Informatika Mesir
Home Analisis Ringan Hamidatul Hasanah: Imam Al-Ghazali Bukanlah Seorang Filsuf, Melainkan Teolog

Hamidatul Hasanah: Imam Al-Ghazali Bukanlah Seorang Filsuf, Melainkan Teolog

Sumber: dokumentasi panitia

Informatikamesir.net, Kairo – Hamidatul Hasanah, Lc., Dipl. Selaku pembedah buku Investigasi Metafisis karya M.S. Arifin, Lc. Keberatan dengan dijadikannya Al-Ghazali sebagai tokoh representasi dari tradisi filsafat Islam. Hal tersebut disampaikan pada acara bedah buku yang diselenggarakan oleh komunitas Nalar pada Jumat (14/08) di Zone Coffee, Gamalia.


Hamidah menyayangkan ketidakhadiran Ibnu Sina sebagai shohibul qaul inti dari inti filsafat Islam dalam buku penulis. Justru malah menjadikan Al-Ghazali sebagai rujukan, yang mana ia adalah penentang filsafat itu sendiri. Pembedah buku tersebut juga mengatakan bahwa Al-Ghazali bukanlah seorang filsuf, melainkan teolog.


“Kalau saya tidak salah ingat ya, mas. Itu tidak ada Ibnu Sina dari awal sampai akhir dan kok bisa begitu. Padahal Al-Ghazali adalah penentang filsafat, masa kita mau menghadirkan inti dari inti filsafat bukan dari shohibul qaul, tetapi dari penentangnya. Bahkan Al-Ghazali itu bukan filsuf, jadi ketika bersinggungan dengan Ibnu Sina dalam Tahafut Falasifah itu bukan sebagai filsuf, tetapi sebagai teolog”, tegas Hamidah.


Pembedah buku tersebut menegaskan bahwa Al-Ghazali tidak pernah dihadirkan dan dijadikan rujukan dalam konsep pembahasan sepenting wujud dan mahiyah. Dalam istilah filsafat, Al-Ghazali hanya muncul ketika sebagai penentang filsafatnya Ibnu Sina. Ia juga mengatakan bahwa dalam buku tersebut ada semacam bias dan menyangka bahwa Syamsul selaku penulis adalah seorang Heideggeriyan.


“Al-Ghazali itu muncul, kalo dalam istilah filsafat, itu hanya sebagai penentang filsaftanya Ibnu Sina. Sudah sampai di situ, berarti di sini ada semacam bias begitu. Saya khawatirnya jangan-jangan Mas Syamsul ikut pandangan eurosentrismenya Heidegger begitu karena beliau Heideggeriyan kan, yang mana mengatakan bahwa filsafat Islam itu sudah selesai di Al-Ghazali begitu”, ucap Hamidah.


Tidak hanya sampai di situ, Hamidah juga mengatakan bahwa Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut Falasifah ingin menghancurkan mazhabnya Ibnu Sina, sekalipun dia mau jadi muktaziliyan atau karomiyan yang penting hancur.


“Al-Ghazali mengatakan dalam Tahafut sendiri: Saya akan menghancurkan mazhabnya Ibnu Sina, baik saya menjadi muktaziliyan ataupun karomiyan yang penting hancur. Lah, kok bisa begitu, di situ saya keberatan”, ujar Hamidah.


Reporter: Ferdian Hudatullah
Editor: Sayyaf Izzuddin

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad