Menakar Kemandirian Finansial SEMA FBA di Tengah Ketergantungan Block Grant PPMI
Informatikamesir.net, Kairo – Ketergantungan terhadap dana hibah PPMI menjadi salah satu persoalan yang mencuat dalam sesi uji integritas calon ketua SEMA FBA (Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab) pada Minggu (23/08) di Aula Tanmia Center, Hay Tasi’. Pembahasan tersebut menyoroti kemandirian finansial SEMA FBA, khususnya dalam keberlangsungan program kerja dan membangun sumber pendanaan internal.
Ketua MPA SEMA FBA 2025-2026, Rizki Sugiri, menjelaskan bahwa salah satu sumber pendanaan internal SEMA FBA selama ini berasal dari BUMM (Badan Usaha Milik Mahasiswa). Melalui berbagai kegiatan usaha seperti penjualan totebag, bazar, dan aktivitas lainnya, BUMM menjadi salah satu badan yang turut menopang kebutuhan finansial SEMA FBA.
Menurut Sugiri, sekitar 60 persen pendapatan BUMM berasal dari kegiatan usaha tersebut, sementara 40 persen lainnya berasal dari hibah BUMM dan hibah personal. Dukungan dana dari BUMM kepada senat juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sugiri menyebut, pada masa kepengurusannya SEMA FBA memperoleh sekitar 26.000 paun Mesir dalam satu tahun, sedangkan pada periode sebelumnya berada di kisaran 19.000 paun Mesir.
Besaran tersebut, menurut Sugiri, bergantung pada kebijakan pengelolaan dan alokasi dana BUMM. Kondisi ini menunjukkan adanya sumber pendanaan internal yang dapat dimanfaatkan senat untuk menunjang program kerja meskipun jumlah yang didapat tidak selalu berada pada angka yang sama.
Namun, keberadaan sumber dana internal tersebut belum sepenuhnya menjadikan SEMA FBA mandiri secara finansial. Dalam pelaksanaan program kerja, senat masih memiliki ketergantungan terhadap dana block grant PPMI, yakni alokasi dana dari PPMI yang diberikan untuk mendukung kegiatan lembaga atau organisasi di bawah naungannya.
Ketergantungan terhadap sumber dana eksternal tersebut menjadi salah satu persoalan ketika pencairan dana tidak sesuai dengan kebutuhan atau waktu pelaksanaan program. Sugiri mengungkapkan bahwa pada periode sebelumnya pernah terdapat agenda berskala besar yang tidak dapat dilaksanakan secara maksimal karena keterbatasan dana.
“Dulu pernah ada masalah di situ. Jadi acaranya tidak bisa menjadi besar dan juga tidak punya efektivitas,” ujar Sugiri.
Menurut Sugiri, kendala tersebut lebih terasa pada kegiatan dengan kebutuhan anggaran besar. Sementara untuk program yang berskala kecil, keterbatasan dana relatif tidak menjadi persoalan besar.
Di sisi lain, Sugiri juga menilai keberadaan BUMM justru menjadi salah satu bentuk upaya menuju kemandirian finansial organisasi. BUMM merupakan sumber pendanaan internal yang dibangun melalui aktivitas usaha, sedangkan tantangan kemandirian senat lebih berkaitan dengan ketergantungannya terhadap sumber dana eksternal.
“Kalau ketergantungannya ke badan usaha mereka berarti mereka sudah mandiri,” jelas Sugiri.
Reporter: Umar Mogalana
Editor: Sayyaf Izzuddin





