambil kebijakan agar masyarakat tidak keluar  dari rumahnya selama 2 minggu ke depan guna meminimalisir penyebaran virus Corona ini.

Gerakan Sehat Masisir (Gesami) pun berinisiatif  untuk mengadakan seminar kesehatan online pada Senin (23/3/20) untuk mensosialisasikan langkah-langkah pencegahan dan penanganan Covid-19.

Shafa Machdy selaku pemateri utama dalam seminar kesehatan ini menjelaskan secara gamblang terkait pertanyaan mendasar “Apa itu corona?”

“Corona adalah sebuah virus yang sebenarnya bermacam-macam, tapi yang saat ini sedang heboh adalah versi mutasi terakhir yang bernama covid-19. Gejalanya sangat tumpang tindih dengan gejala-gejala umum penyakit lain. Kami para dokter sebenarnya susah membedakan klinisnya, itu juga salah satu alasan yang menyebabkan penanganan Corona sendiri lumayan sulit terlebih karena penyebarannya yang sangat cepat,” jelas salah satu lulusan S1 Fakultas Kedoktran Universitas Trisakti ini.

Selanjutnya, ia pun menjelaskan secara singkat perbedaan antara gejala Corona vs Flu:

Corona; demam, batuk, sulit bernafas, dahak bewarna kuning kehijauan.

Flu; batuk, hidung tersumbat, bersin-bersin, nyeri  tenggorokan.

Gejala paling utama pada Covid-19 sendiri adalah demam (ditemukan sebanyak 80%an) dengan suhu diatas 38,5 Celsius yang terjadi terus-menerus tanpa ada fase penurunan suhu. Kendati demikian, bukan berarti demam tinggi ini pasti terjadi pada setiap penderita Corona karena kepastiannya hanya dapat dilihat dengan tes darah.

“Gejala Corona sendiri memiliki dua  tahapan, ringan dan berat. Lebih tepatnya, kalau gejala ringan, efeknya belum sampai ke paru-paru namun baru menjangkau saluran nafas atas, jadi gejalanya lebih  berupa sakit tenggorakan dan batuk kering. Tetapi kalau sudah di paru-paru, akan muncul sesak nafas dan penurunan oksigen,” jelas Shafa Machdy.

Berdasarkan aturan protokoler di Mesir, intinya:

  1. Kalau cuma batuk pilek tanpa demam jangan khawatir, cukup stay at home.
  2. Kalau sudah sampai demam tinggi berhari-hari ( tolong pakai pengukur demam, jangan cuma berasa demam) bisa jadi itu suspect Corona.

Untuk yang nomor dua, dibagi lagi ke versi A yang ringan dengan langkah penanganan stay at home, isolasi, dan minum obat pereda batuk dan pilek. Jika keadaan memburuk, baru masuk ke versi  B dengan gejala dada yang terasa sesak.

“Dalam keadaan seperti itu, segeralah ke Unit Gawat Darurat (UGD) terdekat,” tungkas Shafa.

Shafa Machdy juga menjelaskan bahwasanya penggunaan masker dan sarung tangan tidak secara mutlak menghindarkan kita dari Corona.

“Penggunaan masker dan sarung tangan tidak menjamin kamu bebas Corona. Kalau ujung-ujungnya pakai sarung tangan tapi malah megang  hand phone lalu muka dll, maka langkah pencegahannya jadi kurang berguna. Penyebaran virus adalah dari benda ke benda sampai ke muka (hidung,  mulut dan sekitarnya),” ungkap salah seorang Egyptian Fellowship International Medicine Cardiologi at Ahmad Maher Teaching Hospital ini.

Setelah tau penyebarannya, kita harus tahu bagaimana cara mengatasinya.

“Cara mencegah Corona; makan dengan gizi yang seimbang, rajin olahraga dan istirahat yang cukup,cuci tangan pakai sabun, jaga kebersihan lingkungan, tidak merokok, gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam, minum air mineral 8 gelas/hari, makan makanan yang dimasak dengan sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan, bila demam dan sesak nafas segera  ke fasilitas kesehatan, jangan lupa berdoa,” jelas Shafa.

Adapun diagnosis COVID-19  ini bisa ditinjau berdasarkan:

1. Klinis : demam diatas 38 diatas 3-5 hari, batuk dan atau sesak nafas.

2. Riwayat perjalanan: tidak hanya riwayat perjalanan ke luar negeri, namun juga daerah-daerah yang telah terpapar virus Corona.

3. Laboratorium: leukopenia/normal, limfositopenia,C-Reactive Protein (CRP) meningkat.

4. Radiologi : rontgen thorax infiltrat paru, CT Scan Thorax.

5. Bukti swab (kapas) dari spesimen hidung, tenggorakan dan sputum (sejenis cairan hidung).

Virus Corona hidup dipermukaan atau luar tubuh selama beberapa jam sebelum benar-benar masuk ke dalam tubuh. Berdasarkan laporan penelitian terbaru, virus ini dapat bertahan di udara  selama 3 jam lamanya. Virus ini dapat menyebar ke tubuh lain sebelum tubuh penular mengalami gejala-gejala Corona.

Penggunaan masker dinilai efektif untuk mencegah penyebaran virus dari udara. Masker yang digunakan pun harus N95 jika ingin lebih efektif.

“Penularan tidak dari udara saja, bisa dari benda mati, jadi ya cuci tangan dan jaga kesehatan..!”  ungkap dr. Shafa.

Terakhir, Marini Hajarani selaku salah seorang punggawa Gesami menyatakan bahwa Masisir sangat membutuhkan agenda-agenda semacam ini guna mensosialisasikan secara lebih intensif terkait virus Corona ini.

“Kami sadar akan kebutuhan masisir saat ini, yaitu mendengar dan dan bertanya langsung kepada pakarnya, itu yang mereka butuhkan saat ini. Walaupun sudah banyak artikel atau vedio edukasi tantang covid-19 ini, saya membaca sekitar saya bahwa tidak semua orang mempunyai kesadaran dan keinginan untuk membaca dan menonton dengan seksamayang dijelaskan di mana-mana,” ungkap Marini saat diwawancarai oleh kru Informatika.

“Seminar yang diadakan Gesami insya Allah tidak akan berhenti disini, Gesami sendiri sudah mempunyai rencana u ntuk terus membuat seminar guna menjawab kebingungan Masisir seputar dunia kesehatan. Adapun sistem seminar nantinya kondisional, entah online atau offline. Salah satu betuk Follow up dari pelaksanaan seminar ini yaitu dengan menyebarluaskan resume seminar ke segenap Masisir,” ujar Marini.

Marini pun berharap dengan dilaksanakannya seminar semacam ini, Masisir bisa lebih mewaspadai ancaman besar yang ditimbulkan dari Covid-19 di Mesir.

“Kami harap Masisir bisa lebih aware dengan kesehatan diri sendiri dan orang lain dengan cara menjaga pola hidup sehat. Kami pun ingin memberikan pengertian bahwa tidak semua dokter dan obat-obatan di Mesir ini jelek, agar tidak ada lagi yang berspekulasi kalau dokter di Mesir ini jelek dan sering mal praktek,” tambah Marini.

Reporter: Nadya Rahma

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya