by

Adiksi Ponsel Pintar dan Kontraproduktifitas Warga Masisir

Oleh: Badrul Jihad

Perpaduan antara penemuan ponsel pertama kali oleh Martin Cooper pada tahun 1973 dan ARPANET oleh militer AS pada tahun 1969 menciptakan sebuah perubahan yang signifikan pada gaya hidup masyarakat dunia hingga kini, khususnya dua dekade terakhir yang menjadi momen penemuan fitur-fitur media sosial pada ponsel pintar seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan sejenisnya.

Berkat penemuan yang terus disempurnakan tersebut, masyarakat dunia menjadi lebih mudah dan efisien dalam melakukan kegiatan seperti komunikasi jarak jauh, belajar dengan membaca buku melalui e-book, sampai berbelanja dengan bebas melalui aplikasi tertentu secara online.

Euforia menggunakan ponsel pintar dengan segala fitur yang disediakannya ini kadang membuat penggunanya terlalu candu sehingga pengalokasian waktu sehari-hari untuk bermain ponsel pintar mejadi lebih dominan. Ponsel pintar yang menyediakan beragam manfaat itu pun menjadi kurang baik karena digunakan secara berlebihan.

Pada dasarnya tak ada salahnya menggunakan ponsel pintar, sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Pengguna ponsel pintar di Indonesia pun pada tahun 2017 lalu tak kurang dari 100 juta orang, angka yang sangat mencengangkan jika dibandingkan pada tahun 1998 yang hanya berjumlah sekitar 500 ribu orang (Agus Mustofa, 2018).

Maka sangat wajar sekali jika hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki ponsel pintar, khususnya generasi milenial dan generasi Z yang lahir setelahnya. Ponsel pintar bahkan sudah menjadi kebutuhan primer bagi para pemuda pada zaman modern ini.

Hal yang tak berbeda juga terjadi pada para mahasiswa yang berkuliah di Mesir. Mereka tak dapat dipisahkan dari ponsel pintar, sebab, selain fungsi komunikatifnya, ponsel pintar memang sangat mendukung dalam penyebaran berita penting perihal majelis-majelis ilmu dan kabar terbaru seputar perkuliahan.

Namun sangat disayangkan, fungsi ponsel pintar ini dimanfaatkan hanya sekadarnya saja, dan lebih diberi waktu untuk kegiatan-kegiatan tidak produktif seperti bermain media sosial dan game online yang terlalu berlebihan.

Tak jarang kita melihat banyak pengguna ponsel pintar di sekitar kita yang tak bisa lepas dari fitur-fitur media sosial, YouTube, dan game online. Alih-alih sebagai pengisi waktu luang, ia malah digunakan sebagai pengisi waktu utama dalam dua puluh empat jam sehari, dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Pengalokasian waktu yang hampir dua puluh empat jam untuk bermain media sosial dan game online ini adalah hal yang kontraproduktif, lebih-lebih bagi mahasiswa Indonesia di Mesir, yang tugas dan kewajiban utamanya adalah menuntut ilmu. Citra yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan rata-rata mahasiswa biasa yang berkuliah di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia.

Citra Mesir dan Universitas al-Azhar yang tergambar dalam benak masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang jauh lebih berkualitas dan bermartabat. Mesir sebagai negara berperadaban dan Universitas al-Azhar sebagai perguruan tinggi terkemuka serta menjadi kiblat ilmu pengetahuan Islam dunia, membuat para Masisir memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari mahasiswa-mahasiswa biasanya.

Dengan adiksi ponsel pintar, warga Masisir akan menjadi lalai akan tugas dan tanggung jawab utamanya tersebut, dalam membawa titipan berharga masyarakat dari kampung halaman masing-masing, yaitu ilmu. Sedangkan menuntut ilmu bukanlah merupakan proses sederhana yang dilakukan ketika ada niat saja, namun harus dilakukan secara kontinu.

Dalam menguasai satu bidang keilmuan, para pakar menyebutkan ada sekitar 10.000 jam yang harus dilewatkan untuk belajar (Oh Su Hyang, 2016). Jika warga Masisir menggunakan waktu 5 jam sehari untuk membaca buku, maka untuk mencapai 10.000 jam ia harus membaca selama lebih dari 5 tahun. Hal ini pun tidak menjamin kepahaman akan bidang lain dari ilmu-ilmu agama maupun umum.

Lima jam membaca akan terasa sangat sedikit jika dikomparasikan dengan waktu bermain media sosial dan game online. Ini terjadi pada rata-rata pemuda, karena membaca butuh pembiasaan diri, namun bermedia sosial dan bermain game akan langsung membuat seseorang jatuh cinta. Kasus-kasus seperti “membaca buku tiga menit kemudian bermain media sosial tiga puluh menit” sangat sering terjadi di sekitar kita.

Akar permasalahan pada kasus tersebut terletak pada  dua hal mendasar: (1) alokasi waktu, dan (2) ketidakterbiasaan membaca. Pengalokasian waktu yang baik akan menuntun segala aktifitas warga Masisir menjadi lebih teratur, misalnya dengan menetapkan waktu aktifitas tertentu tanpa ditemani ponsel. Hal ini pada urutannya akan membuat warga Masisir menjadi tidak terlalu candu terhadap ponsel pintar.

Poin kedua adalah ketidakterbiasaan membaca. Hal ini adalah alasan krusial warga Masisir dalam meninggalkan literatur dan lebih memilih fitur-fitur ponsel pintar saja. Padahal, membaca dapat memberikan manfaat yang jauh lebih baik daripada bermain ponsel pintar, seperti menambah cakrawala keilmuan secara lebih komprehensif dan terjauhi dari berita hoax.

Dalam menyikapi hal ini, alangkah baiknya jika warga Masisir, penulis sendiri dan pembaca sekalian, merenungkan bahwa ponsel pintar adalah produk teknologi modern yang bermanfaat, namun zat adiktif yang ada di dalamnya perlu diwaspadai karena dapat membuat kita terlena sehingga melupakan tugas dan tanggung jawab kita dalam menuntut ilmu di universitas Islam terbaik di dunia ini, al-Azhar al-Syarif.

Wallahu a’la wa a’lam.

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya