Diorama di Ujung Malam
Kurang lebih satu purnama Masisir telah merayakan selesainya ujian termin dua yang cukup menguras energi dan pikiran. Sebagian dari mereka telah selesai melakukan selebrasi dengan menikmati biru laut Ain Sokhna, mendaki keheningan gunung Sinai, berburu sunset di pesisir Alexandria, atau sekadar menggelar tikar dan berbagi tawa di pesisir Taba dan Nuweiba.
“Nging.. humm…” Kipas angin tua peninggalan senior Basyir berderit kepayahan setelah empat puluh tiga jam tidak dimatikan, ya, sejak lusa kemarin setelah acara kekeluargaan Basyir belum bangun dari kasur sarang kepinding itu. Tidak melakukan apapun, hanya tidur bangun sholat dan kembali tidur lagi, bahkan tadi pagi saja dia kembali melakukan ritual subha (subuh di waktu dhuha). Samar-samar adzan magrib masjid khadrowi berhasil membuat Basyir duduk linglung. Ia duduk menatap kosong papan tulis berukuran 15 cm x 25 cm tepat di depannya yang ia gantung di atas meja belajar. “Argh..” rutukan kecil keluar dari mulutnya, sembari mengacak kesal rambut kaku lepek kepalannya, menyadari quotes yang ia tuliskan minggu lalu di papan kecil itu.
Tiga puluh menit berlalu, Basyir masih saja duduk dengan posisi yang sama. Kamarnya sepi, dua orang temannya, pasti sedang berkegiatan di luar, memang hanya Basyir pengangguran di rumah itu. Satu diantara temannya mengambil shift di matam dekat rumah mereka, untuk mengisi liburan termin kali ini. Satu lainnya, entah apa kesibukannya, tapi tidak pernah terlihat di rumah. Basyir mulai bangkit menuju kamar mandi, hanya perlu lima menit Basyir keluar dalam keadaan sudah basah kuyup rambutnya, menetes-netes meninggalkan jejak menuju kamar.
Malam ini, ia pergi menuju salah satu kafe mesir andalan mahasiswa Indonesia. Dengan langkah lesu, ia membawa tablet, kitab, dan catatan saku berwarna biru. Kafe adalah panggung kecil paling nyata penggambaran dinamika kehidupan Masisir saat ini, di tengah aroma kopi dan asap shisha yang mengepul lambat, setelah satu bulan lalu hampir semua kafe penuh dengan kelompok mabar (muzakarah bareng), minggu lalu penuh dengan para pecinta sepak bola yang tidak mau melewatkan event empat tahun sekali, piala dunia. Kali ini wajah kafe mulai bertransformasi menjadi sangat beragam.
Basyir mulai melangkahkan kaki memasuki bagian luar kafe. Meja pertama sisi kiri, terlihat sekelompok Masisir yang sepertinya sedang melangsungkan rapat serius organisasi, ada yang memimpin, ada yang mencatat, ada juga yang terlihat beberapa kali merubah posisi duduk yang sudah benar. Tepat di sisi kanan mereka, ada empat orang yang sedang fokus melihat handphone dengan posisi landscape, sesekali mengumpat keras karena salah target atau sekedar kesal dengan kawan satu timnya.
Tidak berhenti di situ, sedikit lebih dalam kaki Basyir menapaki bagian dalam kafe itu, tampak empat orang yang terlihat sedang berdiskusi sesuatu. Dengan mata memicing, salah satu dari mereka berkata, “Owalah, aku tau maksud syekh tadi sore itu kaya gini, lohh..” Basyir hapal suara itu, suara Rasyid kawan rumah, penghuni kamar solah, tidak satu kamar dengan Basyir. Dari awal masuk rumah itu, Basyir tidak suka dengan beberapa kawan rumahnya termasuk Yusuf dan Rasyid, menurutnya Yusuf adalah orang yang terlalu organisatoris sehingga abai dengan kuliahnya. Sedangkan Rasyid, dia sangat kaku, alumni pesantren salaf yang sering mengomentari tindak tanduk Basyir di rumah.
“Eh, sudah bangun, kau, Basyir?” teriak Rasyid menyadari kehadiran Basyir. Jelas itu bukan pertanyaan, itu ejekan. Basyir tidak menjawab, ia lantas pergi menjauh dari kelompok itu. Basyir tidak suka mereka, kedengarannya mereka sedang membahas salah satu kaidah fiqhiyyah yang disebutkan dalam kitab Asybah wa an-Nazhair yang terbuka di hadapan mereka masing-masing, kaidah yang pernah Basyir dengar sewaktu belajar di pondok dulu.
Lebih dalam lagi tampaknya ada ramai yang cukup menarik perhatian, dibawah lampu remang-remang, “Makan, nihh..” “Banting..!!” Mereka saling bersahutan sambil menepuk kartu di meja bundar cafe, diikuti gelak tawa yang sangat keras. Rusuh sekali.
Basyir memutuskan untuk duduk di ujung, di kursi yang sering luput dari pandangan orang-orang. Ia bingung, seperti ada yang hilang. Ia tidak tahu bagaimana dia harus menyikapi kekosongan ini. Beberapa waktu lalu, di kursi yang sama ia sibuk membolak-balikkan halaman muqarar salah satu maddah tingkat dua, Ushuluddin. Ia kelimpungan masih setengah buku belum sama sekali ia baca, padahal lusa adalah hari ujian. Ya, seperti itulah Basyir, ia baru akan gupuh ketika hari ujian tiba. Sebelumnya selalu sama; ia selalu bingung.
Semenjak merantau ke Negeri Kinanah ini, ia memang seperti orang yang berbeda. Dulunya, Basyir adalah organisatoris namun tidak abai dengan pendidikannya. Hampir sempurna ia menyeimbangkan keduanya. Mimpinya besar, ia ingin pergi belajar di Al-Azhar. Apa yang terjadi pada Basyir hari ini, mungkin karena ia lupa, bahwa mengenyam pendidikan di Al-Azhar bukanlah suatu tujuan, justru awal dari perjalanan dimulai.
Beberapa saat kemudian, ahwah faransawy datang. Basyir masih saja melamun. Di antara riuh denting cangkir dan obrolan tumpang-tindih kafe, Ia duduk tergugu. Layar tabletnya hitam. Kitab dan bukunya masih rapi tertutup. Hampir setengah ia habiskan untuk menatap kosong anjing jalan yang menggonggong setiap orang lewat.
“Ya Basa! Enta gayy tanaam huna wala eh? Ed-dunya masyiah ya habibi!” (Mas! Kamu ke sini mau numpang tidur apa gimana? Hidup tuh jalan terus, lho!) Teriak seorang pegawai paruh baya, yang sedari tadi memperhatikannya. Basyir terkesiap oleh perkataan pelayan itu. Ia hanya tersenyum getir, sembari mengelus tengkuknya, tidak menjawab.
Basyir mulai menyeruput kopinya yang sudah dingin. Ia mulai mengambil buku saku biru yang sudah lama sekali tidak ia buka. Baru saja membuka halaman pertama, Basyir menemukan catatan Albi, sahabat seperjuangan di pondoknya.
“Selamat ya, Bro, kamu udah berhasil ngejar mimpimu, kuliah di Al-Azhar. Jangan lupa pulang ya, ntar ilmunya di bagi ke aku, yah, jangan disimpen sendiri. Oiya, kamu ga lupa taruhan kita, kann? Haha” –Albi, Pandeglang, 12 November 2024.
Wajah Basyir mendadak memerah, matanya perih. Albi adalah sahabat yang lebih memilih mengabdi di pondok, dibanding menerima beasiswa kuliah di Maroko karena prestasinya. Mereka memang punya taruhan, dengan jalan yang mereka pilih masing-masing, mereka berjanji untuk lebih baik dari lainnya. Taruhan itu memang main-main saja, ucapan bocah sembilan belas tahun, kala itu. Mana mungkin, mereka serius membandingkan jalan yang mereka pilih. Sebaliknya, keduanya sebenarnya meyakini keduanya sama-sama baik. Mereka meyakini bahwa tempat hanyalah salah satu faktor pendukung untuk tumbuh kembang seseorang, selebihnya adalah tergantung bagaimana orang itu menyikapinya.
Walau hanya main-main, ego Basyir tersenggol oleh sepucuk surat perpisahan itu. Ia menyadari bahwa kali ini, ia sudah tertinggal jauh. Ia lupa janji itu. Sedangkan, beberapa kali, ia mendengar kabar yang sangat membanggakan dari Albi, kawannya. Rasa bingungnya seketika menguap berganti menjadi kombinasi antara rasa malu, rasa bersalah, dan marah yang mendorong produktif. Tanpa mengindahkan rasa hambar dan pahit kopinya, ia tergesa menghabiskan gelas kecil itu dengan beberapa seruput besar.
Ia membuka beberapa halamannya selanjutnya, penuh dengan harapan pendidikanya, yang ia tuliskan di bulan-bulan pertama ia menginjakkan kaki di Kairo. Basyir sengaja melewati halaman-halaman itu, menuju halaman kosong. Ia mengambil pulpennya, kemudian mulai menuliskan evaluasi atas dirinya sendiri, banyak sekali, ia merenungi setiap kata yang tulis. Berkali-kali ia baca ulang tulisan itu. Hampir tiga halaman ia menghabiskan untuk menuliskan sub judul pertama. Di lembar keempat, ia menuliskan beberapa target, mulai dari dari jangka pendek sampai jangka panjang.
Tanpa ia sadari, aroma shisha yang tadinya pekat kini mulai menipis, Lampu kafe redup sedikit lebih remang lagi, suara berisik meja yang tadinya rusuh oleh permainan kartu sudah kosong meninggalkan gelas-gelas hampa dan beberapa sampah bekas jajanan boikot warung lokal. Meja bundar di sekitarnya mulai dibersihkan oleh para pelayan, termasuk pelayan yang tadi meneriaki Basyir.
Jemarinya kaku, lehernya terasa pegal, ia mendongak meregangkan badan. Saat ia melirik jam tangan, jarum pendek sudah bertengger pada pukul satu. Segera ia bereskan bawaannya. Lalu melangkah menuju kasir, “Ck..” Basyir berdecak kesal, kembali menemui pelayan tadi. “Ya bakhtak ya batol! El-faturah madfu’ah min shaḥbak min badri.” Kekeh palayan, sambil menggelengkan kepalanya, (Beruntung banget kamu, Anak Muda! Tagihannya udah dibayar kawanmu dari tadi.) Itu pasti Rasyid, ia memang baik, tidak membenci Basyir, hanya saja Basyir yang tidak suka dengannya. Wajah Basyir mengendur mendengar ucapan pelayan itu. Tanpa sadar ia tersenyum.
Poin nomor tujuh yang ia tuliskan di baris evaluasi pada catatan sakunya adalah, tidak suka dengan Rasyid karena iri atas pencapaian Rasyid yang sampai sekarang masih menjadi rencananya. Poin ke delapan hampir mirip dengan sebelumnya hanya saja nama Rasyid diganti dengan Yusuf.
Basyir pulang dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya, malam ini ia berjanji menerima diri sendiri dan pelan-pelan memperbaikinya. Sesampainya di rumah, sebelum menuju kamar, lebih dulu dia memilih mengetuk kamar solah, ia menemui Rasyid masih duduk tegak di meja belajarnya. Basyir tidak masuk, hanya tersenyum dan berterima kasih atas traktiran Rasyid malam ini, yang tentunya bukan kali pertama.
Ia juga mampir kamar Yusuf, tampaknya dia masih melangsungkan rapat via zoom dengan rekan organisasinya. Basyir menepuk pundak Yusuf, sambil berbisik “Semangat, Bro!” Malam ini terasa lebih hidup bagi Bagi Basyir. Lengkungan senyum di sudut bibirnya masih terukir sampai ia memasuki kamarnya. Lampu kamar sudah digantikan lampu bohlam kuning, biasa mereka gunakan saat tidur. Saat meletakkan kitab dan tablet di meja, ada plastik putih berisi mie ayam, khas matam dekat rumahnya, di bawahnya, terselip kertas kecil. “Dimakan ya, Syir. Pasti kamu belum makan dari pagi, haha” –Kenzo.
Basyir menatap sebungkus mie ayam dan secarik kertas itu cukup lama, senyumnya lebih lebar dari sebelumnya. Ia merasakan kehangatan yang mulai menjalar dari orang-orang terdekatnya. Ia menarik kursi belajar dan menyantap mie ayam dalam diam.
Ternyata, rumah ini tidak pernah seasing yang ia kira, hanya saja Basyir terlalu gengsi, merasa kalah, dan mengurung diri dari mereka. Kipas angin tua di sudut ruangan masih berderit kepayahan, namun malam ini suaranya tidak terdengar menyebalkan. Untuk pertama kalinya, Kairo tidak terasa sebingung itu–bagi Basyir.
Kairo, 25 Juli 2026
Penulis: Bintan Azizah





