Saksi di Bawah Spanduk Kampanye
Udara kota tua tempatku menempuh studi di bulan Desember ini tidak bisa diabaikan tanpa jaket; kabut pagi masih senantiasa menyelimuti sinar matahari. Pukul tujuh pagi, sudah kukenakan celana krem dan kemeja abu-abu lengkap dengan vest rajut biru serta mantel hitam sepanjang lutut, siap kutuju kampus klasik nan legendaris yang masih kokoh.
Jadwal kuliah—yang sudah empat kali berubah—adalah kompas agenda harianku saat ini. Setidaknya hingga revisi jadwal berikutnya. Dari tujuh hari yang ada, setidaknya empat hari kuhabiskan di kampus. Setidaknya itu janji dan niatku bersama rekan sejurusan pada diri masing-masing. Semoga istikamah terlaksana.
Kampus tua ini sebenarnya tidak pernah mewajibkan mahasiswanya untuk menghadiri kuliah. Entah ide dari mana administrasi kampus tidak mewajibkan mahasiswanya untuk menghadiri kuliah selain ujian. Tetapi, aku sampai sekarang tidak pernah mendapatkan jawaban logis dan rasional atas semua kebingunganku tersebut. Memang terdengar absurd, tetapi itu lah kebobrokan yang terjadi di kampus tua ini.
Selain sistem akademik tanpa absensi, pengurusan administrasi pendataan mahasiswa untuk jurusan diniah juga tak kalah bobrok. Bayangkan saja, di zaman iPhone 17 sudah muncul, pendataan masih dilakukan secara manual (tulis tangan) dan bahkan terkenal korup—terutama di bagian pengurusan maba. Sudahlah harus antre sedari subuh, itu pun selalu diserobot orang-orang yang menyogok. Sialnya, kebanyakan mereka adalah orang ras hitam yang secara postur lebih besar dan kuat fisik ketimbang kami WNI.
Tidakkah pernah ada yang berusaha memprotes? Kalau pun ada, bagaimana tanggapan pihak kampus? Entah lah. Aku pun masih bingung dengan pembiaran atas korupsi, suap, dan kemalasan ini.
Pernah kudengar ada yang bilang, “Udah lah, bersyukur aja lu. Kuliah aja kagak bayar masak protes? Bayar pun juga cuma berapa. Ini juga sekalian melatih kesabaran mahasiswa.” Menurutku, itu malah membenarkan keresahanku dan mahasiswa lainnya bahwa “sistem di kampus ini bobrok nan murahan”. Tetapi, aku harus tetap beradaptasi dengan segala kebobrokan itu dan bertolak ke kampus bobrok itu.
Sebelum kutinggalkan kamar, sekilas kulirik kasur sebelahku di kamar sudah kosong dan rapi. Laptop ROG dan kabel charger iPhone miliknya pun sudah tertata rapi di atas meja lipatnya. Hanya sepotong ayam goreng tepung bermerek ternama yang semalam ia beli tersisa di dalam kotak karton merah yang khas tergeletak di atas mejanya.
Entah ke mana si Adi, teman kamarku, yang selalu menghilang setiap aku bangun sekalipun sepagi pukul setengah tujuh seperti tadi. Mungkin saja dia ke kampus lebih awal, tetapi siapa pula yang pergi ke kampus tua itu sebelum pukul setengah tujuh? Mungkin ia bekerja di waktu pagi ini, tetapi sore hari sepulang kuliah pun tak pernah kujumpai ia ada di rumah.
Karena bangun lebih pagi dari biasanya, aku masih sempat untuk mampir di sebuah restoran pagi milik mahasiswa Indonesia dan memesan nasi uduk. Alasannya simpel, sudah dua tahun aku tinggal di kota tua ini, tetapi tidak pernah sekali pun kucicipi makanan tersebut meski hampir setiap hari lewat.
Aku duduk di meja lesehan sembari membuka ponsel dan menanyakan posisi teman-teman sekelasku.
“Lah, buset! Tumben mampir di sini Lu,” ujar pramusaji yang suaranya terdengar familiar.
Kulihat orang tersebut, ternyata itu Adi.
“Lah, Adi! Bukan karena apa sih, penasaran aja makan di sini tuh kayak gimana,” balasku.
“Baru tau gua kalau Lu kerja di sini. Sejak kapan, Bro?” Tambahku.
“Oh, sudah lama. Sebelum gua pindah ke flat yang sekarang malah.”
“Kerja tiap hari Lu?”
“Ya gitu deh, sudah sejak gua maba malah.”
“Lah, enggak kuliah gitu? Minimal talaki lah atau organisasi apa kek,”
“Ya namanya juga cowok sulung di rantauan. Adek gua walau cowok semua masih mondok. Mau enggak mau ya gini deh.”
“Oalah, ortu udah enggak ngirim?”
“Iya. Gua udah enggak terima uang lagi dari ortu. Uang ortu juga udah habis pas buat gua berangkat. Ya hitung-hitung balas budi lah ya.”
Aku hanya membalas dengan anggukan sementara Adi kembali ke dapur. Dalam hati, aku sangat takjub. Seorang mahasiswa independen finansial yang kehidupannya tidak lagi ditanggung orang tuanya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ya, termasuk laptop ROG dan iPhone 16 miliknya, ditambah sepaket ayam goreng tepung ternama. Mahasiswa mana yang tidak memerlukan laptop bagus anti ngelag dan ponsel dengan kamera jernih? Plus ayam goreng tepung untuk healing.
Di ruang makan saat itu hanya ada aku bersama nasi uduk hangat yang sedikit demi sedikit mulai kuhabiskan. Hingga aku selesai dan berangkat ke kampus, Adi tak juga terlihat lagi di ruang makan. Pastinya dia sedang sibuk di dapur.
Pukul satu siang, otakku sudah suntuk dan panas, bahkan terasa akan meledak. Sudah begitu, perut mulai berdemo pula. Akhirnya, kutinggalkan kelas sebelum dosen pengampu matkul terakhir tiba.
Seperti biasa, makanan lokal selalu menjadi pilihan favoritku. Alasannya simpel, yaitu karena harganya yang ramah dompet mahasiswa—dibanding restoran-restoran milik mahasiswa Indonesia—dan gizi tetap lengkap. Meskipun murahan, bukan berarti tidak bisa dinikmati, kecuali bagi sebagian mahasiswa manja yang selalu mengklaim “lidahnya enggak cocok”. Tetapi, namanya selera ya selera sih.
Aku pun membeli roti berisi foul dan falafel di sebelah toko kacang-kacangan ikonik. Sembari menunggu penjual menyiapkan pesanan, kupandangi area sekitar yang tidak berbeda dengan tahun sebelumnya. Walaupun pilpres warlok sudah hampir dua tahun berlalu, spanduk yang berbunyi tahya al-daula “hidup negara” dan kolna maak “kami semua bersamamu” masih saja terpampang.
Bahkan di masa pileg seperti sekarang, spanduk tersebut terpampang di antara spanduk-spanduk kampanye caleg yang berjejeran bagaikan spam. Terlihat di seberangnya beberapa polisi lalu lintas menegur sopir mikrobus yang berhenti terlalu lama di pinggir jalan—yang seharusnya bukan tempat henti.
Tiba-tiba, sebuah sedan muncul dan berhenti di seberang toko kacang-kacangan tersebut. Dua orang keluar dari sedan tadi. Ternyata itu adalah Adi dan seorang perempuan tak kukenal yang tampak seperti mahasiswi Indonesia. Mereka tampak berjalan meninggalkan mobil tadi dan berjalan berdekatan hingga menempelkan bahu satu sama lain sambil berbincang ria.
Kemudian, Adi terlihat memberikan sekotak gepeng yang tampak seperti kotak pizza—entah apa mereknya—kepada perempuan tersebut. Di sebuah belokan, mereka saling melambaikan tangan, lalu berjalan pada arah yang berbeda dan berpisah tanpa menyadari aku memperhatikan mereka sedari tadi.
Wajah perempuan tadi sangat berbeda dengan Adi untuk dikatakan bersaudara. Apalagi dari warna kulit. Toh dia bilang kalau dia tidak punya saudara perempuan. Bagaimana kalau ternyata Adi sudah menikah? Dia empat tahun lebih tua dariku. Mungkin saja, tetapi Adi tidak pernah berbicara soal itu kepada siapapun di antara penghuni flat kami.
Hanya satu jawaban yang saat itu terpikirkan otakku. “Oh, ternyata Adi punya pacar tah,” gumamku pada akhirnya. “Sibbal, enggak dapat kiriman kok bisa-bisanya ngirimin orang lain? Sudah gitu hape-nya iPhone pula. Berani juga kerja tiap hari sampai bablas waktu kuliah,” tambahku.
Pemandangan dua orang pelajar Indonesia lawan jenis—yang tampak nonbatih—berjalan berduaan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Bukan tak ingin kutundukkan mata dari pemandangan tersebut, tetapi mata tetap harus waspada karena warlok kerap kali mengemudi secara sembrono dan “menyenggol pejalan kaki yang tidak berhati-hati”. Aku pun pulang ke rumah sesudah kuhabiskan roti foul dan falafel tadi.
Sesampainya di rumah, aku kembali bertemu Adi yang baru keluar kamar dan masuk ke kamar mandi tanpa sapaan maupun basa-basi. Sembari kulepas mantel dan pakaian outer-ku, tatapanku terpaku pada sebuah folder transparan yang di dalamnya terlihat sebuah paspor dan beberapa berkas dokumen pribadi. Namun, setelah kulihat lebih dekat, tertulis di paspor tersebut “Kementerian Agama Republik Indonesia”.
“Blyat, ternyata tadi itu istrinya tah,” gumamku.
Cukup kaget mengetahui bahwa teman kamar sendiri sudah menikah, tetapi tidak pernah mengatakan soal itu padaku. Tak lama kemudian, Adi keluar dari kamar mandi dan muncul di ambang pintu kamar.
“Ternyata Lu udah nikah ya? Enggak bilang-bilang Lu,” ujarku.
“Hahaha, iya. Tau dari mana Lu?”
“Sori, itu buku nikah di folder kelihatan. Hehe.”
“Oh iya, aman aje. Sebelum pindah ke sini kan gua sempat pulang ke Indo. Nah, pas itu nikahnya,” jelas Adi mengambil folder tersebut dan beranjak keluar lagi.
“Sekarang mau ke mana lagi Lu?”
“Ke konsuler,”
“Oh, mau urus apaan?”
“Visa,”
Aku mengernyitkan mata, tak paham. Mungkin maksudnya, dia mau perpanjang izin tinggal. Tetapi, setauku itu tidak dilakukan di konsuler, melainkan paguyuban daerah.
Tiba-tiba dia melanjutkan, “Mau urus visa istri gua biar dia bisa ke sini. Soalnya dia masih di Indo.”
_______________
Oleh: Muhammad Saladin Ghaza Al Arsyad
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




