Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Prahara El-Fasher

Prahara El-Fasher

Aku tidak tahu sejak kapan bau anyir darah bisa membuatku terdiam lama. Dulu, setiap kali darah tercucur, aku bergidik. Sekarang, setiap darah yang tertumpah, aku berhenti sebentar. Tetapi, berhenti pun tak mengubah apa-apa.

Konvoi kami datang pagi-pagi ke kota El-Fasher. Perintahnya jelas, tapi suaranya datar; “Bersihkan wilayah ini.” Tidak ada yang menanyakan maksud kata ‘bersihkan’, karena semua sudah tahu arti sebenarnya. Aku dan teman-temanku berpakaian rapi, berseragam, membawa senjata yang baru dibersihkan malam sebelumnya. Di jalan utama kota, ada pasar yang belum sepenuhnya kosong dari manusia. Seorang anak menatap kami sambil memegang sepotong roti. Ia tidak sempat beranjak ketika suara senapan pertama menyalak.

Sebenarnya aku ingin menceritakan bagaimana kami melakukannya. Tapi, aku ingin kau lebih tahu bagaimana rasanya setelahnya. Di balik tawa dan kebengisan kami, rasanya seperti berdiri di tengah padang pasir tidak berujung, kebingungan, dan di sekelilingmu semua orang bersorak, sementara di kepalamu hanya ada dengung nyamuk yang tak kunjung pergi.

Sorenya kami menumpuk rampasan, mengangkut potongan-potongan yang dulunya adalah orang. Lalu malamnya, aku mencuci tangan yang pekat karena darah dan debu. Komandan kami makan dengan lahap, tertawa, menyebut misi ini berhasil. Aku ikut tertawa—karena itu yang harus kulakukan. Tapi tawa itu terlalu getir untuk cuplikan-cuplikan yang masih ditampilkan kepalaku.

Hari ini aku masih di sini, di tepi El-Fasher yang sunyi. Kota ini sudah tak punya suara, tapi di kepalaku, suara itu masih berputar; jeritan dan teriakan memohon ampun. Kadang aku merasa, jika aku menutup mata cukup lama, aku akan melihat anak yang memegang roti itu lagi—menatapku, dengan wajah tak lengkap.

Aku ingin berkesah, tapi tidak tahu kepada siapa. Kepada Tuhan yang sudah kutinggalkan? Kepada diriku sendiri yang dulu? Kepada orangtua yang membesarkanku dengan baik? Kepada orang-orang yang kuhilangkan hari ini? Yang kutahu, aku hanya merasa kosong.

Aku melongoki seragam itu. Noda merah gelap menghiasi berbagai sisinya. Sudah ku coba mencucinya berkali-kali, tapi noda itu seperti punya ingatan sendiri. Setiap kali kusentuh, kaset seakan diputar ulang, aku mendengar kembali suara yang sama—teriakan warga sipil yang tidak selesai. Kadang aku berpikir, noda itu bukan darah orang lain, tapi sesuatu dari dalam diriku yang telah mati.

Kamp sudah pindah beberapa kilometer ke Utara, tapi bau anyir dan asap tetap mengikuti kami. Di setiap tenda, para tentara terlihat tertawa, berbagi cerita tentang apa yang mereka lakukan. Semuanya dikisahkan heroik dan mengasyikkan. Aku mencoba ikut tertawa, tapi setiap kali aku berusaha, tawaku tersendat di tenggorokan. Salah satu dari mereka berkelakar aku sudah tidak semangat. Aku bilang aku hanya lelah. Padahal yang sebenarnya—aku takut; takut pada malam yang panjang. Takut pada mimpi yang menghantui. Takut pada diam yang mencekam.

Aku mulai menulis di buku saku yang kutemukan di balik seonggok tubuh kecil. Sepertinya ia baru belajar menulis; isinya kalimat-kalimat tak jelas yang ia tulis dengan penuh kesalahan ejaan. Sekarang aku menulis di bawahnya: aku bingung. Tapi pensil ini tidak berhenti di sana. Setiap malam kutuliskan lagi nama-nama yang kuingat—orang yang kubenci dan kuserapahi, orang yang kucintai, desa-desa yang terbakar, suara rintihan yang masih menggantung di telingaku. Mungkin dengan menulis, aku berusaha menebus dosa yang tak kutahu siapa yang akan mengampuni.

Purnama demi purnama berlalu. Malam ini aku kembali menulis. Aku menulis bukan untuk meminta maaf, juga bukan untuk menebus. Aku hanya ingin meninggalkan jejak, sebelum semua ini lenyap ditelan berita lain, sebelum dunia melupakan bahwa ini pernah terjadi—kami yang diperintah untuk saling menghancurkan, lalu perlahan hancur bersama.

Penulis: Muhammad Sayyaf Izzuddin

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad