Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Wisuda PPMI Mesir: Mahal atau Sesuai Kebutuhan?

Wisuda PPMI Mesir: Mahal atau Sesuai Kebutuhan?

Ilustrasi Gambar: Media Anniversary Informatika Mesir ke-32

Oleh: Moch Fikri Abdul Azis

Sudah menjadi sebuah adat bahwa di setiap kelulusan jenjang pendidikan—umumnya suatu lembaga pendidikan—akan mengadakan seremonial pemberian penghargaan atas kelulusan para pelajar di jenjang tersebut yang mana kita kenal dengan istilah wisuda. Baik itu jenjang perkuliahan, SMA, SMK, SMP, SD, bahkan dari jenjang taman kanak-kanak pun, wisuda menjadi hal yang lumrah dan tak asing lagi diselenggarakan. Sebagian besar instansi pendidikan menganggap wisuda menjadi hal yang penting dan harus diadakan dengan dalih apresiasi atas kerja keras para peserta didiknya dalam menempuh pendidikan selama periode tertentu. Namun, sebagian kecil instansi lain tidak mengadakan wisuda di setiap kelulusan peserta didiknya dengan berbagai alasan, mulai dari urgensi yang dirasa tidak begitu penting, hingga ketidakmampuan dalam penyelenggaraan wisuda, baik karena kekurangan SDM maupun karena masalah finansial.

Tak hanya di Indonesia, ternyata di Mesir pun, para mahasiswa dan pelajar Indonesia di Mesir, atau yang setelah ini akan kita sebut sebagai Masisir tidak ketinggalan dalam menyelenggarakan seremonial wisuda dalam setiap kelulusan jenjang studi, bahkan tidak hanya dalam kegiatan akademik formal seperti perkuliahan, beberapa lembaga pendidikan non-formal seperti rumah binaan dan kegiatan daurah pun juga turut mengadakan wisuda atas kelulusan para pesertanya. Jika dalam lini terkecil saja sudah ada pengadaan kegiatan wisuda, maka sudah tentu kelulusan studi perkuliahan—yang mana kuliah merupakan tujuan utama mayoritas Masisir—juga dirayakan dengan pengadaan kegiatan wisuda. Wisuda yang lumrah diadakan untuk merayakan dan mengapresiasi para mahasiswa Universitas Al-Azhar kurang lebih ada tiga jenis wisuda, yaitu; wisuda yang diadakan oleh setiap fakultas, wisuda yang diadakan oleh pihak Markaz Tatwir untuk para wafidin, dan yang terakhir dan akan menjadi fokus utama kita dalam tulisan ini ialah wisuda yang diadakan oleh PPMI Mesir.

Seperti sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis, bahwasanya Wisuda PPMI Mesir sering dianggap sebagai kegiatan Masisir paling besar dan megah di setiap tahunnya. Penyematan sifat “besar dan megah” di sini dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari pesertanya yang sangat banyak, kepanitiaannya yang paling besar, persiapan kegiatannya yang sangat lama, aula pengadaan yang paling megah dan besar, juga kegiatan dengan biaya penyelenggaraan paling besar. Sudah menjadi sebuah kelaziman bahwa biaya yang dibebankan kepada para Masisir yang hendak mengikuti wisuda ini bertambah di setiap tahunnya. Wisuda PPMI Mesir tahun ini menetapkan harga kepada setiap pesertanya sebesar 2.650 EGP atau Rp900.000, yang mana mengalami kenaikan mengingat biaya mengikuti Wisuda PPMI Mesir tahun lalu sebesar 2.200 EGP atau Rp710.000 per orangnya. Akan tetapi, ada hal unik yang terjadi di tahun ini. Jika di tahun-tahun sebelumnya jumlah peserta selalu meningkat di setiap tahunnya, yang mana tahun lalu menyentuh angka sekitar 1200 orang, pada tahun ini jumlah peserta ternyata menurun, yaitu hanya sekitar 700-an saja. Berbagai asumsi terkait penyebab menurunnya jumlah peserta wisuda tahun ini pun muncul, mulai dari anggapan bahwa jumlah Masisir yang lulus di tahun ini memang lebih sedikit dari tahun sebelumnya, beberapa Masisir merasa cukup dengan mengikuti wisuda yang diadakan oleh Markaz Tathwir, hingga asumsi yang paling kalcer ialah biaya yang dirasa cukup mahal.

Dari sini, muncul pertanyaan, “apakah biaya ini terhitung mahal atau memang sesuai kebutuhan?”. Tentu saja di sini penulis tidak dapat memberikan jawaban pasti, mengingat penulis tidak pernah menjadi panitia wisuda juga tidak pernah menjadi verifikator LPJ kegiatan wisuda. Jika kita melihat dari pamflet yang disebarkan oleh panitia, panitia telah melampirkan rincian alokasi biaya yang dibebankan kepada para peserta wisuda. Akan tetapi, tentu untuk mengetahui kebenarannya, tidak cukup hanya dengan melihat pamflet tersebut, namun perlu melihat laporan realisasi pemasukan dan pengeluaran dalam kegiatan wisuda ini. Nah, siapakah yang menjamin seluruh uang yang hampir menyentuh angka satu miliar tersebut dialokasikan sebagai mana mestinya? Apakah BPA PPMI Mesir yang merupakan representasi dari seluruh Masisir? Tetapi, dalam realita lapangan, BPA tidak melakukan hal itu karena di sini ada kerancuan, apakah uang yang dibayarkan oleh para peserta Wisuda PPMI Mesir kepada panitia itu merupakan uang PPMI Mesir atau bukan? Apakah panitia Wisuda PPMI Mesir memiliki wewenang penuh terhadap uang tersebut? Atau mereka berada di bawah pengawasan penuh presiden PPMI Mesir? Atau di bawah Kemenkoan Pendidikan? Dan andai ternyata berada di bawah pengawasan Presiden dan Kemenkoan Pendidikan, apakah mereka dengan segala kesibukannya sebagai eksekutif PPMI Mesir dapat mengawasi secara maksimal?

Semua pertanyaan di atas tentu tidak dapat dijawab secara pasti kecuali oleh pihak-pihak yang terlibat dan memiliki wewenang atas terselenggaranya kegiatan ini, baik panitia maupun supervisor dari pihak PPMI Mesir. Di sini penulis berpendapat bahwa akan lebih baik jika pihak panitia mempublikasikan transparansi realisasi sirkulasi keuangan kegiatan Wisuda PPMI Mesir, agar tidak ada lagi anggapan bahwa biaya Wisuda PPMI Mesir itu mahal, melainkan memang sudah sesuai kebutuhan. Selain itu, perlu adanya pihak yang benar-benar mengawasi sirkulasi keuangan Wisuda PPMI Mesir, bukan hanya mengawasi pengeluaran yang berasal dari subsidi PPMI Mesir saja, namun seluruh keuangan Wisuda PPMI Mesir. Mengingat jumlahnya yang sangat fantastis. Jika kita hitung secara kasar, pemasukan biaya pendaftaran Wisuda PPMI Mesir tahun lalu sejumlah Rp710.000,00 X 1200 orang = Rp852.000.000,00, hampir menyentuh angka 1 miliar rupiah. Untuk pemasukan tahun ini, dapat kita hitung secara kasar sebesar Rp900.000,00 X 757 orang = Rp681.300.000,00. Walau berbeda sekitar 200 juta rupiah dari tahun lalu, tetap saja itu jumlah yang besar. Selain itu, penulis yakin semua pihak baik panitia maupun non-panitia sepakat bahwa kepanitiaan Wisuda PPMI Mesir bukanlah sebuah bisnis yang orientasinya adalah keuntungan, melainkan merupakan bentuk khidmat terhadap seluruh Masisir yang mana semakin memperkuat alasan untuk diadakannya pengawasan dan publikasi transparansi keuangan. Bahkan, boleh jadi hal ini juga dapat meningkatkan minat Masisir untuk mengikuti kegiatan Wisuda PPMI Mesir, karena mereka tahu bahwasanya harga yang telah ditetapkan oleh panitia bukanlah harga yang mahal, melainkan harga yang sesuai kebutuhan, jika memang benar demikian adanya. Bahkan jika kita berpikir lebih jauh dan lebih liar lagi, boleh jadi dengan transparansi keuangan yang jelas akan menarik para orang-orang kaya yang bingung dalam membelanjakan hartanya untuk menjadi donatur di kegiatan Wisuda PPMI Mesir. Memang jauh, sih, tetapi mungkin saja terjadi, kan?

Terlepas dari semuanya, kita semua pasti selalu berharap yang terbaik bagi Masisir secara umum dan bagi Wisuda PPMI Mesir secara khusus. Selain kritik dan saran terhadap pengawasan keuangan, sebenarnya banyak aspek lain yang juga perlu kita perhatikan, seperti efisiensi waktu dalam persiapan Kepanitiaan Wisuda PPMI Mesir misalnya, bagaimana agar para panitia selain harus maksimal dalam melaksanakan tugasnya namun tetap tidak lupa terhadap identitasnya sebagai mahasiswa yang memiliki kewajiban belajar dan kuliah, identitas sebagai muslim yang selalu memperhatikan aspek ubudiah dan interaksi dengan lawan jenis. Bahkan, selain itu, rasa-rasanya kita juga perlu memperhatikan para peserta wisuda yang seharusnya memantaskan diri sebagai wisudawan/wati yang ideal. Tentu untuk menjadi penyandang gelar “Lc.” atau bahkan “M.A.” yang pantas, perlu dipersiapkan sejak dini, sejak masih berada di tingkat 1, bukan hanya ketika di tingkat akhir saja, atau bahkan berprinsip, “Ah, yaudahlah, nanti aja dipikir setelah wisuda”. Mari kita sama-sama mengusahakan yang terbaik, agar ketika kita wisuda nanti, tidak ada penyesalan — agar momen wisuda benar-benar terasa seperti wisuda sebenarnya yang menjadi ajang pengapresiasian atas apa-apa yang telah kita usahakan selama masa perkuliahan.

*Tulisan ini adalah tulisan terbaik 1 dalam rangka Lomba Opini Anniversary ke-32 Informatika Mesir

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad