by

URGENSI BERPIKIR KRITIS BAGI MASISIR DALAM STUDI ISLAM

(Menjawab problematika Masisir yang amat memorizing centris dalam studi Islam)

Oleh: Muhammad Ghifari

Almuhāfazhah bi al-qadīm As-Shālih wa al-akhdzu bi al-jadīd al-ashlah atau terjemahan bebasnya kurang lebih adalah mempertahankan yang lama itu baik dan mengambil yang baru itu lebih baik. Demikianlah kaidah dari ulama Ushul Fikih yang sangat luar biasa dalam memahami paradigma (framework) agama Islam.         

Di samping itu, kaidah tersebut sudah tidak asing lagi mungkin bagi Masisir di Fakultas Syariah. Oleh karena itu, kaidah ini dapat dinilai taken for granted -meminjam istilah Cak Nur-  bagi seluruh kalangan Masisir. Terlebihnya lagi kaidah ini bukanlah berasal dari aliran teologi Islam yang menyimpang, bahkan Orientalis. Dengan demikian seluruh Masisir pasti akan menerima kaidah tersebut.

Kaidah ulama Ushul fikih tersebut sudah cukup mewakili bagi Masisir untuk melakukan arah perubahan atau Tajdīd agar mendapatkan progresivitas dalam mempelajari studi Islam. Hal ini, sangatlah perlu untuk dilakukan karena bagaimanapun realitanya  di era kontemporer ini, timbul berbagai problematik umat manusia. Mulai dari problem sosial, pendidikan, sains, teknologial dan lain-lain. Seluruh problematik tersebut sangatlah mempengaruhi cara berpikir umat manusia yang semakin maju termasuk juga cara memahami agama Islam itu sendiri.

Dalam konteks ini, peran agama Islam sangatlah signifikan dalam membawa perubahan  serta solusi dalam peradaban manusia. Hal tersebut harus dilakukan dengan mengembangkan cara berpikir yang kritis atau critical thingking terhadap ajaran serta studi agama itu sendiri.

Dalam konteks Masisir, kita melihat secara ekplisit bahwa Masisir terlalu memorizing centris (fokus hapalan) tanpa berpikir kirtis dalam memahami agama Islam itu sendiri. Mulai dari Hafalan Al-Qur’an, Al-Hadits, Matan, bahkan juga buku diktat kampus juga mereka hafal sampai benar-benar melekat dalam pikiran mereka.

Hal tersebut tidaklah salah karena bagaimanapun itu merupakan bagian tradisi keilmuan dalam sejarah peradaban Islam (Islamic civilization). Terlebih lagi terdapat kalam hikmah dari ulama salaf bahwa Man hafidza mutūn faqad fāza funun (siapa yang hafal matan maka dia mendapatkan ilmu).

Kalam tersebut seakan-akan menjadi jargon Masisir dengan memorizing centris dalam mempelajari studi Islam serta memahami ajarannya. Di sisi lain, memorizing centris tidaklah cukup dalam memahami ajaran Islam. Maka dalam konteks ini, Masisir memerlukan pendekatan yang baru dalam memahami ajaran Islam. Oleh karena itu, tulisan ini menghadirkan gagasan critical thingking atau berpikir kritis dalam mempelajari serta memahami ajaran agama Islam.

Kita melihat realitanya saat ini di era 4.0, studi Islam hanya berbicara data, fakta, dan sejarah, serta hafalan matan saja, tanpa melakukan critical thingking dalam mempelajarinya sehingga praktik pendidikan agama masih menerapkan paradigma konflik dan independen (Abdullah, 2014: 175). Bagi Abdullah (2014: 1) sendiri, tren keilmuan agama Islam masa depan harus saling melengkapi antar pandangan berbagai disiplin ilmu dan pergumulan teoritis dan metodologis secara intrinsik antar berbagai cabang pengetahuan dan keilmuan. Tentunya masa depan studi Islam ini dapat diwujudkan dengan cara berpikir kritis, serta tidak hanya mengandalkan memorizing centris.

Padahal sebagaimana yang diketahui bahwa tradisi berpikir kritis (critical thingking) merupakan bagian juga dari tradisi keilmuan Islam. Tokoh-tokoh Islam sepeti Al-Ghazāli, Ibn Sina, Ibn Rusydi, Ibn Thufail, dan lain-lainnya mereka berhasil memahami ajaran Islam dengan kritis sehingga agama bisa menjadi basic sebuah peradaban atau kita menyebutnya sebagai Peradaban Islam (lihat kontribusi umat Islam dalam Iqbal, 2007: xvii-xviii).

Oleh karena itu, critical thingking dalam memahami ajaran Islam memiliki peran yang signifikian. Dalam kasus Masisir ini, mereka perlu menjalankan dua gagasan tersebut -yaitu memorizing centris dan critical thingking– secara bersamaan supaya agama Islam ini bisa menjadi solusi dalam membawa perubahan Indonesia.

Sebagaimana yang diketahui bahwa hanya sedikit tokoh-tokoh alumni al-Azhar dari Indonesia yang membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebut misalnya: Dr. Tengku Zainul Majdi, Dr. Muchlis Hanafi, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, serta yang lainnya sudah secara nyata memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Akan tetapi jumlah tersebut tidaklah sebanyak diaspora dari Barat. Di mana mereka berkontribusi besar dengan critical thingking dalam membangun ekonomi, sosial, sains, pendidikan teknologi, dll.

Sebelum itu, mungkin dalam benak pikiran pembaca, tersirat sebuah pertanyaan: “Alumni Al-Azhar itu concern-nya agama, berarti kontribusinya juga dalam bidang agamanya-lah, kenapa harus yang lain?“. Memang ide tersebut tidaklah salah karena bagaimanapun juga, konsep Wasathi itu terkait dengan bidang agama Islam itu sendiri.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa agama tidak hanya berbicara hal-hal yang bersifat ritual dan religius, namun juga intelektual, serta terkait dengan segala realita yang ada. Agama Islam ini harus dipahami sebagai worldview yang dapat menjadi motorik dalam menghadapi segala realita termasuk ilmu pengetahuan dan sosial.

Dengan demikian, baik sains, iptek, dan lainya terikat oleh sebuah sistem worldview. Hal tersebut tentunya dapat dilakukan dengan pikiran kritis (critical thingking) dalam memahami agama Islam bukan hanya sekedar memorizing centris.

Oleh karena itu, tulisan ini hendak menawarkan cara berpikir yang baru di benak Masisir dalam memahami agama Islam. Di mana agama ketuhanan tidak hanya terkait dengan urusan ketuhanan (teosentris) saja, namun juga kemanusiaan (antroposentris), dan iptek. Semua itu dapat dilakukan dengan cara berpikir kritis terhadap teks-teks agama Islam sebagai sebuah warisan (turāts).

Sebelum itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa apa yang dimaksud dengan berpikir kritis atau critical thingking itu sendiri? Banyak definisi yang digunakan oleh para ahli mengenai berpikir kritis itu sendiri, sehingga terdapat berbagai macam kritik dan saran terhadapnya. Mulai dari bernuansa positivisme, liberalisme, bahkan juga worldview dibaliknya terhadap definisi tersebut, banyak dilontarkan oleh para ahli.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, Facione hadir dalam sebuah proyeknya yang dikenal sebagai “Laporan Delphi” telah berhasil membuat definisi berpikir yang dapat diterima dikalangan muslim dan non-muslim. Dia mendefinisikan bahwa berpikir kritis merujuk pada penilaian yang bertujuan untuk menghasilkan penafsiran, analisa, evaluasi, kesimpulan, serta penjelasan atas bukti, konsep, metodologi, dan kriteria atau pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar penilaian tersebut (Sulaiman dan Syakarofath, 2018: 88).

Definisi tersebut sudah cukup mengambarkan kepada kita mengenai berpikir kritis ini. Tetapi bagaimana caranya berpikir kritis itu? Seperti halnya dengan definisinya bahwa cara berpikir kiritis ini terus dikembangkan oleh para peniliti dan akademisi, sejak istilah ini muncul sampai era industri 4.0 saat kini.

Sebut misalnya The Universty of SIDNEY memberikan empat cara untuk berpikir kritis, mulai dari identify important choices that have been made  (mengidentifikasi pilihan-pilihan penting yang sudah dibuat) sampai find some convincing evidance to support your poin of view (Menemukan sejumlah fakta-fakta yang dapat mendukung terhadap poin pandangan kamu) (https://sydney.edu.au diakses 12 November 2019).

Dengan demikian, gagasan berpikir kritis sangatlah unik, menarik, serta luar biasa jika diterapkan kepada Masisir yang cenderung memorizing centris. Terlebih lagi banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung untuk menggunakan peran akal semaksimal mungkin.

Dalam konteks ini, konsep tabayyun (Q.S Al-Hujurat: 6) dalam Islam sangatlah cocok dengan gagasan berpikir kritis sehingga dalam ajaran Islam sendiri pada hakikatnya, berpikir kritis itu sudah dikenali sejak dulu. Oleh karenanya, maka bagi Masisir selayaknya harus melakukan revitalisasi berpikir kritis sebagaimana perintah dari Al-Qur’an.

Penulis pun menyimpulkan bahwa gagasan berpikir kritis ini memiliki peran signifikan bagi Masisir. Gagasan tersebut dijalankan bersamaan dengan budaya memorizing centris dalam memahami ajaran Islam. Hal tersebut mesti dilakukan untuk mewujudkan Masisir ideal, serta mampu mewujudkan citra studi Islam yang progresif dan baru. Di samping itu, Masisir juga dapat menciptakan pemahaman agama Islam yang multi-interdisipliner sehingga membuat kaya khazanah studi Islam. Tentunya dengan semua itu dapat membawa perubahan besar bagi Indonesia.

Wallahu a’lam bi as-shawāb

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin M. (2013). Relegion, Science and Culture: An integrated,    Interconnected Paradig, of Science. Al-Jami’ah, 52 (1), hlm. 175-203.

Abdullah, Amin M. (2014). Implementasi Pendekatan Integratif-Interkonektif Dalam Kajian Pemikiran Pendidikan Islam (Fresh Ijtihad memperjumpakan Ulum al-  din dan Sains modern dalam pemikiran Pendidikan Islam). Dalam Maragustam (editor), Implementasi Pendekatan Integratif-Interkonektif Dalam Kajian Pemikiran Pendidikan Islam, (1-32). Yogyakarta: Pascasarjana UIN SUKA.

Sulaiman, Ahmad & Syakarofath, Nandy Agustin. (2018). Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi dan Reformulasi Konsep dalam Psikologi Islam, bulletin psikologi, 26, (2), hlm. 86-96.

https://sydney.edu.au diakses 12 November 2019

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya