Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Sehari Bersama Sang Koki Mat’am Pemerintah Negara

Sehari Bersama Sang Koki Mat’am Pemerintah Negara

Yah, terlambat lagi terlambat lagi, kesiangan lagi kesiangan lagi. Mau sampai kapan aku bangun kesiangan? Hari ini aku bangun di atas kasurku yang sudah kasar, pernya pada keluar, dan bentuknya pun tidak lagi persegi panjang. Aku tidak tahu kenapa seakan-akan telingaku tertutup, atau mungkin memang aku punya masalah pendengaran yang serius, sampai sampai alarmku yang jumlahnya lebih dari jam tidurku, tak terdengar sama sekali. Sekarang sudah jam sepuluh. Seharusnya aku jaga warung dari jam sembilan, tetapi aku selalu datang terlambat lagi, kena marah senior lagi. Apa aku perlu pindah ke Darosah supaya aku bisa bangun pagi? Mungkin aku malah tidak bisa tidur karena suara anjing-anjing liar yang suka berdialog absurd.

Aku bergegas untuk bersiap-siap, mandi sebentar, memakai pakaianku, lalu langsung saja ku berangkat menuju warungku.

***

Berlembar-lembar uang bayaranku hasil melayani para mahasiswa pemboros harta, sudah tahu harga makanan kami mahal, tetapi tetap saja menjadi makanan harian mereka. Ah! Jika aku jadi mereka, mending saja uang itu kubuat daftar talaki.

Namun, aku teringat bahwa talaki gratisan yang aku ikuti tak pernah kudatangi. Kemarin, sekali aku ikut talaki yang ternyata itu adalah pertemuan ketujuh, yang sebelumnya tak pernah kudatangi karena saking sibuknya, atau mungkin karena kipas angin di kamarku yang anginnya seperti berisikan obat tidur. Kamar yang lembab itu seperti sarang ternyamanku, tempatku berhibernasi—berbeda dengan tempat talaki itu yang tidak ada angin sama sekali, udara panas masuk, pasir karpet tertempel di kakiku, karena terkadang udara membawa pasir masuk melalui jendela ruwaq tua itu.

Jahatnya diriku ini, membandingkan tempat ilmu dengan tempat berlalaian, tetapi sebenarnya bukan itu alasanku tak rutin talaki. Oh jelas, karena aku menjadi orang tersibuk, yang kemana mana selalu pakai batik, mendatangi tempat sosialisasi yang katanya terprogram. Seperti punya visi misi banyak, tetapi sebenarnya banyak yang berantakan. Bernamakan organisasi yang didalamnya berisi orang orang jarang talaki.

Sebenarnya organisasi ini banyak yang bilang kurang baik. Ada yang bilang, isinya orang-orang yang ingin cosplay pemerintah negara. Mereka berkumpul, mengadakan beberapa program kerja yang mereka buat sendiri, dan mereka membuat anggaran untuk program-program mereka yang kata mereka penting, kadang memang dilebih-lebihkan dengan alasan kepentingan organisasi. Padahal program-program itu tak ada hubungannya dengan perkuliahan.

Mereka bilang kumpul itu penting, dan tempat kumpul harus ditempati selayak mungkin—sampai tempat kumpul mereka ingin dibuat seperti aula di hotel bintang lima. Mereka ingin ruangan kumpul ditempati senyaman mungkin, tetapi uang yang dipakai adalah uang “anggota” mereka yang bahkan mereka tidak tahu sejak kapan jadi anggota dari organisasi itu. Anggota yang sebenarnya dari mereka ada yang rakyat jelata. Bahkan sebagian anggota tak tahu bagaimana cara membiayai kehidupan mereka sendiri besok, karena mungkin tidak diberi kiriman, dan warung-warung sudah tidak menerima pekerjaan karena memang sebanyak itu yang mengajukan lowongan pekerjaan. Uang yang benar‐benar mereka butuhkan malah dialirkan kepada organisasi yang sebagian dari mereka bilang, “Itu dibentuk untuk apa?”

Ya, wajar saja kalau mereka datang untuk berkuliah dan menuntut ilmu, bukan untuk berorganisasi. Tau, tau. Mereka ditagih uang wajib untuk organisasi dengan alasan ingin beli pendingin ruangan, agar ruangan kumpul organisasi itu terlihat berkelas. Untung saja pendingin ruangan seharga 30 juta itu tidak direstui oleh Tuhan. Oh, ternyata mereka juga ingin membeli penanak nasi seharga satu juta!

“Penanak nasi apaan itu? Kau kira semua orang bisa makan nasi layak dengan membeli penanak nasi tersebut?” tanya salah seorang maba yang hidupnya kebingungan, tak tahu besok makan pakai duit darimana, tapi dipaksa untuk membayar iuran organisasi itu untuk membeli penanak nasi satu juta. Ya, tidak mungkin semuanya bisa makan nasi layak, tentu hanya orang dalam saja.

Ah sudahlah, tak terasa hari sudah malam. Selesai juga pekerjaanku di warung malam ini. Rasanya capek sekali, melayani orang orang yang kelaparan, yang anti terhadap makanan lokal. Atau mungkin mereka suka masakanku? Ahahah, sudahlah, itu tidak penting. Tetapi yang terpenting, aku mendapatkan uang dan bisa makan besok.

Sialan! Aku lupa bahwa seharusnya malam ini aku ikut bimbingan belajar fikih, aku sudah membayar tetapi dihari itu aku masuk jadwal kerja dari pagi sampai malam. Tapi aku tidak mungkin izin. Juga mana mungkin diizinkan, kalaupun diizinkan, aku tidak akan bisa makan dua hari dari satu minggu karena gajiku akan dipotong banyak. Gajiku benar benar hanya mencukupi seminggu, walaupun berlembar lembar uang, tapi sepuluh paun semuanya, ya sama saja, seperti angin yang tak mungkin bisa dikumpulkan.

Aku sepertinya memang sudah cocok dikatakan aktivis berat. Bagaimana tidak? Hari-hariku sangat penuh, sampai sampai waktuku tertumpuk-tumpuk, tertabrak-tabrak. Buku fikihku sedih mendengarku tak ada waktu bersamanya.

Tetapi kukatakan padanya, “Kau tak boleh bersedih! Karena sungguh aku akan memahamimu di luar kepala!”

Aku tak tahu apakah perkataanku itu hanya asal bunyi seperti omong kosong orang orang rosib, atau memang akan kufahami buku itu.

Dari tadi kukantongi kunci rumahku. Ia sudah memberitahuku kalau sekarang adalah waktunya pulang. Kucari tremko di tengah malam, di jalan yang udaranya kurasakan dingin sekali. Apa memang segila itu musim dingin di sini? Atau mungkin akulah yang terbiasa hidup di kota bermatahari lima?

Setelah lama tubuhku menggigil kedinginan, akhirnya kutemukan satu tremko putih. Kunaiki tremko arah sabi itu yang memang disanalah rumahku.

Sesampainya diriku di depan rumah, selalu saja aku disapa oleh seekor kucing oren kecil, yang sudah menghafal bahwa diriku akan datang di tengah malam di hari sabtu. Selalu terlintas di pikiranku, bisa bisanya kucing itu mengetahui hari ini adalah hari Sabtu. Aku memang selalu memberinya sisa daging masakanku yang kubawa dengan sepenuh hati. Aduhai, baik sekali diriku, memberikan makanan bergizi gratis kepada makhluk lain, sepertinya aku sudah bisa menjadi pemerintah yang bisa selalu memberi makan bergizi gratis. Tapi sejujurnya, memang selalu ada sisa dariku untuk kucing kecil itu, dan sialnya dia selalu datang tepat waktu. Ya, karena mana mungkin dia terlambat? Kucing itu tak punya kesibukan, tak seperti aku yang sibuk seperti manusia super.

Setelah kubuka pintu rumahku, selalu kukira hariku sudah selesai, tapi selalu saja kudapati teman-temanku berkumpul di rumahku. Seperti biasa, ini akan berkelanjutan sampai subuh. Rumahku berantakan penuh asap seperti di-fogging, Bau asap rokok, gorengan, dan tumpahan kopi berpadu menjadi satu. Suara ketawa canda teman temanku terdengar sampai depan rumah, sampai terkadang tetanggaku menegurku. Anjing di jalanan depan rumahku pun ikut menegurku. Itu adalah hal yang biasa kuhadapi. Tapi itu sungguh tidak masalah, karena akhirnya aku besok bisa masak nasi dengan penanak nasi satu juta.

Penulis: Isa Latif Zein

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad