Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Mengubah Perspektif Pelajar Timur Tengah Untuk Melangkah Lebih Maju Dalam Mengisi Posisi Strategis.

Mengubah Perspektif Pelajar Timur Tengah Untuk Melangkah Lebih Maju Dalam Mengisi Posisi Strategis.

Oleh: Muhammad Fathan RavandiMahasiswa Jamiatul Al-Qorowiyyin Madrasah Al-Ulum Al-Islamiyyah

Sumber: Istimewa

informatikamesir.net, Fez – Jumlah pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri saat ini telah mencapai sekitar 59.000-60.000 orang berdasarkan data UNESCO. Angka ini menunjukkan besar minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di tingkat internasional. Namun, kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh. Terlebih, bagi mereka yang berkesempatan melanjutkan studi di Kawasan Timur Tengah, wilayah yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan Islam. Bagi pelajar yang memiliki latar belakang pendidikan agama, melanjutkan studi di negara-negara tersebut bukan sekedar perjalanan akademik, melainkan juga kesempatan untuk memperdalam khazanah Islam sekaligus membangun kapasitas diri.

Mesir merupakan salah satu negara yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat dan telah melahirkan banyak tokoh berpengaruh, baik di bidang keagamaan maupun dalam berbagai sektor pemerintahan dan kehidupan lainnya. Namun, dalam tulisan ini, penulis tidak fokus pada keunggulan tradisi keilmuan di negara-negara tersebut. Lebih dari itu, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan sebuah pertanyaan sederhana: apa yang dapat kita kontribusikan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045?

Tidak menunggu lama untuk memperluas cara pandang mengenai peran pelajar Indonesia di Timur Tengah. Kontribusi kita tidak seharusnya dibatasi pada upaya menjadi ulama atau tokoh masyarakat semata. Lebih jauh, kita perlu berani melangkah ke berbagai sektor strategis untuk mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Dengan demikian, tantangan kita bukan hanya mempertahankan keilmuan yang telah diwariskan, tetapi juga menerjemahkan ilmu tersebut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

Penulis ingin mengajak pembaca untuk keluar dari pola pikir yang cenderung menempatkan pendidikan di Timur Tengah dalam satu orientasi saja, yaitu melahirkan tokoh-tokoh agama. Padahal, pendidikan yang kita tempuh di kawasan ini semestinya menjadi modal untuk melangkah lebih jauh dan menjangkau ruang pengabdian yang lebih luas. Menjadi ulama

Merupakan pilihan pengabdian yang mulia, tetapi apakah itu sudah lebih dari cukup? Tentu tidak selalu dan menjadi pilihan yang nyata untuk menjawab persoalan-persoalan tentang agama. Tidak dapat dipungkiri juga, ada juga kontribusi yang kita bisa berikan bagi bangsa dan negara Indonesia dengan kita berkontribusi dalam bidang ekonomi, politik, diplomasi, teknologi, dan sektor lainnya juga merupakan jalan pengabdian yang tidak kalah penting.

Kita perlu menyadari bahwa kesempatan menempuh pendidikan di Timur Tengah merupakan sebuah keistimewaan yang lahir dari berbagai faktor, salah satunya kepercayaan masyarakat terhadap tradisi keilmuan yang berkembang di kawasan tersebut. Kepercayaan ini menjadi modal sosial yang berharga sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di sana.

Penulis mendorong perluasan orientasi pengabdian pelajar Timur Tengah, supaya fokus kita tidak menempati sebagai tokoh agama saja, melainkan turut berpartisipasi mengubah Indonesia yang lebih baik. Pandangan masyarakat kita selalu memandang pelajar kita di Timur Tengah hanya melalui pengabdian sebagai penceramah, tentu tidak selalu. Kehadiran pelajar Indonesia di Timur Tengah bukan menjadi batasan kita untuk berkarir ke jangkauan yang lebih luas. Kita juga bisa menempatkan posisi yang satrategis terlebih di ruang lingkup pemerintahan. Pada akhirnya, kita perlu memahami bahwa menjadi ulama dan berkontribusi dalam sektor strategis bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama dilandasi kompetensi, integritas, dan orientasi kemaslahatan.

Dalam konteks inilah, pelajar Indonesia di Timur Tengah perlu melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari sumber daya manusia yang turut menentukan masa depan bangsa. Pendidikan di Timur Tengah seharusnya tidak menjadi ruang yang membatasi cakrawala berfikir, melainkan titik awal untuk membangun kapasitas diri yang lebih luas. Penulis mengakhiri dengan kita perlu membedakan antara latar belakang pendidikan dan batasan profesi. Seseorang yang menempuh pendidikan agama tidak harus membatasi dirinya pada satu bidang pekerjaan. Sebaliknya, pendidikan tersebut dapat menjadi landasan nilai dan etika untuk berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, diplomasi, pemerintahan, ekonomi, hingga pengembangan masyarakat.

Kontribusi nyata dan menjadi bukti masa keemasan yang lahir pada era tahun 90 an merujuk pada kebangkitan peran strategis lulsan kampus Timur Tengah (seperti universitas Al-Azhar Mesir) dalam memegang tampuk kepemimpinan sosial, dakwah, politik, dan intelektual yang semakin menguat.

Faktor Pendorong Masa Keemasan

Salah satu bentuk kontribusi alumni Timur Tengah yang paling terlihat di ruang publik adalah melalui dakwah dan pemanfaatan media digital. Kehadiran media sosial telah membuka ruang yang lebih luas bagi para pendakwah untuk menyampaikan ilmu dan menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satu tokoh yang dikenal luas di Indonesia adalah Ustaz Abdul Somad, Lc., M.A., seorang pendakwah yang dikenal melalui ceramah-ceramahnya yang mudah diakses oleh masyarakat, termasuk melalui berbagai platform digital.

Selain itu, terdapat Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A., Tuan Guru Bajang (TGB) yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, dikenal sebagai ulama sekaligus politikus. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode. Kiprahnya menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan keislaman tidak menutup kesempatan seseorang untuk mengambil peran dalam pemerintahan dan kehidupan politik. Di bidang diplomasi, terdapat Zuhairi Misrawi, seorang intelektual Nahdlatul Ulama yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia. Kiprahnya menjadi salah satu contoh keterlibatan tokoh berlatar belakang pemikiran Islam dalam hubungan diplomatik Indonesia dengan negara lain.

Fenomena Segregasi Kubu (Polarisasi)

Kita berfokus pada seseorang yang memiliki orientasi ideologi atau corak pemikiran yang dibawa dari Timur Tengah yang tanpa ia sadari tidak membuka ruang dialektika lintas disiplin, tantangannya adalah ekslusifitas kelompok. Mereka cenderung hanya bergerak di komunitasnya sendiri (ekosistem internal) dan kesulitan beradaptasi dengan realitas masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Dalam skala ekstrem, hal ini berisiko melahirkan sikap kaku yang memperdebatkan masalah furu’ (cabang agama) secara berulang-ulang tanpa menyentuh esensi problem sosial kebangsaan. Alumni yang memiliki orientasi tunggal perlu di edukasi kembali dan mempertanyakan keorientasiannya, bukan dalam urusan personal tetapi dalam mengajak untuk ikut berpartisipasi ke lingkungan yang masih luas.

Memasuki Ranah Pemerintahan, Tak Perlu Tabu

Bagi seseorang menetap pada koridor satu orientasi (keagamaan murni) dimana ia tidak masuk ke ranah pemerintahan dengan mereka yang memilih jalur ekspansi struktural merupakan dialektika yang terus berkembang. Karena dengan kehadiran pelajar dan alumni Timur Tengah menempati posisi strategis dalam konfigurasi sosial keagamaan nasional, Namun seiring dengan kompleksitas jalan orientasi. Dalam konteks ini, kita dihadapkan pada dua pilihan: pertama, bertahan pada jalur linier keagamaan murni (kultural) atau melangkah ke ranah kekuasaan negara dan kebijakan publik (struktural) kedua pilihan ini membawa konsekuensi besar bagi masa depan dakwah dan eksistensi mereka sendiri. Mentalitas yang masih melekat pada diri kita harus kita ubah, karena persentase jumlah kita dalam ruang dakwah sudah terlalu banyak dan merupakan pencapaian luar biasa, tetapi disisi lain kita perlu mengimbagi dengan turut berpartisipasi guna mewujudkan masa depan Indonesia dengan bekal keilmuan yang kita putik sebagai pelengkap dan tdak mungkin kita pisahkan keduanya.

Penulis menempatkan pada konteks ini sebagai pembuka paradigma pembaca, bagi siapapun wabilkhusus pelajar dan alumni Timur Tengah untuk tidak takut melebarkan sayap ke ranah yang lebih luas. Langkah ini merupakan sebagai bukti dan kita buktikan pelajar dan alumni Timur Tengah tersebar di berbagai sektor serta mencetak kader-kader terbaik untuk mewujudkan masa depan bangsa dan negara.

Penulis:  Muhammad Fathan Ravandi

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad