Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Balada Mata Sipit

Balada Mata Sipit

Ilustrasi Cerpen Balada Mata Sipit. Sumber: Istimewa.

Panas Kairo siang itu kayak api neraka yang dituang ke jalanan. Aspal berkilat; udara bergetar; dan aku merasa kepalaku jadi wajan tempat telur bisa matang tanpa minyak. Aku jalan pelan sambil mikir, “Kenapa hidup di negeri orang selalu kayak ujian tanpa kertas jawaban?”

Shini! Shini!” teriak sekelompok anak Mesir dari seberang jalan. Aku cuma ngelirik sebentar, terus nengok ke bawah. Lagi-lagi panggilan itu. Lagi-lagi wajahku dianggap bukan aku.

Dalam hati aku ngomel, “Ya Allah, apa susahnya sih bedain orang Asia? Masa tiap liat mata sipit dikira Cina. Hadeh, sabar sabar. Jangan terpancing. Aku datang ke sini buat belajar, bukan buat ribut.”

Aku tarik napas panjang, terus senyum tipis. “Lucu juga, ya. Mereka pikir kata ‘Shini’ itu ejekan paling keren di dunia. Padahal kalau otak mereka dijual, kayaknya masih kalah laku sama batu bata di pinggir jalan.”

Malamnya, aku cerita ke anak-anak di kamar. Bayu dari Solo ketawa ngakak, “Wis, ra usah nesu, Dar, wong Mesir tuh kadang ngono, enggak bisa bedain orang Asia. Legowo wae lah, santai aja.”

Rizal, anak Batak, malah ngegas, “Legowo pala bapakmu, lah! Bah, gila kali kau, Dar. Muka kau emang mirip kali sama Cina, jadi salah paham lah orang Mesir tu!”

Aku lempar bantal ke mukanya, “Sial kau, bukannya ngebelain malah nambah luka.”

Andi, orang Minang, nyeletuk sambil nyeruput kopi, “Iyo lah, rupo ang ko. Ndak elok bana lah, tapi ang memang macam urang Tionghoa bana.”

Aku cuma geleng. Kata-kata mereka seperti jarum ketawa yang nusuk. Ironi, kan? Temen dekat malah jadi kaca pembesar untuk luka yang coba kututup.

Gede dari Bali malah santai, “Santai to, Dar. Dasar kepala batu kau, hahaha. Wong Mesir liat wajahmu cling kaya lampu neon. Wajar salah kira.”

Aku pura-pura marah, tapi dalam hati aku juga pengen ketawa. Hidup emang kadang kayak sandiwara komedi: aku aktor utama yang enggak pernah dapet skrip.

Beberapa hari setelahnya, aku ke Pasar Khan el-Khalili. Seorang penjual kain manggil aku ramah.

Ahlan, ya Shini!” panggilnya sambil tertawa.

Aku senyum pahit. “Ana min Indunisia,” jawabku dengan tegas.

Dia ngakak, “Ah, sama aja! Cina, Jepang, Indonesia, semua sama di mata kami.” 

Kalimat itu menamparku. Dunia memang sering menyederhanakan sesuatu yang rumit. Seperti laut luas yang cuma mereka sebut “air asin.”

Aku pulang ke kamar dengan kepala penuh keresahan. Rizal langsung nyeletuk, “Oi, Shini, bawa oleh-oleh, enggak? Jangan kau pelit kali, bah!”

Aku banting kantong plastik di meja, “Kurang ajar betul. Kupukul kau nanti.”

Tetapi ketawanya menular, sampai aku sendiri enggak sadar ikut senyum.

Malamnya aku menelepon mama. Sambil rebahan di kasur tipis yang keras layaknya tidur di aspal, aku curhat, “Mah, aku capek dipanggil Cina terus. Rasanya aku kayak bukan diriku sendiri.”

Mama malah santai, “Lah, kamu kan memang ada darah Tionghoa.”

Aku langsung bangun duduk, “Hah? Serius, Mah? Kok baru sekarang ngomong?”

Mama ketawa kecil, “Ya kirain kamu udah tau.”

Aku geleng-geleng, “Tau dari mana coba, Mah? Aku bukan dukun.”

Mama nyeletuk lagi, “Ya siapa tau dari wajah kamu.”

Aku tarik napas panjang, “Pantes aja orang-orang Mesir manggil aku Shini. Lah, mama sendiri aja telat kasih info!”

Kami berdua ketawa, tetapi dalam hati aku mikir, “Kenapa rahasia keluarga malah kayak iklan promo, baru muncul pas udah telat?”

Tiba-tiba aku terdiam. Rasanya dunia berhenti. Semua teriakan “Shini!” yang dulu seperti panah beracun, sekarang berubah jadi cermin. Aku ternyata bukan wajah yang salah, hanya wajah yang belum sempat kukenal sepenuhnya.

Besoknya, aku cerita ke temen-temen di kamar.

Rizal ngakak sampe batuk, “Bah, pantas lah! Dari tadi kami salah-salah, ternyata memang ada darahnya, anj, eh maksudku, gila kali!”

Andi ikutan, “Iyo, jadi selama ini awak ndak salah cakap.”

Bayu cuma nyeletuk, “Nek wis ngono, opo meneh sing arep mbok pusingi? Wajahmu pancen kaya lukisan sejarah.”

Gede menepuk pundakku, “Lihat toh, Dar, ternyata hidupmu lebih kaya dari yang kau kira.”

Aku cuma duduk, bengong sebentar, lalu ketawa. Rasanya aneh. Keresahan panjang yang kupelihara ternyata jawabannya ada di darahku sendiri. Ironi terbesar hidupku, aku marah pada wajahku sendiri, padahal wajah ini adalah warisan yang harus kupeluk.

Kadang aku sibuk banget nolak bagian dari diriku sendiri, sampai lupa kalau yang aku tolak itu justru warisan paling jujur. Dulu, aku pikir wajah ini kutukan, semacam stempel salah yang nempel terus. Tapi ternyata, wajah ini kayak cermin panjang: dia menyimpan perjalanan ratusan tahun sebelum aku lahir. Darah, jejak, dan cerita yang enggak bisa aku pilih, tapi bisa aku peluk.

Lucunya, makin aku coba jauhin, makin wajah ini ngejar balik, kayak bilang, “Hei, aku bagian dari kamu, kenapa mau kamu buang?” Di situ aku sadar, identitas itu bukan soal cocok atau enggak di mata orang lain, tetapi soal berani nerima diri sendiri. Wajah ini mungkin bikin salah paham, bikin ditertawain, tetapi justru di situlah letak kekuatan: dia nyeritain sesuatu yang enggak semua orang punya, campuran, luka, sekaligus warisan. 

Di Al-Azhar, nama bisa salah, wajah bisa keliru, tetapi hidup harus terus jalan. Hari itu dosen tafsir berjanggut putih panjang tiba-tiba nunjuk aku, “Anta… Shini, qif!

Seketika kelas pecah ketawa. Teman-teman dari Indonesia di belakang ada yang berbisik, “Wah, kena lagi si Dar.”

Selesai kelas, aku ngomel ke Bayu, “Ndang sabar piye, yo? Wong dosen wae salah mulu.”

Bayu nyengir, “Edan kowe, Dar. Dosen ki yen salah panggil yo tetep wae dosen. Ojo kakean protes, ben penak uripe.

Rizal langsung nyeletuk, “Pala bapakmu lah, Bayu. Kalau aku digituin tiap hari, kubanting mejanya, bah!”

Andi menambahkan, “Iyo lah, tapi sabana sabar itu emas. Walau kadang emas tu berkarat jo air mata.” Kami semua ngakak. Majas gratis dari urang Minang, padahal dia ngomong sambil ngunyah roti kering.

Malam itu, setelah kejadian di masjid, aku masih gelisah. Kata-kataku sendiri menggema di kepala, “Kalau kalian sebut salah, berarti kalian yang salah lihat.”

Anak-anak kamar sudah pada tidur. Rizal ngorok kayak mesin traktor Batak, Bayu kebiasaan gigi gemeretuk, Andi sambil meracau bahasa Minang, Gede paling adem, mirip patung Bali.

Aku berdiri lagi depan kaca kecil yang nempel di pintu lemari. Cahaya lampu redup, wajahku kelihatan samar.

“Ini wajah… wajah siapa sebenernya?” gumamku.

Tiba-tiba aku teringat pada masa kecil di SD. Aku masih ingat jelas, pas jam istirahat ada temen-temen yang tiba-tiba manggil, “Cina… Cina!” sambil nyipit-nyipitin mata mereka. Aku cuma diam, pura-pura main kelereng, tetapi rasanya perutku mulas kayak ditusuk. Bahkan, ada guru yang nggak sengaja nyeletuk, “oh, kamu mirip anak Tionghoa, ya,” sambil ketawa kecil. Padahal buatku itu bukan pujian, tapi cap yang bikin aku hilang dari kelas. 

Di lapangan depan rumah, waktu main bola, aku sering enggak dikasih gabung. Ada anak yang nyeletuk, “eh, jangan ikut, nanti kalau kalah dia ngamuk kaya tahun 98 tuh… bakar-bakar lagi!” Semua ketawa, aku cuma bisa pura-pura ngikat tali sepatu padahal hatiku panas. Anak sialan, padahal aslinya dia enggak tahu apa-apa, paling cuman dengar-dengar sekilas dari cerita bapaknya dengan orang tua lainnya di pos ronda.

besoknya, pas main layangan, aku diceng-cengin lagi, “Woi citato… Cina tanpa toko! hahaha!” Mereka pikir itu lucu, padahal aku ngerasa kayak dijatuhin dari langit. Di kantin sekolah pun enggak jauh beda, ada yang bilang aku harus ngantri di jalur khusus, “jalur Cina” katanya, sambil nyengir. Aku ingat banget waktu itu aku diam aja, gigit es mambo yang tiba-tiba rasanya hambar. Dan parahnya, bahkan di rumah tetangga, ada ibu-ibu yang bisik-bisik, “Anak itu mukanya kok kayak orang Cina, ya? Hati-hati, lho.” Seolah-olah aku ini ancaman. Aku kecil, aku enggak ngerti politik, enggak ngerti kerusuhan, enggak ngerti sejarah… yang aku ngerti cuma satu: kenapa wajahku jadi dosa?

Di situlah anehnya mulai, untuk sepersekian detik, pantulan itu bukan aku. Matanya lebih sipit, rahangnya lebih tegas, kulitnya lebih pucat. Seolah ada seseorang lain di balik kaca.

Aku mundur setapak.

Edan! Iki opo maneh…?” suaraku lirih.

Kututup mata, tarik napas panjang, kubuka lagi, dan wajah itu masih di sana. Dia tersenyum tipis. Senyum yang asing, tapi terasa akrab.

Aku berbisik, “Siapa kau…?”

Dan entah kenapa, pantulan itu bergerak lebih dulu, membuka mulut. Tapi bukan suara keluar, hanya bisikan halus seperti desir angin.

“Aku bagian dari darahmu.” 

Lututku lemas. jantungku berdegup kayak genderang perang. Aku coba tepuk pipi, berharap cuma halusinasi. Tetapi, makin kutatap, makin jelas sosok itu. Dari balik kaca, sosok dengan wajahku, atau entah wajah siapa, tiba-tiba mengangkat tangannya. Aku membeku. Perlahan, tangan itu menembus permukaan cermin kayak air yang bergelombang, dingin dan basah, lalu menyentuh pipiku. Aku merinding, napasku terhenti. Tangannya kasar, berat, seakan mau menarikku masuk ke balik kaca. Aku coba teriak, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan. Dunia mendadak berputar, gelap, lalu gelap lagi. 

Aku jatuh. Tubuhku pingsan, tetapi pikiranku terbawa ke dalam mimpi yang lebih menyeramkan dari kenyataan. Di sana, aku berdiri sendirian di tengah lapangan luas. Suara-suara mulai berdatangan, “Cina! Cina!” teriak anak-anak. Lalu, disusul suara lain, “Citato! Cina tanpa toko!” Semua ketawa, bergema di kepalaku. Tiba-tiba ada suara berat dari kerumunan, “Eh, jangan dekat-dekat, nanti dia ngamuk kayak tahun 98!” Aku menutup telinga, tapi suara itu tetap menembus.

Sebelum aku benar-benar tenggelam dalam pekat, suara-suara itu mengiris gendang telingaku, bergema panjang seperti mantra kutukan yang tak ada ujungnya.

Shini… Shini… Cina… Cina…”

Oleh: Umar Mogalana

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad