Wajah Mesir dalam Festival Sham El-Nessim
Informatikamesir.net, Kairo – Festival musim semi Sham El-Nessim menjadi hari yang ditunggu masyarakat lokal Mesir. Taman-taman yang tersebar di seluruh Mesir dipenuhi keluarga yang mengisi waktu santainya, berdampingan dengan cuaca yang terik dan angin sepoi serta pohon bunga yang bermekaran. Bahkan, beberapa lokasi terkenal di Kairo membuka beragam pameran seperti kerajinan tangan dan tanaman hias, atau sekadar penampilan musik sederhana di atas panggung.
Namun, tahukah kamu bahwa jauh sebelum diposisikan sebagai tanggal merah dalam kalender, festival yang memiliki arti “menghirup angin semilir” ini penuh dengan campur tangan sejarah Mesir kuno, hingga menjadi simbol toleransi dan jadi bukti kelekatan masyarakat Mesir dengan tradisinya?
Sham El-Nessim: Salah Satu Tradisi 4.500 tahun yang Tak Hilang Ditelan Masa
Perayaan musim semi ini mulanya dibuat sebagai acara keagamaan sebagai bentuk syukur sejak lebih dari 4.500 tahun yang lalu karena peralihan musim menjadi fase penting dalam pertanian seperti menabur, budidaya, dan panen, sehingga dianggap sebagai waktu yang sangat penting bagi orang Mesir kuno.
Tradisi ini terus berlangsung sepanjang zaman pertengahan Mesir—termasuk masa dinasti Fatimiah, Ayubiah, dan Mamluk—dan menjadi bagian dari ritme musiman. Bahkan, rezim masa Fatimiah memberi perhatian khusus kepada perayaan ini dan mulai meresmikannya sebagai festival publik secara resmi yang dibuktikan lewat peran partisipatif mereka dalam perayaannya bersama publik.
Mulanya, perayaan ini disebut “shemu” dalam bahasa Mesir kuno yang berarti “musim panen” serta memiliki makna atas kembalinya kehidupan yang baru. Namun seiring bergantinya zaman, kata “shemu” mengalami penyesuaian bunyi dan makna (phono-semantic match) menjadi “Sham El-Nessim” atas faktor Islamisasi di Mesir, seperti yang kita kenal saat ini.
Harapan Tersirat dalam Sesuap Makanan Khas Musim Semi
Seperti halnya nasi tumpeng yang selalu jadi bintang utama dalam sajian banyak syukuran di Indonesia, maka dalam Sham El-Nessim, fesikh (ikan belanak yang diasinkan dan difermentasi di bawah sinar matahari) yang disajikan dengan daun bawang bombai dan selada, serta telur rebus hasil kreativitas menghias cangkang inilah bintangnya. Makanan tersebut menjadi ikon bukan tanpa alasan, melainkan ada tradisi dan sejarah mitologi yang terawat sejak zaman Mesir kuno.
Persembahan makanan yang mereka beri kepada dewa Ra, Amun, Atum, dan Ptah selama perayaan di masa itu memiliki makna simbolis—seperti fesikh yang melambangkan keberlangsungan hidup dari sungai Nil, selada yang melambangkan kesuburan, daun bawang bombai yang punya pengaruh pada aspek-aspek tertentu dalam liturgi (red: ibadah) Mesir kuno. Lain halnya dengan telur yang mewakili kepercayaan telur kosmik sebagai awal terciptanya alam semesta dalam banyak mitologi.
Uniknya, cara yang biasa masyarakat Mesir lakukan untuk menikmati fesikh adalah dengan memakannya mentah setelah dikeringkan. Dalam adat perayaan, menu ringa (ikan asap) juga bisa menjadi alternatif untuk tetap bisa menikmati ikan.

Tepat Sehari Setelah Paskah, Inilah Keunikan Kegiatan selama Sham El-NessimSham El-Nessim yang selalu jatuh pada hari Senin Paskah (Easter Monday) membuktikan bahwa masyarakat Kristen Mesir berpengaruh besar dalam perayaan ini. Penanggalan ini adalah hasil dari kompromi budaya agar mereka bisa merayakan musim semi setelah menjalani puasa besar (Lent). Begitu juga dengan makanan khas yang sangat lekat dengan perayaan ini, yaitu ikan dan telur yang memiliki simbol kebangkitan bagi mereka.
Tetapi, hal tersebut malah membuat Sham El-Nessim menjadi unik dan tidak mengurangi harmonisnya kehidupan antar umat beragama. Perayaan yang diresmikan sebagai festival publik sejak masa Fatimiyah ini dibiarkan beriringan dengan harmoni yang telah ada. Dari perayaan festival secara kolektif inilah tercipta banyak kegiatan menarik selama festival. Salah satunya adalah menghias dan menulis harapan di atas cangkang telur rebus dengan pewarna alami yang dipercaya bisa mewujudkan harapan bila cangkang terkena sinar matahari—meski pada akhirnya mitos itu hanya menjadi sekelumit cerita unik yang tak terpisahkan dari Sham El-Nessim.
Tiap masyarakat merayakan musim semi ini dengan caranya. Bila orang-orang di Kairo menghabiskan waktu seharian di luar dengan memadati taman umum dan ruang publik terbuka di pinggiran sungai Nil, maka orang-orang di pedesaan merayakannya dengan mengonsumsi hasil panen mereka serta menikmati perayaan informal sederhana.
Reporter: Afifah Azmi Saiyidah
Editor: M. Saladin Ghaza Al Arsyad
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




