Tanah Air Semakin Terlihat Hancur, Kapan Mahasiswa Diaspora Bergerak?
Demonstrasi “Indonesia Sadar" 28 Oktober 2026, di Bundaran HI.
Informatikamesir.net, Kairo — Setelah dinamika diskusi kebangsaan bertema karhutla yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Istimewa Mesir, rasanya kita sedikit tersadarkan oleh betapa minimnya perjuangan penyuaraan pemuda Indonesia yang ada di Mesir terhadap kondisi negeri akhir-akhir ini. Ada memang, tetapi sangat sedikit sekali dibanding jauh dengan mahasiswa yang ada di Indonesia.
Mahasiswa dalam negeri kemarin merayakan hari sumpah pemuda dengan kesedihan. Mereka berkumpul di alun-alun kota membawa isu bangsa. Mirisnya, pergerakan mereka pun dibatasi oleh aparat dan tidak terlalu didengar, karena memang suara mereka kerap dianggap kebisingan biasa, berbanding terbalik dengan suara diaspora yang dianggap istimewa, karena letaknya yang ada di luar negeri dan berpotensi menarik perhatian publik, bahkan internasional.
Masih menjadi harapan, agar ada yang menyalakan api suara persatuan mahasiswa untuk dikobarkan lebih besar di negeri kejauhan ini. Menyuarakan bukan berarti harus demo. Suara mahasiswa tidak hanya bisa digaungkan lewat pergerakan fisik. Akan tetapi, suara kita bisa terdengar lewat diskusi persatuan mahasiswa, gerakan digital lembaga-lembaga besar mahasiswa, juga dengan penyuaraan personal terhadap isu besar negeri, bukan sama sekali tidak menyuarakan.
Tentunya dikarenakan koordinat yang lebih potensial untuk didengar, rasanya sia-sia jika diaspora hari ini tidak menggunakan privilege-nya yang jika bersuara, akan memiliki atensi lebih luas daripada mahasiswa di Indonesia.
Privilege seperti ini sempat digunakan salah satu organisasi di sini, yaitu HMI Cabang Istimewa Mesir untuk mengadakan diskusi kecil-kecilan. Dengan semangat pemuda dari kawan-kawan HMI dalam diskusi karhutla kemarin, lahirlah beberapa tuntutan dan pernyataan sikap yang disampaikan oleh Ihyasunan selaku ketua HMI Cabang Istimewa Mesir, tuntutan itu diantaranya:
1. Mendesak pemerintah untuk memperkuat pengawasan, pencegahan, dan penanggulangan karhutla secara serius dan berkelanjutan.
2. Menuntut penegakkan hukum tanpa tebang pilih terhadap pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas karhutla, baik individu maupun korporasi.
3. Mendesak evaluasi kinerja pemerintah termasuk kepemimpinan nasional atas efektivitas kebijakan dan penanganan karhutla. Jika terbukti terjadi kegagalan serius, pertanggungjawaban politik harus dijalankan sesuai mekanisme konstitusional.
4. Menyerukan PPI Negara, PPI Dunia, dan khususnya PPMI Mesir agar lebih aktif menyuarakan persoalan kebangsaan.
5. Mengajak mahasiswa Indonesia di Mesir untuk menjadikan diskusi sebagai gerakan intelektual yang nyata, bukan sekadar forum wacana tanpa tindak lanjut.
Poin Empat dan Lima adalah poin yang tampak paling mampu digaris bawahi untuk dijadikan kaca reformasi total pergerakan mahasiswa luar negeri. Sejatinya bahwa mahasiswa diaspora eloknya tidak hanya hadir dalam urusan administratif dan seremonial saja, tetapi juga berani mengambil sikap terhadap persoalan rakyat dan masa depan bangsa.
Pernyataan tersebut serasa relevan bagi Mahasiswa Indonesia di Mesir dengan harapan menumbuhkan kesadaran akan isu nasional. Walau tidak bisa luput dari tujuan awal kedatangan ke Mesir yaitu untuk belajar, setidaknya ada secercah pergerakan dari lembaga-lembaga besar mahasiswa seperti PPMI Mesir bahkan PPI Dunia untuk menarik telinga para pemerintah.
Pasalnya, jika api berulang menyala semakin besar, dan evaluasi masih saja padam, terbakarlah sudah seluruhnya. Jika kerusakan terus terjadi dan belum ditemukan rasa tanggung jawab dari pelaku, sedang kesadaran pihak ketiga juga nihil, tewaslah seluruh bangsa. Bahkan jika dikhususkan pada mahasiswa sendiri yang memilih diam terhadap persoalan bangsanya, untuk apa ilmu pengetahuan dan idealisme itu kita perjuangkan?
Penulis: Isa Latif Zein



