Masisir Dan Budaya:Sarjana Agama vs Penari Panggung
Malam itu, sekilas aku melihat bercak sinar sedang menyoroti festivalinternasional seni rakyat di suatu panggung megah kairo mesir. Aku berjalan menghampiri sambil lalu di iringi centingan suara gamelan yang bertalu-talu darikejauhan. Dari sana aku melihat senyum simpul seorang mahasiswi yang aku kenal betul wajahnya sedang menampilkan seni tari luar biasa asal Indonesia, dengan baju adat yang beragam dia meliuk-liuk sembari di tonton oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Menurutku, sebenarnya ini sudah biasa terjadi di kalangan para penari, tapi saat melihat statusnya sebagai mahasiswi, pelajar mutlak di universias Al-Azhar yang mesti senantiasa menjaga dirinya dari khalayak, aku mulai bertanya-tanya: “Apakah pantas dia melakukannya?”
Tulisan ini kendati buat sebagai masukan langsung atas terjadinya pertunjukan seni tari asal Indonesia yang berlangsung selama bertahun-tahun di negara mesir.Umumnya festival ini terselenggara berlandaskkan sepintas pengenalan budaya yang ada di Indonesia ke manca negara –salah satunya negara mesir. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo sendiri menyatakan bahwasanya hal tersebut hanyalah sebagai kedok bagi kita untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Mesir dengan harapan terbentuknya hubungan emosional positif yang akan turut menunjang dan mempermudah kerja sama kita di bebagai sektor lain; seperti halnya politik, pendidikan, dan ekonomi.
Nah, disini patut di garis bawahi bahwa kebutuhan diplomasi budaya tentu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) sebagai bahan dukungan utama agar bisa terlaksana dan berjalan sesuai rencana, namun banyak dari kita mengirabahwa SDM yang paling siap nan berbakat sekaligus bisa diandalkan untuk mengisi acara tersebut hanyalah para Masisir (Mahasiswa Indo di Mesir), sehingga mahasiswa yang awalnya fokus belajar agama akhirnya Mulai dituntutuntuk tampil menari di depan publik internasional, hal ini tentu kita sadari akan berdampak negative bagi mereka karena bernilai menguras banyak waktu kuliah, akibatnya apa? Akademik mereka terbengkalai, dan banyak mata Pelajaran yang tertinggal.
Di samping itu, perlu adanya modifikasi aktif dari berbagai kostum yang akan mereka kenakan di saat menari nanti, misalnya menambahkan manset atau jilbab guna menutupi area yang rawan. Langkah ini penting diambil untuk menyelaraskan estetika pertunjukan dengan nilai-nilai kesopanan sembari mencegah terjadinya kesalahpahaman saat mereka mulai tampil di depan khalayak umum.
Sebagai penengah, kendati menyarankan bahwa ketika dari kita ada di posisi ini (yaitu sebagai pelajar sekaligus penari), harus pintar-pintar membagi waktu, tetap singkronkan kapan waktunya kita belajar dan kapan saatnya tampil di acara festival. Yang ke-dua adalah tetap menjaga kesucian dan nilai-nilai seorang Muslimah pada umumnya, seperti meuntup aurat, tidak bergerak secara berlebihan, serta senantiasa meluruskan niat bahwa partisipasi tersebut murni demi syiar budaya dan diplomasi bangsa, bukan untuk mencari panggung popularitas pribadi yang semu.
Pada akhirnya, keputusan final ada di tangan kita semua, dan kendati berharap semoga pesan dan kesan dalam tulisan ini tersampaikan sekaligus dapat menginspirasi dan memperkokoh fondasi para generasi mendatang. Adios.
NB: Tulisan ini tanpa melalui proses edit dari Tim Informatika Mesir, demi menjaga keaslian tulisan penulis.
Penulis: Muhammad Imron Maulana (Peserta Lomba Opini)



