Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Lupa Bercermin

Lupa Bercermin

Ilustrasi ketika seseorang bercermin. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aku terbang menuju Jakarta meninggalkan sementara tanah rantauan yang kutinggali selama hampir dua tahun. Di tempat transit, kutatap layar ponselku. Kubaca sebuah kabar tewasnya seorang kurir-ojol yang hanya sedang melewati area unjuk rasa akibat ditabrak rantis polisi. Api amarah publik semakin menyala.

“Inna lillah,” gumamku bergeleng.

Berita kututup. Tampilan layar kuganti ke status WA. Pandanganku terpaku pada sebuah status berisikan reaksi Azka—rekanku seorganisasi—terhadap situasi negeri. “Semoga para polisi dimatikan dengan sehina-hinanya. Rakyat sudah menyatakan mosi tidak percaya pada polisi,” begitu tulisnya. Kepalaku kembali bergeleng.

Azka memang seorang mahasiswa yang berjiwa revolusioner. Dulu, kami pernah berdebat di grup WA saat masih jadi anggota baru. Saat itu, aku mengunggah sebuah opini reflektif yang tidak disukai Azka. Pimpinan saat itu menengahi dan tulisanku tetap dibiarkan terunggah di laman organisasi.

Aku pun membalas, “Iyakah? Apa buktinya rakyat menyatakan mosi tidak percaya?” Azka membalas kembali, “Kalau mau, bukti tuh banyak di lapangan. Lu makanya harus update dengan isu terkini.”

“Diskusi sama Lu cuma buang waktu. Lu bukan aktivis yang turun ke lapangan dan pengamat politik. Lu hanya pengamat sepak bola yang mencoba belajar menjadi jurnalis,” tambah Azka.

Pengamat sepak bola? Tidak salah, tetapi aku juga mahasiswa hukum. Tentu saja aku lebih melek politik dan hukum darinya. Hanya saja, aku bukan tipe orang yang ad hominem saat diskusi.

“Gua memang pengamat bola. Tetapi gua juga mahasiswa hukum. Gua pakai dasar akademis kalau mau bicara, bukan gunjing belaka. Balik ke topik deh, apa dasar Lu untuk mendoakan para polisi mati?”

“Tulisan status gua memang tidak ilmiah. Di jalanan juga banyak ekspresi massa semacam ini. Ini bentuk kebebasan ekspresi pribadi di akun pribadi. Ngapain Lu ikut campur?”

Aku pun sadar bahwa tulisan tadi hanya lah yapping belaka. Namun, kalau dia mengekspresikan reaksi emosionalnya di muka umum, publik pun berhak memberikan reaksi rasional terhadap ekspresinya. Lagian, para akademisi kan juga biasa menulis opini pribadi lewat organisasi tertentu.

Esoknya, aku tiba di Jakarta. Baru tiba rumah, grup WA organisasi ramai. Ida mengirim unggahan dan meminta opini anggota tentang seorang ibu berjilbab pink yang viral jadi simbol perjuangan setelah vokal, namun dengan bahasa kotor. Aku jelas tidak setuju. 

“Maaf ya, kita mahasiswa harusnya bukan sekadar revolusioner, tetapi akademis dan etis yang utama. Jadi yang ini, gua tidak ikutan,” balasku. Tetapi, Hasan—anggota baru—membalas, “Memaki memang tidak baik, tetapi yang disoroti di sini tuh keberanian dan keberpihakannya pada rakyat. Jadi, mereka yang pakai warna pink di foto profil menjadi bentuk solidaritas dan perjuangan melalui medsos.”

Masuk akal. Namun, Hasan tampak tidak memaksaku ikut tren tersebut. Aku pun tidak ngotot membalas. Tiba-tiba, Hasan melanjutkan, “Simbol pink bisa jadi simbol perpecahan maupun persatuan. Kita pilih mau yang mana.”

Aku pun memeriksa kembali unggahan yang dikirim Ida. Di situ aku baru menyadari bahwa komenku dihapus. Terlihat tanda bertuliskan, “Pesan ini telah dihapus admin Azka”. Waw! Ternyata mahasiswa aktivis selain biasa ad hominem, juga bisa jadi pembungkam suara seperti rezim Orba.

“Mau komen nanti dihapus lagi,” balasku singkat karena malas lanjut debat. Tak lama kemudian, Azka mengunggah status bertuliskan “Hati-hati provokasi pemecah belah rakyat” sekitar 10 menit kemudian. Aku seketika teringat pada pejabat yang melabeli para demonstran sebagai pemecah belah persatuan. Kenapa kelakuan aktivis satu ini plek dengan pejabat itu ya? Tidak pernahkah ia berkaca? Aku diam dan tutup perdebatan.

Dua hari berlalu. Aku diajak makan bakso bersama Azar dan Fadil, teman SMA-ku. Azar memberiku sebotol cuka. Kulihat botol tersebut dan tertulis nama yang terdengar familiar, UI. “Wah! UI bikin usaha begini,” gumamku.

Kutanya, “Bikinan mahasiswa UI, ya?” Azar bergeleng. “Bikinan juragan mebel samping UI. Coba pakai! Tetapi, setetes aja,” ujarnya. Seperti biasa, langsung kutuang tiga tetes. “Tukang mebel pun sekarang jualan cuka ya, gua kira cuma bisa jadi presiden,” ujarku sambil melahap.

“Bah! Asam amat,” ujarku. “Dikasih tau malah batu sih,” ujar Azar. “Lagian, lebih asam omongan Lu barusan,” ujar Fadil. “Nah, Lu juga dulu sering banget komentari orang. Padahal orang kalau cuma yapping kan enggak perlu dikomentari juga kali.” tambah Fadil menyeringai. “Jangan spill lah,” balasku santai. “Mana sering banget Lu beropini lawan arus, terus ngotot pula,” tambah Fadil. Aku pun ingat sesuatu.

“Ternyata refleksi tidak cuma dari kaca ya, nih bisa dari cuka,” ujarku. “Bisa aja Lu,” ujar Azar. “Kayaknya gua harus berterima kasih deh ke pembuat cuka ini,” ujarku. “Lu Mau ke toko mebelnya?” tanya Azar. “Enggak, cukup teriakkan sesuatu yang sangat populer,” ujarku santai. “Apa tuh?” Kuangkat botol cuka itu dan kuteriakkan dengan suara dalam nan tegas, “Hidup Cuka UI!”

Ting! Ting! Ting! Dentingan mangkuk bakso terdengar.


Penulis: Muhammad Saladin Ghaza Al Arsyad

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad