by

Tanggapi Budaya Pakai Sarung Indonesia, Orang Mesir: Dulu Terlihat Seperti Lelaki Pakai Rok

Informatikamesir.net, Kairo — Menanggapi budaya Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang sering memakai sarung di tempat-tempat umum di Mesir, Du’aa Ahmad Nahrawi, orang Mesir yang menjadi pemateri di acara Jendela Nusantara hari terakhir menjelaskan, dulu hal itu terlihat seperti laki-laki yang memakai rok.

“Dulu sekitar tahun 80-an, teman (orang Mesir-Red) aku pernah nginap di rumah. Dia lihat bapak (orang Indonesia) aku sarungan, jadi dia komentar pertamanya adalah, ‘bapak kamu ganteng, tapi kok pakai rok?’ Itu kesannya,” ungkap Du’aa dalam penyampaiannya pada Rabu, (25/11) kemarin, di Auditorium Wisma Nusantara.

Ia juga menambahkan, kalau sekarang orang Indonesia pakai sarung di depan orang Mesir itu sudah terlihat biasa, khususnya daerah-daerah yang banyak ditinggali oleh Masisir, seperti Darrasah dan sekitarnya. Karena menurutnya, semakin ke sini, budaya Indonesia semakin dikenal. Kemungkinan dikenalkan lebih awal oleh senior-senior dulu, sehingga kini orang Mesir tidak aneh lagi melihatnya.

Namun yang menurut Du’aa terlihat sangat mengganggu adalah ketika Masisir keluar menggunakan sendal jepit untuk kamar mandi. Karena di Mesir sendiri ada dua jenis sendal jepit, untuk umum dan untuk dipakai di kamar mandi. Makanya saat melihat Masisir memakai sendal jepit khusus kamar mandi di tempat umum, orang Mesir menilainya kurang sopan.

Di sisi lain, Menteri Koordinator 3 Sosial dan Budaya PPMI Mesir, Muhammad Syahran Hidayat menambahkan, memakai sarung di tempat umum di Mesir itu tidaklah buruk, karena itu adalah budaya Indonesia, akan tetapi hanya bisa di beberapa tempat saja. Untuk itulah ia mencari pembenaran dengan bertanya kepada Du’aa terkait budaya pakai sarung tadi.

“Makanya menarik ketika ustazah Dua mengatakan, kita melihat kalian kok kayak pakai rok, laki-laki pakai rok. Oh, ternyata seperti itu. Tapi Darrasah sudah dimaklumkan itu, dan beberapa tempat (lainnya),” pungkas Syahran kepada Informatika pascaacara Jendela Nusantara tersebut.

Reporter: Defri Cahyo Husain

Editor: Muhammad Adisurya Pahlawan

Comment

Berita Lainnya