Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Menari dengan Nurani: Menakar Batas Seni Tari di Lingkungan
Pelajar Muslim

Menari dengan Nurani: Menakar Batas Seni Tari di Lingkungan
Pelajar Muslim

Pendahuluan:

Di Antara Gerak, Budaya, dan KeyakinanDi panggung sekolah, seorang pelajar bergerak mengikuti irama musik. Di balik gerakannya, terdapat latihan berulang, semangat kerja sama, keberanian tampil, dan rasa bangga terhadap budaya daerah. Namun, bagi sebagian pelajar Muslim, kegiatan menari juga memunculkan pertanyaan: sampai batas mana seni dapat diekspresikan tanpa mengabaikan nilai keyakinan? Pertanyaan ini tidak seharusnya dijawab dengan prasangka atau larangan yang tergesa-gesa. Ia perlu dibicarakan dengan pengetahuan, adab, dan keterbukaan.

Seni tari sering ditempatkan pada dua ujung yang berlawanan. Di satu sisi, tari dianggap sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan. Di sisi lain, sebagian orang memandangnya sebagai kegiatan yang harus dihindari karena dikhawatirkan bertentangan dengan nilai agama. Ketika perdebatan berhenti pada dua pilihan itu saja, pelajar kehilangan kesempatan untuk belajar menilai konteks, memahami tradisi, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.

Menurut saya, persoalan utamanya bukan sekadar apakah pelajar Muslim boleh menari, melainkan bagaimana seni tari dipelajari, ditampilkan, dan dimaknai. Batas yang sehat bukanlah batas yang mematikan kreativitas, melainkan pedoman yang membantu kreativitas tumbuh tanpa kehilangan etika. Dengan cara pandang tersebut, agama dan kebudayaan tidak harus selalu ditempatkan sebagai dua pihak yang saling meniadakan.

Tari Bukan Sekadar Gerakan Tubuh

Tari adalah bahasa yang disampaikan melalui gerak. Dalam sebuah pertunjukan, gerakan dapat mengisahkan asal-usul suatu masyarakat, rasa syukur, perjuangan, keindahan alam, maupun kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tari tidak layak dinilai hanya dari penampilan luarnya saja. Kita perlu memahami latar sejarah, makna simbolik, tujuan pertunjukan, serta nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui gerakan tersebut.

Indonesia memiliki keragaman tari yang menunjukkan betapa luasnya cara masyarakat mengekspresikan identitas. Tari Saman dari masyarakat Gayo di Aceh, misalnya, dikenal melalui gerak yang serempak, tepukan, nyanyian, dan kekompakan para penarinya. UNESCO mencatat Saman sebagai warisan budaya takbenda yang memerlukan upaya pelindungan mendesak pada 2011.[2] Contoh ini memperlihatkan bahwa tari bukan hanya tontonan, tetapi juga pengetahuan budaya yang hidup dan diwariskan antargenerasi.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menempatkan tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional sebagai objek pemajuan kebudayaan.[1] Kerangka ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan memerlukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Pelajar dapat ikut berperan melalui kegiatan ekstrakurikuler, dokumentasi tari daerah, diskusi dengan seniman, serta pertunjukan yang menghargai asal-usul karya.

Meski demikian, menyebut tari sebagai warisan budaya tidak berarti setiap bentuk pertunjukan otomatis sesuai untuk semua situasi. Sebuah tradisi tetap perlu dipahami secara utuh, termasuk konteks sosial dan nilai yang menyertainya. Menghargai budaya bukan berarti menerima tanpa berpikir; begitu pula menjaga agama bukan berarti menolak sesuatu sebelum mempelajarinya.

Menakar Batas Tanpa Terjebak pada Dua Ekstrem

Dalam lingkungan pelajar Muslim, pembicaraan tentang seni tari perlu menghindari dua sikap ekstrem. Sikap pertama adalah menolak seluruh bentuk tari tanpa membedakan jenis, tujuan, atau konteksnya. Sikap kedua adalah menganggap semua bentuk ekspresi seni pasti baik hanya karena disebut sebagai kebudayaan. Keduanya berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya membutuhkan pertimbangan.

Bagi seorang Muslim, keyakinan dan akhlak menjadi landasan penting dalam

mengambil keputusan. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu dipertimbangkan meliputi: tujuan kegiatan, bentuk gerakan, busana yang dikenakan, musik dan lirik pengiring, situasi pertunjukan, serta dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu pelajar berpikir lebih matang daripada sekadar mengikuti tren atau meniru teman.

Pada saat yang sama, persoalan hukum agama tidak sebaiknya diputuskan hanya berdasarkan potongan video, komentar media sosial, atau pendapat orang yang tidak jelas sumbernya. Jika ada keraguan mengenai unsur tertentu dalam sebuah tarian, pelajar dapat bertanya kepada guru agama atau ulama yang dipercaya, menjelaskan konteks pertunjukannya, lalu mendengarkan penjelasan secara utuh. Sikap ini lebih bertanggung jawab daripada saling memberi cap, mempermalukan, atau menganggap orang lain kurang beriman hanya karena pilihan kegiatan seni yang berbeda.

Menakar batas juga berarti menyadari bahwa lingkungan sekolah terdiri atas pelajar dengan latar belakang dan tingkat pemahaman yang beragam. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran. Sekolah dapat menyediakan ruang dialog agar siswa memahami alasan di balik suatu aturan, sementara penyelenggara kegiatan dapat mencari bentuk pertunjukan yang menghormati nilai dan kenyamanan peserta. Prinsipnya bukan memaksa semua orang memiliki selera yang sama, melainkan membangun kesepakatan yang jelas dan saling menghormati.

Etika sebagai Kompas Kreativitas

Menurut saya, etika seharusnya menjadi kompas, bukan tembok yang menutup seluruh kemungkinan. Pelajar yang ingin menekuni seni tari dapat memulai dengan mempelajari makna tarian, menghormati penciptanya, memahami aturan kegiatan, dan mempertimbangkan kesesuaian kostum serta gerakan. Jika suatu bagian menimbulkan persoalan, bagian tersebut dapat didiskusikan dan, bila memungkinkan, disesuaikan tanpa menghilangkan karakter utama tarian.

Misalnya, kelompok tari sekolah dapat mengadakan riset kecil sebelum tampil: dari daerah mana tarian berasal, apa fungsi sosialnya, bagaimana gerak dan kostumnya dimaknai, serta apa yang perlu dijelaskan kepada penonton. Merekajuga dapat memilih busana yang sopan dan nyaman, menjaga batas interaksi yang disepakati, serta memastikan bahwa latihan tidak mengabaikan kewajiban belajar dan ibadah. Langkah-langkah ini bukan jaminan bahwa setiap persoalan selesai, tetapi menunjukkan bahwa kreativitas dapat disertai tanggung jawab.

Pelajar pun perlu belajar membedakan penghormatan terhadap tradisi dari eksploitasi budaya. Mengubah tarian demi popularitas semata, menampilkan simbol sakral tanpa memahami maknanya, atau mengklaim budaya daerah lain sebagai milik sendiri dapat melukai masyarakat pemilik tradisi. Sebaliknya, mencantumkan asal tarian, mengundang pelatih yang memahami tradisi, dan menjelaskan makna pertunjukan merupakan bentuk penghargaan. Seni yang baik bukan hanya menarik dilihat, tetapi juga jujur terhadap sumber dan maknanya.

Media Sosial: Panggung yang Memperbesar Tanggung Jawab

Kini, pertunjukan tari tidak selalu berakhir ketika lampu panggung padam. Video latihan dan penampilan dapat diunggah ke media sosial, disebarkan ulang, lalu dinilai oleh orang-orang yang tidak mengetahui konteksnya. Media sosial membuka peluang untuk memperkenalkan budaya kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga membawa risiko: potongan video dapat disalahartikan, komentar merendahkan dapat menyebar, dan keinginan mengejar perhatian dapat mendorong seseorang mengabaikan batas pribadinya.

Karena itu, sebelum mengunggah video tari, pelajar perlu memikirkan persetujuan orang-orang yang terlihat, keamanan informasi pribadi, kesesuaian pakaian dan gerakan, serta dampak unggahan terhadap dirinya dan kelompoknya. Popularitas bukanlah ukuran tunggal keberhasilan. Sebuah video yang ditonton jutaan kali belum tentu lebih bermakna dibandingkan pertunjukan sederhana yang mampu mendidik penonton tentang nilai-nilai budaya sekaligus mempererat kebersamaan.

Pelajar Muslim juga perlu mengembangkan adab digital. Perbedaan pandangan mengenai seni tidak memberi hak kepada siapa pun untuk menghina tubuh, pakaian, keyakinan, atau keluarga orang lain. Kritik yang baik menjelaskan alasan dan menawarkan perbaikan; ejekan hanya memperlebar jarak. Dengan demikian, menjaga etika tidak berhenti di panggung, tetapi berlanjut pada cara kita berbicara dan memperlakukan orang lain di ruang digital.

Sekolah dan Keluarga Perlu Menjadi Ruang Dialog

Tanggung jawab tidak boleh dibebankan kepada pelajar seorang diri. Sekolah, keluarga, pembina ekstrakurikuler, dan komunitas seni perlu membantu mereka membuat keputusan yang berpengetahuan. Sekolah dapat menyusun pedoman kegiatan yang transparan, menjelaskan tujuan pertunjukan, mengatur proses pemilihan kostum dan koreografi, serta membuka ruang konsultasi bagi siswa yang memiliki keberatan. Aturan yang jelas lebih mendidik daripada larangan mendadak

yang tidak disertai penjelasan.

Guru seni dapat mengenalkan sejarah dan teknik tari, sedangkan guru agama dapat membantu siswa membahas persoalan etika dan keyakinan dengan sumber yang dapat dipercaya. Keduanya tidak perlu saling meniadakan. Kolaborasi justru memungkinkan pelajar melihat persoalan dari beberapa sudut. Keluarga pun sebaiknya mendengarkan alasan anak, menyampaikan nilai yang diyakini, dan mencari solusi bersama alih-alih langsung menghakimi.

Selain itu, sekolah dapat mengembangkan kegiatan yang mempertemukan seni dan pengabdian. Siswa dapat mendokumentasikan tarian daerah yang mulai jarang dikenal, mewawancarai pelaku budaya, membuat pameran tentang sejarah tari, atau menampilkan karya yang telah dikaji bersama. Dengan begitu, pelestarian budaya tidak terbatas pada gerakan di atas panggung, melainkan juga mencakup penelitian, dokumentasi, dan penghormatan kepada para pewarisnya.

Penutup: Berkarya dengan Kesadaran

Menakar batas kebudayaan seni tari di lingkungan pelajar Muslim bukanlah upaya mencari alasan untuk membenarkan semua hal atau menolak semuanya. Ini adalah latihan kedewasaan: belajar memahami sebelum menilai, mempertimbangkan sebelum bertindak, dan menghormati perbedaan tanpa melepaskan prinsip. Tari dapat menjadi jalan untuk mengenal sejarah, melatih disiplin, membangun kerja sama, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya. Namun, semua manfaat itu perlu disertai kesadaran terhadap etika, konteks, dan tanggung jawab.

Saya percaya, pelajar Muslim tidak harus memilih antara menjadi pribadi yang taat dan menjadi generasi yang peduli pada kebudayaan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila keputusan diambil dengan ilmu, dialog, dan niat yang baik. Jika ada bagian dari suatu pertunjukan yang menimbulkan keraguan, jalan keluarnya bukan selalu pertengkaran; bisa jadi jawabannya adalah belajar lebih dalam, berkonsultasi, atau merancang bentuk ekspresi yang lebih sesuai.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seni tidak hanya terletak pada indahnya

gerakan atau meriahnya tepuk tangan. Keberhasilan juga tampak ketika pelajar mampu menghargai warisan leluhur, menjaga martabat diri dan orang lain, serta
bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat. Kita boleh menari dengan penuh
semangat, tetapi jangan sampai kehilangan nurani. Sebab kebudayaan akan tetap hidup bukan hanya karena diwariskan, melainkan karena dipahami, dirawat, dan dikembangkan dengan bijaksana.

NB: – Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.

-Referensi penulis tidak ditampilkan, bila ingin membacanya, bisa hubungi narahubung yang tertera di BC-an pamflet Lomba Opini.

Penulis: Halwa Nur Ramdhani Al-Ahya (Peserta Lomba Opini)

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad