by

Disorientasi Mahasiswa Al-Azhar

Oleh: Tri Wi Farma

Apa yang kalian bayangkan dengan seseorang yang pergi ke Mesir? Belajarkah? Benar, jumlah Warga Negara Indonsesia di Mesir pada tahun 2019 tercatat lebih dari 7500 dengan persentase pelajar Universitas Al-Azhar kurang lebih 90%. Namun, apa jadinya jika mereka yang bertujuan belajar di Universitas Al-Azhar dengan visa pelajar tetapi tidak belajar? Apa jadinya jika mereka kehilangan orientasi sebagai pelajar?

Pengertian Disorientasi Mahasiswa

Sebelum kita membahas disorientasi mahasiswa, saya akan menjelaskan apa itu disorientasi? Dalam KBBI disorientasi berarti “kekacauan kiblat atau kesamaran arah.” Memandang jauh dalam istilah kedokteran, disorientasi dianggap sebagai gangguan mental di mana kondisi seseorang kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama berkenaan dengan waktu, tempat dan orang, bahkan tidak mengenali diri mereka sendiri. Mengerikan bukan? Bagaimana jika disorientasi ini menjangkiti mental seorang pelajar? Mereka tidak akan mengenal bahwa dirinya sedang belajar.

Nah, saya menganggap kasus disorientasi mahasiswa adalah gangguan mental, di mana mereka tidak tahu kapan waktu belajar atau kuliah, tidak tahu di mana gedung perkuliahan dan siapa dosen, siapa teman sekelas bahkan dirinya sendiri sedang belajar apa? Maka, mereka ter-disorientasi terhadap hal-hal utama yang berkaitan dengan pekerjaan mahasiswa.

Munculnya Gangguan Mental Disorientasi Mahasiswa

Gangguan mental ini sudah terjadi sejak lama, mungkin masih berlanjut apalagi ditambahnya kuota mahasiswa Indonesia hingga 1000 camaba per tahun. Sebelum terbang ke Mesir, mereka belum mengenal dan terkena gangguan ini, tapi kebanyakan mahasiswa ketika sudah terbang ke Mesir mengalami disorientasi.

Mereka belajar dan bersungguh-sungguh mendaftarkan diri untuk ujian seleksi masuk universitas di Timur Tengah, kemudian belajar lagi demi lulus ujian penentuan tingkat kelas bahasa. Tujuan mereka murni untuk belajar, bahkan memiliki tekad yang kuat dengan beberapa harapan ketika mereka terbang dan mendarat di Bumi Kinanah akan menepaki jalan menuntut ilmu.

Tetapi gejala-gejala aneh mulai terjadi, mereka secara tidak sadar mengalami disorientasi terhadap tujuan awal mereka untuk menuntut ilmu.

Penyebab dan bentuk disorientasi

Adapun bentuk hilangnya tujuan dan kesadaran mahasiswa Indonesia di Mesir dalam menuntut ilmu, seperti terjunnya mereka ke dunia bisnis, travel (jalan-jalan) dan keorganisasian.

Penyebabnya pun sangat abstrak, berawal dari latar belakang individu, lingkungan, keadaan finansial, hobi, atau memang kesalahan orientasi untuk pertama kali dia menginjakkan kaki di Mesir.

Pasalnya, mereka yang belajar ke Mesir dengan modal nekad atau bahkan dengan ekonomi keluarga yang di bawah rata-rata, sungguh memaksa mereka untuk memutar otak agar bisa bertahan hidup dan mencukupi biaya perkuliahan.

Kerja serabutan pun dilakukan dari bisnis travel, bagasi, menjual barang Indonesia ke Mesir atau sebaliknya, membuka rumah makan, jualan, hingga jasa-jasa seperti jasa pengiriman dan penukaran uang.

Mungkin, bagi bebarapa orang bekerja sambil kuliah sesuatu yang wajar, melihat banyak yang bekerja part time seperti ojek online dan freelance, tetapi apa jadinya jika mereka yang membuka bisnis lupa terhadap kuliahnya?

Masalahnya, mereka membuka bisnis ini hingga besar dan berkembang, berjalan lebih dari 4 tahun masa kuliah mereka. Seharusnya mereka sudah pulang ke Indonesia, tetapi tidak! Mereka menggunakan visa pelajar dan melanjutkan bisnisnya yang besar, rela menetap 8 sampai belasan tahun di Mesir hanya untuk bisnis dan melupakan tujuan awalnya berlajar, kalo dalam bahasa jawanya eman-eman ditinggal.

Di lain, sisi bisnis travel dan teknologi internet digital menarik para mahasiswa untuk melepas penat sehabis belajar dengan jalan-jalan. Tapi apa jadinya mereka menjadikan masa kuliahnya menjadi liburan? Bahkan pebisnis travel dan pemandunya sendiri adalah tak lain mahasiswa al-Azhar.

Salah satu bentuk disorientasi lainnya adalah keorganisasian dan kepanitian, berlepas dari fungsi dan manfaat dari sebuah agenda ini, tapi mahasiswa seharusnya bisa memprioritaskan diri dalam mengambil porsi berorganisasi, jangan sampai muncul rasibiin (orang-orang yang tidak naik-naik kelas atau lulus) organisator dan jelas banyak sekali bukti konkret bahwa organisasi dan kepanitian mengacaukan kegiatan belajar.

Jelas semua gangguan mental disorientasi mahasiswa memiliki tingkatannya, karena tidak semua yang terjun ke dunia bisnis melupakan belajarnya. Tidak semua yang hangout jalan-jalan melupakan perkuliahannya. Alhasil semua tergantung masing-masing memprioritaskan kesibukannya masing-masing, kalau memang sengaja ke Mesir berbisnis dan wisata, mengapa tidak memakai visa bisnis atau turis?

Dilema dan Disorientasi Mahasiwa Al-Azhar

Berasal dari kesalahan senior yang seharusnya menggiring mahasiswa yang baru datang untuk pertama kalinya ke perkuliahan dan talaqqi (kajian khusus bersama masyayikh di luar perkuliahan), bukan dikenalkan dengan tempat wisata, jualan dan kesibukan kepanitiaan.

Bahkan, tidak sedikit beberapa almamater dan kekeluargaan yang menarik paksa anggotanya untuk terjun ke dunia organisasi dan kepanitiaan. Dari sinilah Masisir dilema, antara belajar atau memilih kesibukannya yang sudah terlanjur ia jalani. Kadang ada saja acara Masisir yang tidak bisa ditolak dan seolah-olah memaksa mereka untuk meninggalkan perkuliahan dan belajar.

Di lain sisi, melihat biaya hidup di Mesir dari tahun ke tahun yang mulai naik, membuat dilema juga bagi mahasiswa untuk bekerja demi memenuhi biaya sewa rumah, makan, transportasi dan buku.

Solusi dan Pengobatan Disorientasi Mahasiswa Al-Azhar

Dengan melihat tingkatan gangguan disorientasi mahasiswa Al-Azhar yang  sudah akut (mahasiswa lama) sangat sulit untuk diobati, biarkan saja mereka membuka bisnisnya di Mesir dan travelnya, karena mongobatinya sama saja mengajak berdebat. Senior selalu benar!

Tapi untuk mahasiswa dengan gangguan sedang dan ringan bisa kita saling mengajak dan mengingatkan, membuka banyak kajian dan gerakan menuntut ilmu di ranah Masisir melalui senat, PPMI, Wihdah, kekeluargaan, almamater dan afiliatif. Semua berpartisipasi, khususnya senior yang menyesal dan pernah mengalami gangguan ini harus selalu mencegah, mengingatkan, membimbing serta menganyomi. Karena seniorlah yang pernah merasakan pahit manis kehidupan di Mesir.

Untuk mahasiswa baru dan calon mahasiswa, dilakukan pencegahan lebih dini melalui ORMABA (Orientasi Mahasiswa Baru), ini adalah asas pengenalan arah Masisir tentang keazharan dan dunia Masisir. Jangan sampai ORMABA hanya menjadi rutinitas tanpa nilai dan tujuan, bahkan sangat disayangkan lagi kedatangan calon mahasiswa baru dijadikan kesempatan politik tahunan Masisir, tenaga kerja di ranah Masisir dan bisnis Masisir. Ini adalah tugas berat dan PR bagi PPMI dalam menciptakan orientasi yang benar bagi camaba.

Pihak kedutaan Indonesia di Mesir juga memiliki peran penting, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) bagaikan rektor dalam kehidupan Masisir, selalu mengontrol dan menindak para mahasiswa yang mengalami disorientasi, bahkan selalu meninjau dan menanyakan nilai dan hasil ujian mahasiwa tiap termin dan tahunnya.

Terakhir, pihak al-Azhar sendiri juga harus bisa menanggulangi disorientasi dengan memperketat perkuliahan. Kabar bagusnya, dilansir dari website ppmimesir.com dalam acara “Dialog Rektor Universitas Al-Azhar dan Semua Dekan Fakultas bersama Mahasiswa Indonesia,” pada 5 Juli 2019, Al-Azhar akan mengeluarkan qoror dengan kebijakan baru dan perbaikan sistem seperti pengurangan kesempatan rasib bagi mahasiswa, dari semula empat kali menjadi dua kali saja, lalu yang bersangkutan di-drop out (mafshul) dari fakultas tanpa ada kesempatan tahwil (pindah) ke fakultas lain. Maka dengan ini, tidak ada kesempatan lagi bagi orang yang di-DO untuk berkuliah di Universitas Al-Azhar dan  mendapatkan izin resmi tinggal di Mesir dengan visa studi.

Akhir kata, penulis menyampaikan bahwa disorientasi mahasiswa Al-Azhar adalah gangguan yang bisa menimpa orang kapan saja dan siapa saja. Jangan sampai kita lupa arah dalam menepaki jalan ilmu, ketika seseorang memilih jalan ilmu berarti dia telah memilih jalan terberat di bumi ini melebihi apapun.

Jangan lupa kata senior-senior kita, jangan sampai satu hari di Mesir tidak dapat apa-apa, kamu di pusat ilmu, jangan sampai seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya