by

Akademik Masisir; 23 Persen Gagal, 278 Orang Tempuh 8 Tahun untuk Lulus

Informatikamesir.net, Kairo — Murid yang dipersenjatai dengan informasi akan senantiasa memenangkan pertempuran. Begitulah perkataan Meladee McCarty, seorang pendidik profesional di California State University, USA. Dapat dikatakan, perlu adanya persiapan yang matang bagi para Masisir untuk menempuh ujian termin satu pada akhir Januari nanti. Untuk menjadi bahan pembelajaran sekaligus kaca perbandingan, bagaimana sebenarnya prestasi akademik mahasiswa program S1 di Al-Azhar pada tahun akademik 2019-2020?

Tepatnya pada acara Students Dialogue Community (SDC) yang mengangkat tema “Masisir Ideal: Di Mesir Belajar Apa?” pada Senin, (30/11/20) lalu, turut hadir di sana Prof. Bambang Suryadi, Ph.D selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Kairo. Ia pun memaparkan sebuah data yang komprehensif terkait data statistik prestasi akademik para pelajar Indonesia di Mesir.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak Atdikbud KBRI Kairo, terkhusus pada tahun akademik 2019-2020, menyebutkan bahwa total pelajar asal Indonesia di Mesir telah mencapai 8.387 orang, dengan persentase laki-laki sebanyak 70% dan perempuan sebanyak 30%. Ada pun jumlah laki-laki adalah sebanyak 5.848 orang sedangkan perempuan sebanyak 2.539 orang.

Faktanya, dalam hal akademik, pelajar perempuan lebih berprestasi daripada laki-laki. Persentase pelajar laki-laki yang tidak lulus ternyata mencapai angka 27%, sedangkan pelajar perempuan hanya 15 %.

Secara keseluruhan, total mahasiswa Indonesia di Mesir yang lulus ujian hanya sebatas 77% saja, sementara 23% mahasiswa dinyatakan tidak lulus ujian. Menanggapi hal ini, Bambang Suryadi mengatakan bahwa angka 23% merupakan sebuah persentase yang sangat besar untuk mengkalkulasikan jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir yang tidak lulus ujian.

“23 itu diatas 20 dan dibawah 25. Jangan dianggap angka itu kecil. Hal ini menjadi tantangan bersama agar PPMI, senat fakultas, kekeluargaan, afiliasi dan almamater dapat membaca data ini dan memiliki tanggung jawab kemudian terpanggil untuk dapat mengatasi problem ini demi mengakselarasi Masisir secara akademik sukses, juga dari segi sosial dan ekonomi,” jelasnya.   

Bahkan, jumlah Masisir dengan masa studi S1 di atas 8 tahun ternyata mencapai total 278 orang. Mahasiswa Universitas Al-Azhar menempati posisi pertama dengan total 275 orang, disusul mahasiswa Universitas Alexandria, Universtias Fayoum dan universitas  lainnya yang masing-masing berjumlah 1 orang.

Bambang Suryadi selaku Atdikbud KBRI Kairo pun sempat mempertanyakan betapa lamanya durasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa Al-Azhar untuk menyelesaikan masa studi S1-nya tersebut.

“8 tahun itu kalau dihitung-hitung di tempat lain bisa jadi S1= 4 tahun, S2= 2 tahun dan setengah jalan S3. 8 tahun di kasus ini baru selesai,” ungkap Bambang kecewa. 

Adapun persebaran mahasiswa Indonesia di Mesir adalah sebagai berikut: Universitas Al-Azhar (7.235), Institut Riset dan Studi Arab ALESCO (140), Institut Studi Islam Zamalek (49), American Open University (43), Univesrtitas Cairo (19), Darul Ifta Mesir (7), Universitas Alexandria (3), Universitas Suhag (3), American University in Cairo (3), Universitas Canal Suez (2), Universitas Mansura (1), Universitas Fayoum (1) dan Universitas Helwan (1).

“Al-Azhar masih menjadi tumpuan utama dibandingkan perguruan tinggi yang lain. Universitas al-Azhar menjadi kiblat ilmu karena mengajarkan prinsip Islam moderat (wasatiyah), memilki pakar di berbagai bidang keilmuan dan memberikan beasiswa,” ungkap Bambang.

Dari jumlah tersebut, penempuh studi S3 (doktoral) berjumlah 42 orang, S2 (Magister) berjumlah 693 orang, S1 (License, B.A) sejumlah 5.446 orang, persiapan bahasa (Dauroh Lughoh) sejumlah 1.332 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sejumlah 213 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sejumlah  130 orang, Sekolah Dasar (SD) sejumlah 104 orang, Taman Kanak-kanak (TK) sejumlah 30 orang, Dirasah Khassah sejumlah 79 orang, dan lain-lain sejumlah 318 orang.

Fakta ini menyiratkan bahwa Mesir masih menjadi ka’batul ‘ilmi yang senantiasa diminati oleh para pelajar Indonesia. Tapi di sisi lain, hal tersebut juga menjadi tantangan bagi Atdikbud KBRI Kairo dalam mengayomi dan membimbing para mahasiswa tersebut yang nantinya tentu memerlukan keterampilan diplomasi, kemahiran komunikasi, keahlian mengelola masalah, kemampuan akademik, kreativitas, kesabaran serta ketabahan, sebagaimana yang disampaikan oleh Bambang Suryadi.

Dengan dinamika Masisir dan perubahan tuntutan jaman saat ini, lalu langkah konkrit apa yang perlu disiapkan pemangku kebijakan di bidang pendidikan kedepannya? Kita tunggu saja.

Reporter: Indri Raisa Hanum

Editor: Defri Cahyo Husain

Comment

Berita Lainnya