by

Pengamat Masisir Tanyakan Isu Kasus Interaksi oleh Oknum PPMI Mesir serta Peran KPI Terhadapnya

Informatikamesir.net, Kairo — Salah seorang Pengamat Masisir, Absil Abdul Rahman, Lc. dalam Segmen 5 sesi 3, mempertanyakan terkait isu kasus-kasus yang ditangani oleh Komisi Peduli Interaksi (KPI), seperti kasus interaksi antar lawan jenis. Katanya banyak dari oknum PPMI Mesir yang melanggarnya. Ia juga mempertanyakan peran KPI terhadap kasus-kasus tersebut kedepannya.

“Karena menurut pengakuan salah satu mantan anggota KPI, dan itu juga yang saya pribadi dapati, PPMI yang membentuk, tapi faktanya, kebanyakan oknum PPMI pula yang melanggarnya. Sehingga saya melihat KPI itu hidup segan, mati tak mampu,” ungkap Absil melalui kertas pertanyaan yang dibacakan oleh Moderator acara Debat Kandidat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) 2021-2022.

Terkait pertanyaan tersebut, Hafizd Alharomain Lubis, Capres nomor urut 02 membantahnya dengan mengatakan, hal itu terlalu subjektif. Karena menurutnya, fakta yang terjadi perihal kasus interaksi maupun asusila di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) itu tidak dilakukan oleh orang-orang yang aktif berdinamika di organisasi.

Di sisi lain, Ahsanul Ulil Albab, Lc., Capres nomor urut 01 menjawab pertanyaan Absil terkait peran KPI kedepannya, apakah PPMI Mesir akan terus mendukungnya dengan aksi-aksi dalam syiar dakwah akhlak, ataukah memilih untuk meniadakan KPI itu sendiri.

“Terkait peran KPI di Masisir, kita tahu, setahun yang lalu, KPI sendiri diresmikan dengan tanda tangan 16 kekeluargaan. Artinya, KPI ini, kebutuhan terhadapnya sudah disetujui bersama oleh stakeholder (Pemangku Kebijakan) di ranah PPMI pada saat itu,” ucap Ahsan dalam acara tersebut, Ahad (25/4) kemarin, di Aula Darul Hasan Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) Mesir.

Meskipun begitu, Ahsan mengakui bahwa misi besar terkait bagaimana mengubah pola interaksi itu sangat berat, tapi bukan berarti tidak mungkin. Karena menurutnya, KPI itu sendiri sejauh ini sudah berusaha untuk tetap hidup, hanya saja belum menemukan momennya. Olehnya Ahsan berpesan, alangkah baiknya kedepan, PPMI Mesir lebih memperkuat fungsi KPI dan mendukung perannya.

“Dalam artian didukung di sini, bukan berarti mendukung secara operasional dan segala macam. Tetapi bagaimana untuk awal-awal mendukung apa yang menjadi kesepakatan kita bersama terkait tujuan-tujuan KPI, dan menjadi contoh, itu menjadi penguat bagi teman-teman yang berada pada ranah itu,” terangnya.

Tidak cukup sampai di situ, Hafizd juga ikut menegaskan bahwa KPI itu harus ada, ia harus menjadi mekanisme pengontrolan interaksi. Namun menurutnya, undang-undang, konsep, mekanisme pengontrolan, atau apa pun itu yang berlaku di tubuh KPI saat ini harus benar-benar direvitalisasi, dalam artian menaikkan semangat kembali dan merombak lagi, baik dari segi struktural, konsep, dan sebagainya.

Reporter: Defri Cahyo Husain

Editor: Muhammad Adisurya Pahlawan

Comment

Berita Lainnya