Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Menjaga Marwah di Pusat Ilmu:
Ketika Budaya Dipertahankan, Namun Kehormatan Dipertanyakan

Menjaga Marwah di Pusat Ilmu:
Ketika Budaya Dipertahankan, Namun Kehormatan Dipertanyakan

Pendahuluan

Ada sebuah ironi yang sulit saya pahami sebagai seorang muslimah. Ribuan pelajar meninggalkan kampung halaman menuju Mesir, negeri yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat peradaban ilmu Islam. Mereka datang untuk mempelajari akhlak, memahami syariat, menjaga adab, dan memperdalam makna kemuliaan seorang Muslim. Namun di tengah lingkungan yang dipenuhi kajian tentang kehormatan, rasa malu, dan penjagaan diri, kita justru menyaksikan fenomena yang seolah diterima tanpa banyak pertanyaan: seorang muslimah tampil menari di hadapan puluhan bahkan ratusan laki-laki dalam sebuah kegiatan yang mengatasnamakan pelestarian budaya.

Kita Datang untuk Ilmu, Tetapi Apa yang Sedang Kita Praktikkan?

Sebagai pelajar di pusat pendidikan Islam, kita belajar bahwa ilmu bukan sekadar hafalan. Ilmu adalah nilai yang diwujudkan dalam kehidupan. Kita belajar tentang adab sebelum ilmu, tentang rasa malu yang merupakan bagian dari iman, serta tentang bagaimana Islam memuliakan perempuan. Namun di saat yang sama, kita menyaksikan seorang muslimah berdiri di atas panggung, menjadi pusat perhatian publik, direkam oleh puluhan kamera, dan disaksikan oleh banyak laki-laki yang bukan mahramnya. Jika inilah yang terjadi di pusat pendidikan Islam, lalu di mana letak perbedaan kita dengan ruang-ruang hiburan biasa?

Yang Dipersoalkan Bukan Tari, Tetapi Ruangnya

Saya tidak mempersoalkan tari sebagai warisan budaya bangsa. Yang saya persoalkan adalah cara pelaksanaannya. Mengapa pelestarian budaya harus menjadikan perempuan sebagai pusat pandangan lawan jenis? Mengapa pertunjukan budaya tidak dapat dirancang dengan format yang lebih selaras dengan nilai yang selama ini kita pelajari?

Mengapa Marwah Perempuan Sering Menjadi Hal Pertama yang Dikorbankan?

Di sinilah pertanyaan yang paling mengusik pikiran saya muncul: mengapa marwah perempuan sering kali menjadi hal pertama yang dikompromikan ketika budaya ingin dipertahankan? Ketika sebuah tradisi dianggap penting untuk dilestarikan, yang pertama kali diminta untuk beradaptasi sering kali bukan format acaranya, bukan konsep pelaksanaannya, dan bukan struktur kegiatannya. Justru yang sering diminta menyesuaikan adalah batas-batas yang selama ini menjaga kehormatan perempuan. Seakan-akan marwah perempuan menjadi harga yang paling mudah dibayar demi

mempertahankan sebuah tradisi.

Padahal, jika tujuan utama sebuah pertunjukan adalah pelestarian budaya, masih banyak alternatif yang dapat dilakukan tanpa harus menjadikan perempuan sebagai pusat perhatian khalayak laki-laki. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketika muncul usulan untuk menghadirkan ruang yang lebih selaras dengan nilai-nilai Islam, usulan tersebut dianggap terlalu ketat, terlalu idealis, atau bahkan menghambat kreativitas.

Pertanyaannya, mengapa yang dianggap menghambat selalu upaya menjaga marwah, bukan praktik yang berpotensi menggeser batas-batas kesopanan itu sendiri?

Sebagai penuntut ilmu agama, kita seharusnya memiliki keberanian untuk mempertanyakan hal ini. Sebab penghormatan terhadap perempuan tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau seminar tentang kemuliaan Muslimah. Penghormatan yang sejati terlihat dari bagaimana sebuah komunitas membangun ruang sosial yang menjaga kehormatan perempuan tanpa harus mengurangi peran dan kontribusinya.

Sebagai penuntut ilmu agama, kita seharusnya memiliki keberanian untuk mempertanyakan hal ini. Sebab penghormatan terhadap perempuan tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau seminar tentang kemuliaan Muslimah. Penghormatan yang sejati terlihat dari bagaimana sebuah komunitas membangun ruang sosial yang menjaga kehormatan perempuan tanpa harus mengurangi peran dan kontribusinya.

Saya meyakini bahwa perempuan tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan nilainya. Kehormatan seorang perempuan tidak bertambah karena semakin banyak pasang mata yang melihatnya. Kemuliaannya juga tidak berkurang karena ia memilih menjaga batas yang diyakininya.

Karena itu, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukanlah: bagaimana cara mempertahankan budaya? Melainkan: mengapa setiap kali budaya dipertahankan, marwah perempuan justru sering menjadi pihak yang diminta untuk berkompromi?

Sebuah budaya yang agung seharusnya mampu menjaga warisannya tanpa meminta perempuan mengorbankan marwahnya. Sebab budaya dibangun untuk memuliakan manusia, bukan memaksa manusia mengalah demi mempertahankan budaya.

Tepuk Tangan dan Marwah

Sering kali sebuah pertunjukan dianggap berhasil ketika memperoleh banyak apresiasi. Namun apakah semua yang mendapatkan tepuk tangan otomatis layak dipertahankan? Ada satu hal yang jauh lebih bernilai daripada tepuk tangan manusia, yaitu harga diri dan kehormatan seorang perempuan. Tepuk tangan hanya bertahan beberapa detik, sementara marwah adalah nilai yang dijaga sepanjang hayat.

Budaya yang Bermartabat

Menurut saya, pelestarian budaya tidak harus mengorbankan prinsip. Jika penarinya perempuan, mengapa tidak menghadirkan audiens perempuan? Jika tujuan utamanya pendidikan budaya, mengapa harus menjadikan ruang campuran sebagai satu-satunya pilihan? Budaya yang besar adalah budaya yang mampu hidup berdampingan dengan nilai yang dijunjung masyarakatnya.

Penutup

Saya percaya budaya adalah warisan yang harus dijaga. Saya percaya seni adalah bagian dari identitas bangsa. Namun saya juga percaya bahwa marwah perempuan adalah amanah yang jauh lebih bernilai daripada kemeriahan sebuah panggung. Sejarah tidak akan mengingat seberapa meriah sebuah pertunjukan. Sejarah akan mengingat apakah generasi penuntut ilmu agama mampu menjaga prinsip yang mereka pelajari ketika prinsip itu diuji oleh realitas. Sebuah peradaban tidak runtuh ketika kehilangan panggung-panggung pertunjukannya. Sebuah peradaban runtuh ketika kehormatan tidak lagi dianggap lebih berharga daripada tepuk tangan manusia.

NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.

Penulis: Lidia Arista (Peserta Lomba Opini)

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad