Pelajar Muslim di Persimpangan Budaya dan Syariat
Hampir semua suku di dunia memiliki kebudayaan dan seninya masing-masing,khususnya seni tari. Mulai dari Spanyol yang memiliki tari Flamenco hingga, Mesiryang terkenal dengan tari perutnya. Tidak mau ketinggalan. Indonesia sendiritercatat memiliki lebih dari 3.000 tarian tradisional yang tersebar dari Sabangsampai Merauke.
Pada titik ini, mungkin kita akan bertanya-tanya: mengapa seni tari selalu eksis, dan mengakar kuat disetiap kebudayaan di dunia? Alasannya sangatlah menarik. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, atau tulisan sebagai sarana komunikasi, Gerakan tubuh menjadi salah satu media manusia purba untuk mengekspresikan diri. Dengan gerakan tubuh, manusia purba mampu mengungkapkan perasaan, dan pikiran mereka, serta menjadi sarana komunikasi dengan sesama anggota kelompoknya.
Tak berhenti di situ saja, gerakan tubuh juga menjadi alat spiritual sejak zamanprasejarah, atau zaman batu untuk menjembatani dunia manusia dengan kekuatansupranatural (dewa, atau roh leluhur). Pada saat itu. Tarian hampir selalu hadirdalam momen-momen penting, seperti ritual pemujaan, upacara kelahiran, hinggaritual kematian.
Selain daripada itu, gerakan tubuh pada zaman batu menjadi salah satu wadahmereka untuk mempererat, dan menyatukan ikatan antar anggota komunitas.Aktivitas ini memberikan rasa kebersamaan, dan solidaritas antar anggotakelompok atau suku. Seiring berjalannya waktu, tari berevolusi menjadi simbolidentitas suatu kelompok, dan menjadi bagaian penting dalam kehidupan mereka.
Pada zaman peradaban kuno, Manusia tidak lagi memandang tarian sebatas alatkomunikasi, atau sarana untuk mempererat komunitas. Tari mulai dimaknai sebagaisesuatu yang lebih mendalam, yaitu seni untuk menceritakan, dan mengabadikansejarah, cerita mitologi, serta legenda nenek moyang.
Dengan panjangnya perjalanan kesenian tari, dari manusia purba yangmenggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi, hingga menjadi tari yang kitakenal sekarang. Kesenian tari merupakan salah satu warisan kuno yang berperanpenting dalam evolusi manusia. Keberadaanya takkan bisa terpisahkan dari kehidupan. Ialah yang menjadisaksi bisu perjalanan manusia dari prasejarah hingga zaman modern sekarang.
Tentunya semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia mulai menjadikantari sebagai salah satu kebudayaan, dan identitas kelompok, atau suku. Setiapkesenian tari memiliki gaya khas yang mencerminkan lingkungan geografis, dankarakter masyarakat dari masing-masing kelompok, atau suku. Misalnya, tari Saman di Aceh yang gerakannya didominasi dengan ritme sangat cepat, dinamis,dan serempak tanpa jeda. Mencerminkan ekosistem dataran tinggi gayo yangdikelilingi pegunungan, serta kehidupan masyarakat Aceh yang mengedepankankebersamaan dalam mengelola alam membentuk tarian yang berbasis kelompok.
Di dataran pulau Jawa terdapat tari Serimpi dari Surakatra. Tarian dengan karakteryang lambat, dan konsisten mengikuti irama gamelan yang tenang mencerminkanwatak kesopanan, keluhuran budi, ketenangan jiwa, serta kelemahlembutan khasbangsawan Jawa yang menjunjung tinggi etika, harmoni, dan keseimbangan.
Ditengah beragamnyan kesenian tari yang ada di Indonesia, dan dunia, padadasarnya Islam merestui kesenian yang sesuai dengan ajarannya, tetapi jugamelarang kesenian yang bertentangan dengannya. Sebagai salah satu unsurkebudaayaan, kesenian tari merupakan salah satu fitrah yang telah Allah tanamkandalam diri manusia untuk suatu kegiatan yang melibatkan kemampuan kreatifdalam mengungkapkan keindahan, kebenaran, dan kebaikan.
Walaupun Islam tidak menetapkan satu teori kesenian yang menjadi acuan tunggalbagi semua pihak, batasan mengenai seni yang dapat diterima dalam Islam tetapmenjadi bahan pembahasan. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruhalam semesta, dan agama yang akan selalu selaras dengan perkembangan zaman,serta perubahan perilaku umat manusia, Islam tentunnya menmberikan boundaries,atau batasan-batasan mengenai kebolehan mengekspresi kebudayaan dalam bentuk kesenian.
Dalam kaidah ushul fikih terdapat ungkapan yang berbunyai: Al-Ashlu fi Asyya’ ibahah, dalam ibarah yang lain dikatakan, Al-Ashlu fil manafi’ al-ibahatu, wa fil madhoorri, at-tahrimu, yang berarti “hukum asal dari segala sesuatu adalah mubah” sampai terdapat dalil syara’ yangmelarangnya. Dalam ibarah lain, “hukum asal dari segala sesuatu yang baik adalahmubah, dan hukum asal dari segala sesuatu yang mudharat adalah haram”.
Tentu saja ulama’ fikih menetapkan kaidah tersebut dengan landasan pemahamanyang benar, dan sesuai dengan realitas ketetapan syariat. Salah satu contohnya, padamasa awal Islam datang untuk menyempurnakan syariat-syariat nabi sebelumnya,Islam belum mengharamkan khamr (minuman yang memabukan), tetapi denganberjalannya waktu, Islam mulai melarang khmr dengan bertahap untukmenyesuaikan kebiasaan lama masyarakat Arab dengan hal yang baru.
Tentu, pada era dengan ilmu kedokteran yang berkembang pesat. khmer terujisecara klinis memiliki kemudharatan yang berdampak pada kesehatan. Dengancontoh tersebut, kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama’ fikih terbukti terujikebenarannya, dan bisa dipertanggung jawabkan.
Dalam hal kesenian, tentunya tidak ada Nas dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah yangsecara spesifik melarang kesenian, baik tari maupun kesenian lainnya. Dengankaidah tersebut hukum kesenian tari maupun kesenian lainnya adalah mubah.
Namun, perlu digarisbawahi, bahwa kesenian tetap harus sesuai dengan standarsyara’, atau ketetapan hukum Islam. Misalnya, berbusana harus menutup aurat,menampilkan gerakan tari yang tidak menimbulkan syahwat, serta penyelengaraanacara kesenian yang sesuai dengan ketentuan didalam Islam.
Dengan demikian, kesenian tradisional Indonesia tidak harus punah karenamasuknya ajaran Islam di nusantara. KH. Abdurrahman Wahid, atau yang dikenaldengan sebutan Gus Dur pernah mengatakan dalam suatu kesempatan “Islamdatang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk’aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milikkita, kita harus serap ajaran Islam, bukan budaya Arabnya.
“Dengan apa yang telah disampaikan Gus Dur, kita tahu bahwa Islam datang bukanuntuk mengubah kebudayaan suatu bangsa. Islam datang tidak hanya mengajarkanaqidah dan ketuhanan, tetapi juga membimbing kehidupan budaya. Karena itu,nilai-nilai Islam dan kebudayaan tradisional Indonesia dapat saling melengkapi,serta memperkuat nilai moral kebudayaan yang selaras dengan fitrah manusia.
Dengan demikian, kita sebagai pelajar muslim yang bergelut dengan ilmu-ilmukeislaman juga memiliki hak dan tanggung jawab untuk turut andil dalammelestarikan kesenian tari tradisional Indonesia, dan memperkenalkannya kekancah internasional.
Identitas kita sebagai pelajar muslim yang menekuni ilmu agama tidak lantasmembatasi ruang gerak kita dalam mengapresiasi dan menjaga kekayaan budayabangsa, dengan tetap mengingat, dan menjaga batasan-batasan syariat, serta tanpamelupakan tugas utama sebagai generasi muslim yang kelak akan meneruskanperjuangan dakwah untuk menyebarkan wajah Islam yang wasati, dan toleran.
Pada akhirnya, wawasan keilmuan Islam yang kita dapatkan dari pesantren, ataulembaga pendidikan Islam lainnya, sangat membantu, dan menunjang, sertamenjadi bekal untuk memahami, menyikapi, serta memperkenalkan kebudayaanIndonesia secara bijaksana kepada masyarakat internasional.
Terlebih lagi, pelajar muslim Indonesia yang belajar di luar negri, mereka memilikipotensi yang terbuka lebar untuk mengambil peran tersebut. Keberadaan parapelajar muslim Indonesia di luar negri, merupakan kesempatan, dan peluangstrategis untuk memperkenalkan seni tari tradisional Indonesia kepada masyarakatdunia.
Melalui partisipasi dalam festival kebudayaan, pertunjukan seni, maupun foruminternasional lainnya, pelajar muslim Indonesia di luar negri dapat menjadikan senitari bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebagai sarana diplomasi budayayang memperkenalkan identitas, nilai-nilai, dan kekayaan tradisi bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, sudah semestinya kita sebagai pelajar muslim Indonesia yangbudiman tidak hanya menjadi penuntut ilmu yang membawa nama baik bangsaIndonesia melalui prestasi akademik, tetapi juga menjadi bagian dari generasi yangmenjaga warisan budaya, dan memperkenalkannya kepada dunia. Wa salam
NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.
Referensi penulis tidak ditampilkan, bila ingin membacanya, bisa hubungi narahubung yang tertera di BC-an pamflet Lomba Opini.
Penulis:



