Informatika Mesir
Home Tokoh Lionel Messi: 20 Tahun The Greates of All Time Memanjakan Mata Pecinta Sepak Bola Seantero Jagat

Lionel Messi: 20 Tahun The Greates of All Time Memanjakan Mata Pecinta Sepak Bola Seantero Jagat

sumber: Instagram @route1futbol cz

Para pecinta sepak bola, kini sudah benar-benar tidak bisa lagi menyaksikan Lionel Messi bermain di timnas (tim nasional) Argentina. Pemain terbaik sepanjang sejarah tersebut telah melakukan laga perpisahan dan penghormatannya melawan Benin pada Senin (6/10).

Lionel Messi secara resmi mengumumkan pensiun dari Timnas Argentina pada 31 Agustus lalu melalui Instagram pribadinya. “Terima kasih atas seluruh kasih sayang yang kalian berikan selama 20 tahun ini. Saya akan sangat merindukan ketika mendengar suara kalian dari dalam lapangan. Tapi sekarang saya akan menjadi salah satu dari kalian, selalu mendukung dan menyemangati dari luar di saat baik maupun buruk, terlebih lagi di saat situasi buruk,” ujar Messi.

Pada laga persahabatan melawan Benin, Messi menyampaikan pidato yang sangat menyentuh hati para penggemar maupun pecinta sepak bola seantero jagat. Menurutnya, tidak lagi bisa bersama timnas Argentina adalah suatu hal yang sangat menyakitkan, dan Messi juga mengungkapkan bahwa jika semuanya terserah keinginan dia, maka dia ingin bermain seumur hidup karena bermain untuk Argentina adalah hal terindah.

Pemain berjuluk La Pulga Atomica (si kutu atom) itu juga mengajak para pecinta sepak bola yang hadir untuk bernostalgia, ketika dirinya bersama para tim mampu membawa Argentina menjadi juara dunia pada 2022 di Qatar lalu. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Argentina yang telah memberikan banyak cinta di manapun dan kapanpun.

Awal Karir Lionel Messi Berseragam Argentina

“Anak kecil asal Rosario” itu melakukan debutnya bersama timnas senior Argentina pada 17 Agustus 2005 dalam pertandingan persahabatan melawan Hungaria. Namun sayang, debutnya tidak begitu enak untuk didengar, pasalnya Messi diganjar kartu merah sebab melakukan sikutan kepada Vilmos Vanczak yang mencengkeram kausnya ketika meliuk-liuk membawa bola. Ada yang mengesankan dari pertandingan tersebut, Vanczak setelah belasan tahun lama kemudian menyatakan kekagumannya pada Lionel Messi.

“Kami tahu tim Argentina sangat kuat, tapi kami ingin melihat pemain ini (Messi) karena semua orang membicarakan dia sebagai pemain besar, mungkin saya yang memulai karirnya,” kata Vanczak kepada The Atletic pada 2022.

Tropi Pertama Si Kutu Atom Bersama La Albiceleste

Pada tahun 2005, Lionel Messi sukses membawa timnya menjadi juara pada Fifa World Cup U-20 di Belanda. Pada ajang tersebut, Messi keluar sebagai Pemain Terbaik dan Top Skorer, sekaligus menjadi pembuka lembaran baru bagi karir internasional seorang Messi.

Lionel Messi tumbuh sebagai anak muda berbakat yang menjadi pilar penting Argentina. Pada 2007, Messi yang tampil gemilang bersama timnya mampu membawa Argentina melaju ke final Copa America di Venezuela. Namun Tuhan punya kehendak, Argentina takluk di kaki Brasil yang diperkuat Julio Baptista dengan skor 3-0.

Setahun berselang, Messi kembali membawa Argentina masuk ke final. Tetapi kali ini bukan Copa America, La Albiceleste (sang putih dan biru langit) melaju ke final Olimpiade di Beijing. Argentina berhasil meraih medali emas pada ajang tersebut setelah Angel Di Maria mencetak gol tunggal melawan Nigeria. Kali ini Tuhan bersama Messi, dan menjadi trofi keduanya bersama timnas Argentina. Namun, kemenangan tersebut belum dianggap apa-apa oleh penikmat sepak bola, sehingga masih menyisakan beban mental bagi Messi.

Kekalahan Bertubi-tubi di Partai Final Berujung Pensiun

Kekalahan Lionel Messi bersama timnas Argentina pada Final Piala Dunia 2014 di Maracana, Brasil, menjadi pukulan paling menyakitkan dalam sepanjang karier profesionalnya. Momen ketika Argentina takluk 0-1 dari jerman melalui gol Mario Gotze di babak perpanjangan waktu. Kekalahan tersebut menyisakan luka yang sangat mendalam bagi sang megabintang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh mantan agen Messi, Fabian Soldini, bahwa ia tidak bisa tidur nyenyak selama hampir satu tahun setelah final di Maracana tersebut.

Pada tahun 2015, si kutu atom menjadi satu-satunya pemain Argentina yang mencetak gol dalam adu penalti pada partai final melawan Chili dengan skor 1-4. Kekalahan tersebut menjadi salah satu momen paling frustasi bagi Messi. Pada ajang tersebut, dilaporkan bahwa Messi menolak penghargaan Pemain Terbaik Turnamen (MVP). Ia tidak ingin mengulang momen hambarnya seperti menerima penghargaan Bola Emas di Piala Dunia 2014.

Kekalahannya atas Chili memicu gelombang kritik dari masyarakat Argentina dan para penggemar. Messi dianggap tidak memiliki karakter kepemimpinan yang kuat untuk bisa membawa Argentina di saat-saat krusial.

Puncak dari frustasi Lionel Messi terjadi pada tahun 2016. Lagi-lagi Messi harus mengakui mental timnas Chili dalam hal adu penalti. Publik membandingkan Messi dengan Diego Maradona yang mampu membawa Argentina di momen-momen krusial. Kritik kejam dari masyarakat Argentina dan penggemar datang menambah kekecewaan Messi. Bahkan Maradona sendiri ikut memberi kritik kepada timnas Argentina, “Jangan pulang ke rumah jika tidak juara,” tegas Maradona. Seusai kekalahan bertubi-tubi tersebut membuat La Pulga Atomica harus mengumumkan diri untuk pensiun dari tim berjuluk Tango itu.

Namun, setelah beberapa bulan lamanya Messi pensiun, berbagai desakan datang dari publik dan penggemar agar ia mengurung niatnya untuk pensiun. Pelatih Edgardo Bauza mencoba untuk melobi Lionel Messi agar mau bermain lagi, dan usaha tersebut berhasil. Messi kembali memperkuat timnas Argentina.

Akhir yang Manis, Messi Menobatkan Dirinya Sebagai Raja Sepak Bola

Setelah kembalinya Messi ke timnas Argentina pada tahun 2016, ia sebenarnya mengalami beberapa kali kekalahan di antaranya: tersingkir dari Piala Dunia di babak 16 besar setelah tidak mampu membendung Kylian Mbappe dalam drama tujuh gol, dan kekalahan melawan Brasil di Semifinal Copa America 2019.

Tuhan punya skenario yang lebih indah untuk menutup lembar panjang karier seorang Lionel Andrés Messi Cuccittini. Lionel Scaloni, pelatih baru yang memiliki visi besar, bisa membawa Argentina juara Piala Dunia dan mempersembahkan kepada Messi yang selama ini belum dianggap sebagai The Greatest of All Time jika belum meraih gelar tersebut.

Kemenangan Argentina melawan Brasil di final Copa America 2021 menjadi titik balik Lionel Messi bersama La Albiceleste. Kemenangan tersebut membungkam kritik dari berbagai kalangan penikmat sepak bola. Beban mental dan bayang-bayang Maradona perlahan hilang dalam tubuh masyarakat Argentina, penggemar maupun Messi sendiri. Namun mereka masih menanti dan berharap Messi mampu menutup karir profesionalnya dengan memenangkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Sehingga Messi masih punya satu pekerjaan yang harus dituntaskan untuk mengukuhkan dirinya sebagai Raja Sepak Bola.

Ajang Piala Dunia 2022 tiba, Lionel Scaloni bersama tim-tim pilihannya, dan tentunya Lionel Messi sebagai kapten timnas Argentina. Perjalanan yang tidak mudah bagi Argentina. Kekalahan melawan Arab Saudi membuat publik bertanya-tanya, apakah Messi mampu membawa Argentina keluar sebagai juara? Sampai-sampai slogan ikonik “Where is Messi” pun lahir dari kekalahan tersebut, dan sampai sekarang mungkin para pecinta sepak bola masih ingat dengan slogan yang diucapkan oleh suporter Arab Saudi itu.

Namun, Messi adalah Messi. Walau ia sudah berumur 35 tahun pada saat itu, tetap saja berbeda daripada pemain sepak bola yang lain. Messi selalu punya cara untuk menyelesaikan bola di dalam lapangan. Argentina di bawah kepemimpinannya, dapat melaju ke final pada ajang terbesar sepak bola tersebut. Argentina keluar sebagai juara setelah menaklukkan Prancis pada babak adu penalti. Dikatakan bahwa final Piala Dunia tersebut merupakan final terseru sepanjang sejarah sepak bola.

Pada Minggu, 18 Desember 2022, Lionel Messi secara resmi mengukuhkan dirinya sebagai Raja Sepak Bola atau yang biasa disebut dengan The Greatest of All Time. Sebuah penutup yang manis dari seorang legenda sejati.

Kini, Lionel Andrés Messi Cuccittini benar-benar telah pensiun dari karir profesionalnya, penikmat sepak bola kehilangan pesepak bola terbaik sepanjang sejarah. Kita tidak akan lagi menyaksikan Messi meliuk-liuk melewati 6-7 pemain, dan kita tidak akan lagi menyaksikan sentuhan-sentuhan magis dari kaki sang raja. Selamat pensiun, legenda, perjalanan hidup yang sangat mengesankan. Kau dalam keabadian.

Penulis: Ferdian Hudatullah

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad