by

Tentang Kuantitas Masisir; Kuantitas Sama dengan Masalah

-Opini-918 views

Oleh: Ahmad Saiful Millah, Pegiat Kajian Masisir

Tema obrolan yang masih hangat diperbincangkan, karena minggu lalu tepatnya pada Sabtu, 29 Agustus 2020, ia menjadi tema diskusi SDC (Students Dialogue Community) perdana oleh PPMI Mesir. Saya kebetulan menjadi salah satu panelisnya, sekalipun saya merasa tidak pantas berceloteh tentang tema itu, masih ada aktivis dan para pengamat lain yang lebih layak. Tapi ya sudah lah, saya niatkan mewakili suara kawan-kawan dan beberapa senior dalam lingkaran saya pribadi dengan menyampaikan hasil jagongan ngopi alias ngolah-pikir di belakang layar, guna meminimalisir subjektivitas.


Tema ini semakin menarik perhatian, karena ternyata ia menjadi judul tesis ust. Mufid Mas’udi di jurusan Tarbiyyah Islamiyyah Universitas al-Azhar. Sekalipun seingat saya, beliau menggunakan data Masisir hingga 2017 terakhir. Artinya, data yang digunakan adalah data sebelum kuantitas Masisir membludak, yaitu dimulai sejak 2018.


Selain itu, saya merasa memang perlu adanya evaluasi terkait membludakya kuantitas Masisir oleh para stakeholder, karena kita menyadari bersama bahwa bertambahnya kuantitas, potensi munculnya masalah pun bertambah. Sedangkan perbaikan, tenaga antisipatif dan fasilitas ternyata minim perubahan. Bahkan, saya juga ikut meyakini hal yang diyakini oleh salah satu senior saya, bahwa ‘kuantitas sama dengan masalah’.


Bayangkan, penduduk Mesir tiga abad yang lalu masih sekitar 2,5 juta. Syariat Islam ketika itu masih cenderung mudah diterapkan. Namun sekarang, penduduk Mesir sudah tembus 100 juta jiwa yang ternyata berimbas pada sulitnya penerapan syariat Islam itu sendiri.


Analogi sederhana lagi adalah masalah pemerintahan Islam, ketika masih berpusat di Madinah pada era kenabian, praktis syariat Islam mudah teraplikasikan. Hukum yang baru turun, cepat sekali tersampaikan ke khalayak secara menyeluruh. Hal-hal terkait siasat pertahanan dalam dan luar negeri mudah terkomunikasikan, sekalipun dengan cara yang sangat primitif. Konflik tetap ada, tapi, apakah sekompleks konflik di zaman khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan dinasti-dinasti setelahnya yang mana pengikutnya semakin meningkat?


Hukum alam mengatakan bahwa bertambahnya kuantitas artinya bertambah juga konflik dan masalah. Mengutip pendapat Mufti Mesir Syaikh Syauqi ‘Allam tentang pembatasan anak, ia dibolehkan secara syara’, karena banyak anak artinya kebutuhan semakin banyak, usaha memenuhi sandang pangan harus semakin besar, bahkan Imam Syafii memiliki pendapat bahwa banyak anak itu dekat dengan kemiskinan, begitu kira-kira tafsir dari ayat ke-3 surat An Nisa; dzâlika adnâ an lâ ta’ûlû. Itu semua memperkuat keyakinan ‘kuantitas sama dengan masalah’.


Di satu sisi, harapan saya dan kita semua adalah antara kuantitas dan kualitas dapat berbanding lurus. Kita ingin agar masisir terus bertambah dan yang kembali ke Indonesia juga berkualitas dengan ilmu yang telah ditimba dari al-Azhar. Saya mencatat sisi positif dari kuantitas masisir yang membludak setidaknya ada empat:

Banyaknya para duta Azhar
Boleh saya katakan, ini adalah alasan utama Grand Syekh Ahmad Thayyib membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapapun yang hendak belajar di al-Azhar, dari negara manapun, berlatar belakang apapun, bahkan berideologi dasar apapun; agar semakin banyak duta Azhar dan misinya yang tersebarkan ke seluruh pelosok dunia tanpa terkecuali. Terlebih di tengah perang pemikiran yang semakin memanas. Dengan harapan para duta Azhar mampu menjadi lilin di tengah kegelapan, mampu membangun jalan tengah di tengah masyarakatnya.


Bersambungnya sanad keilmuan dengan para ulama Azhar
Sanad keilmuan ini sangat penting, baik sanad dirâyah (mata rantai pemahaman), maupun sanad riwâyah (mata rantai periwayatan). Terlebih untuk sanad keilmuan tertinggi sekarang dipegang oleh ulama al-Azhar, sehingga al-Azhar mendapat julukan ‘kiblat ilmu’. Ini bukanlah basa-basi belaka. Saya masih ingat sekali, Syekh Ramadhan Buthi mengakui kualitas keilmuan al-Azhar sebagai madrasah dengan kualitas keilmuan tertinggi di dunia; “Al-Azhar fi a’la al mustawayât fi al-ílmi.”

Bertambahnya mereka yang menapaki jalan ulama
Menapaki jalan ulama adalah kunci belajar. Saya masih ingat juga ketika ada yang bertanya atau tepatnya mengeluh ke kiai saya tentang alumninya yang di Mesir, beliau menjawab kurang lebih begini, “Saya tau nda semua yang berangkat ke Mesir bakal jadi ulama, saya tau nda semua yang di Mesir serius belajar, tapi setidaknya mereka sedang menapaki jalan ulama.”

Penuhnya majelis-majelis ilmu
Kita tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa geliat dunia talaqqy baik di masjid masjid Azhar maupun di tempat-tempat ngaji lainnya semakin terlihat. Yang meramaikan siapa? Ternyata ya banyak juga dari Masisir, bahkan banyak di antara Masisir sampai menjadi murid terdekat beberapa masyayikh Azhar. Itu luar biasa, perlu diacungi jempol. Pun ternyata, nama pelajar Indonesia secara umum masih sangat harum di antara masyayikh Azhar.


Tapi di sisi lain, saya menemukan fakta yang tidak seideal harapan di atas. Masalah yang Masisir hadapi sangat kompleks, jika merujuk ke tesis Ustadz Mufid di atas, maka peta masalah yang Masisir hadapi ada tiga; masalah akademik, sosial, dan ekonomi. Ya bisa dibayangkan sih, sekompleks itukah masalah Masisir sampai menjadi judul tesis?


Pakde Aji Surya selaku Wakil Duta Besar RI untuk Mesir, minggu lalu membisiki saya kurang lebih begini, “Memang, setelah saya lihat, dari sekian banyak Negara, kompleksitas masalah yang ada ya di Mesir ini yang paling ruwet (dalam konteks kemahasiswaan).’’


Saya bukan praktisi gerakan sosial kemasisiran, juga tidak mengamati secara umum terkait ekonomi kemasisiran. Sehingga mungkin saya lebih ingin menyoroti masalah kemasisiran dalam ranah akademik dan beberapa turunannya, sebagai autokritik Masisir dan para pemangku kebijakan.


Saya melihat, populasi senior tidak berbanding lurus dengan populasi junior, sehingga banyak sekali adek-adek baru yang lepas dari bimbingan dan perhatian. Akibatnya, harapan-harapan indah dari tanah air seketika ambyar, mereka tidak tahu harus melakukan apa, harus baca apa. Alih-alih dikenalkan dengan Masyayikh Azhar, tempat ngaji pun kadang tidak tahu. Keambyaran itu minimal di tahun pertama. Setelah itu, jika dia merasa kering dan tertampar, dia akan bangkit dan melawan. Namun jika sebaliknya yang terjadi, itulah yang berbahaya. Setelah dia merasa ambyar karena tidak produktif, dia pasrah dengan keadaan dan malah menikmatinya.


Ada dua fakta yang membuat saya ngelus dodo; yang pertama, ada di antara Masisir yang selama empat tahun di Mesir tidak mengkhatamkan kitab satu pun, dan yang kedua adalah ada di antara salah satu adek Masisir selama bertahun-tahun di Mesir, dia tidak tahu lokasi masjid Azhar, padahal dia pergi ke kampus dan masjid Azhar tepat ada di sebelahnya.


Setelah ditanya, dia menjawab, “lo orang ga ada yang ngasih tau”. Apalagi adek-adek baru yang baru datang tahun terakhir ini, kegiatan kampus mandeg, majelis-majelis talaqqi juga mandeg, bisa terbayang larinya ke mana kan, jika tidak ada bimbingan? Iya betul, update film korea wa akhawâtuhâ dan nge-game.


Tidak apa-apa bagi saya nonton dan nge-game, asal posisi game sebagai objek yang dikendalikan. Tapi kalau terlalu sering dan menjadi keseharian, ya namanya ia menjadi subjek yang mengendalikan. Kasian mereka, tidak ada yang menaungi, orang tua jauh, pemerintah tidak mengawasi, berharap ke kampus juga tidak akan bersambut, apalagi majelis talaqqi, semuanya tidak ada yang mengikat.


Bukannya mereka sudah besar dan dewasa? Sudah besar mungkin iya, tapi dewasa saya kira tidak, karena nyatanya mereka masih butuh bimbingan, kalau salah ditegur, kalau lalai diingatkan. Terlebih masalah bimbingan ini ya dibutuhkan oleh siapapun dan kapanpun. Saya misalnya, saya sampai sekarang memiliki senior yang saya jadikan sebagai mentor untuk menjadi pijakan langkah.


Saya juga mendapati banyak Masisir yang tidak basa baca kitab. Ini ‘tidak bisa’ bi ma’nal kalimah (arti yang sebenarnya). Itu fatal sekali, bagaimana dia akan melanjutkan belajar di sini yang diktat dan referensi-referensinya menggunakan Bahasa Arab? Bagaimana dia akan menggali keilmuan Islam yang tersimpan di dalam lembaran kitab-kitab klasik?


Saya juga mendengar langsung, ada yang didoktrin sejak di tanah air agar membaca diktat atau kitab, yang penting paham arti globalnya, tidak perlu didetailkan. Bahkan faktanya, banyak di antara Masisir yang ilmu alat baca kitabnya sudah bagus, sampai Mesir malah melemah. Salah satu faktornya adalah terbiasa memaknai teks dengan makna global, seperti yang biasa dilakukan ketika membaca diktat kampus.


Itu lebih parah menurut saya, karena yang tidak bisa sama sekali seringkali malah semangat belajarnya, minta diajarin kawan atau seniornya, sehingga lambat laun dia bisa baca kitab, lah ko yang sudah punya modal ilmu alat malah melemah?


Ditambah lagi, dunia talaqqy ternyata juga tidak seideal yang dibayangkan. Butuh kesabaran dan ketekunan ekstra. Letak tempat tinggal Masisir yang jauh dari tempat talaqqi menjadi faktor terberat untuk menghadirinya. Saya yang selama kurang lebih enam tahun tinggal di kawasan Darrasah yang notabenenya dekat dengan majelis talaqqi, seringkali malas untuk beranjak.


Bayangkan, majelis Fikih atau Ushul Fikih seminggu satu kali, persatu pertemuan hanya membahas satu halaman, minggu ini datang ke majelis ternyata syekh tidak datang. Minggu depan syekh datang eh saya yang tidak datang, praktis selama dua minggu saya tidak menambah kajian di kitab itu. Bahkan, di antara sekian talaqqers banyak yang tidak memahami cara talaqqi yang benar, siapa yang setelah talaqqi dia mengulang apa yang dia kaji, siapa yang sebelum talaqqi dia membaca terlebih dahulu materi yang mau dikaji?


Saya menilai masalah lingkungan juga menjadi masalah yang mendarah daging sejak dulu. Rasanya, ungkapan ‘’kalau kamu tidak bisa menaklukan Kairo, maka kamu yang akan ditaklukan’’ betul-betul ada di depan mata.


Saya kasih sampel sederhana, kebetulan saya bergerak di rumah kepembinaan, setiap tahun sejak 2017 saya memawancarai kawan-kawan yang hendak bergabung di komunitas rumah itu, katakan setiap tahun ada seratus anak yang mendaftar. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘’kenapa kamu ingin bergabung?’’. Sejak dulu jawaban mereka sama, “ingin mencari lingkungan belajar’’.


Ini bagi saya sudah cukup untuk mengatakan bahwa Masisir memiliki masalah yang sangat serius pada lingkungan belajar. Belum lagi sampel-sampel lain yang bisa dilihat dengan mata kepala. Karena memang kultur di Mesir adalah menciptakan lingkungan, bukan bergantung kepada lingkungan.


Bisa dibayangkan, saking terbawanya dengan kebiasaan dan lingkungan, ada yang sangat jauh dengan dunia literasi. Saya bisa pastikan, ada yang sampe selama lima tahun di Mesir, dia tidak pernah membeli kitab selain diktat dan buku wajib liannya.


Saya datang ke Mesir 2014 mengambil jurusan Syariah Islamiyyah. Sejak dulu, gedung dan ruangan belajar ya segitu saja, syu’un (kantor administrasi.red) kampus juga masih sama, dan fasilitas-fasilitas lainnya secara umum tidak berubah. Ibarat itu semua adalah mesin penggiling yang memiliki batas kemampuan, apa yang akan terjadi jika ia kelebihan bahan gilingan? Artinya, saya ingin menyorot aspek fasilitas belajar mengajar.


Saya melihat jumlah mahasiswa itu harus disesuaikan dengan kesiapan al-Azhar sendiri dalam memfasilitasi anak-anak didiknya dengan baik dan ideal. Fasilitas di sini artinya sangat luas, termasuk ruang belajar, syu’un kampus yang siap meng-handle semua mahasiswa, tempat tinggal yang aman dan nyaman, pengurusan izin tinggal dipermudah, serta lingkungan keilmuan yang hidup dan kondusif dengan adanya majlis-majlis ilmu yang dibuka. Saya tetap husnudzan dengan al-Azhar. Boleh jadi, masalah-maslaah yang ditimbulkan oleh kuantitas mahasiswanya belum sampai ke pihak Azhar, sehingga seolah tidak ada masalah di bawah.


Jadi, ada banyak pihak yang ikut terkait dalam masalah lingkungan ini. Jangan sampai ada masalah yang terus berlarut, para stakeholder terkhusus KBRI Kairo yang secara kekuatan lobi lebih bisa dipercaya oleh pihak al-Azhar harus bisa melihat masalah-masalah ini. Kita perlu menyampaikan lobi terbaik kepada al-Azhar. Pihak KBRI Kairo menurut saya juga harus betul-betul sadar terkait prinsip dasar kuantitas yang bertambah akan meningkatkan potensi masalah yang ada, artinya masalah-masalah yang dihadapi problem Masisir ini juga merupakan imbas dari kebijakan-kebijakan KBRI itu sendiri bahkan sejak sebelum ke Mesir pada proses penyaringan.


Karena faktanya, kita juga memiliki masalah yang sangat serius pada proses penyaringan yang tidak ideal (baca: kotor). Bahkan masalah ini saya katakan sebagai keran yang mengucurkan air masalah. Harus ada perbaikan, dibutuhkan integritas yang tinggi dari para pemegang tanggung jawab seleksi mahasiswa baru. Jika tidak, maka mau sampai kapan masalah akan terus mengalir?


Perbaiki kerannya, maka masalah ke depan akan terminimalisir. Tahun lalu, ada dua puluh nama peringkat atas tes seleksi, tidak ada angin tidak ada hujan, nama mereka tiba-tiba hilang. Ada yang berhasil berangkat ke Mesir tanpa tes. Ada yang mengaku berhasil berangkat ke Mesir hanya bermodalkan hafalan soal tahun-tahun sebelumnya. Artinya, sebenarnya soal-soal tidak berubah, hanya berubah nomor urut saja mungkin.


Belum lagi masalah kebocoran soal sebelum hari seleksi dilaksanakan, juga nepotisme kaum elit yang menjamin keberangkatan ke Mesir sekalipun tidak lolos seleksi. Tes seleksi juga tampak seperti formalitas. Mungkin saya termasuk yang seharusnya tidak lolos seleksi dulu, karena syarat seleksi adalah memiliki hafalan dua juz al-Quran, tapi dulu saya hanya dites hafalan al-ikhlâsh dan al-fîl.


Menurut saya, untuk solusi dari masalah-masalah yang timbul di Masisir ini harus dipikul bersama-sama, baik para stakeholder dan para senior harus bersinergi mengatasi masalah-masalah yang ada. Ayok, para senior ikut turun tangan membimbing di lingkaran pengaruhnya masing-masing. Berikan bimbingan terbaik kepada adek-adek juniornya masing-masing. Dengan kesadaran bersama dan menyeluruh, saya kira pelan-pelan, satu persatu, masalah-masalah yang ada akan terminimalisir, terkhusus dalam ranah akademik masisir.


Saya juga terbayang, setiap kekeluargaan mengadakan bimbingan daurah keilmuan, peta keilmuan, dan semacam bimbingan cara belajar yang benar. Toh setiap kekeluargaan memiliki divisi pendidikan. Objeknya adalah mahasiswa baru, karena maba pasti butuh arahan. Bahkan jika perlu, jadikan program bimbingan ini sebagai program wajib bagi mereka khususnta yang bekal keilmuannya lemah.


Adapun usaha memperbaiki keran seleksi masuk ke Mesir, ke depan juga sangat perlu ada tindakan serius. Terkhusus para stakeholder PPMI dan KBRI yang memiliki peran strategis menyampaikan lobi terbaik kepada pihak penyelenggara seleksi, karena itu adalah masalah pokok yang melahirkan masalah-masalah lain.


Doa terbaik untuk kita semua, semoga kita terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Amiin yaa Mujiibassaailiin.


Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya