Informatika Mesir
Home Sorotan Kisah Spiritual di Balik Perang 6 Oktober:  Mimpi Syekh Abdul Halim Mahmoud

Kisah Spiritual di Balik Perang 6 Oktober:  Mimpi Syekh Abdul Halim Mahmoud

Sumber: istimewa

Informatikamesir.net, Kairo – Dalam sejarah, kita sering diceritakan betapa kuatnya superior Israel dan Amerika Serikat di dunia polemologi. Apalagi saat berbicara soal Mesir. Negeri Kinanah ini sering kali kita jumpai sebagai pejuang yang melawan sekutu tersebut. Salah satunya dalam peristiwa 6 Oktober 1973, atau dikenal sebagai Perang Yom Kippur. Di balik serangan dan rencana yang epik, ada satu hal menarik yang menjadikan cerita ini terasa berbeda. Yaitu tentang mimpi salah seorang ulama yang selalu menjadi sorotan karena jasanya dalam memimpin mobilisasi spiritual dan keagamaan untuk melancarkan perang tersebut dan merebut kembali tanah air.

Siapakah ulama itu? Dalam sejarah, namanya tertulis dengan agung Syekh Abdul Halim Mahmoud seorang Grand Imam Al- Azhar kala itu. Selain menjadi guru di lembaga pendidikan terbesar di Mesir. Syekh Abdul Halim Mahmoud juga kerap kali terjun ke kemah-kemah militer untuk membakar semangat para militer serta menumbuhkan moral mereka. Bahkan sering dijuluki sebagai Imam Al-Ghazali Abad XIV hijriyah karena kontribusinya dalam menghidupkan kembali pemikiran islam, tasawuf, dan modernisasi pendidikan.

Pada tahun 1967. Di bawah pemerintahan Gamal Abdel Nasser, Mesir baru saja mengalami kekalahan berupa perebutan semenanjung Sinai yang berhasil jatuh ke tangan Israel yang di sokong langsung oleh Amerika Serikat. Tentu hal ini menjadi luka yang membekas bagi seluruh masyarakat Mesir. Menelan kekalahan yang harus merelakan sebagian wilayah tersebut. Hal ini menjadikan peristiwa tersebut dikenal dengan An-Naskah (red: Hari Kekalahan).

Maka dari itu peristiwa perebutan kembali pada tahun 1973 merupakan titik balik yang besar bagi bangsa Mesir. Terlibatnya mimpi Syekh Abdul Halim Mahmoud juga menjadi kunci di balik suksesnya rencana tersebut. Dalam mimpi tersebut, Syekh Abdul Halim Mahmoud melihat Rasulullah SAW bersama para ulama muslim, perwira dan pasukan Mesir tengah menyeberangi terusan Suez menuju semenanjung Sinai pada tanggal 10 Ramadhan. Selain itu juga saat terlihat Rasulullah mengibarkan bendera bertulis kalimah Allahu Akbar. 

Setelah terbangun dari tidurnya Syekh Abdul Halim Mahmoud pun segera menyampaikan hal ini kepada Anwar Sadat, Presiden Mesir kala itu. Syekh Abdul Halim Mahmoud berkata: “Bertakwalah kepada Allah Tuan Presiden, Anda harus menghadapi pertempuran ini, dan insya allah Anda akan menang. Aku telah melihat (dalam mimpi) Rasulullah SAW menyeberangi kanal (terusan Suez) bersama pasukan.” Melihat adanya keselarasan antara rencana yang tengah dirundingkan dengan mimpi sang ulama. Membuat Anwar Sadat semakin yakin jika ini adalah jawaban dari langit. Jawaban yang disampaikan lewat mimpi hamba pilihan-Nya.

Rencana tersebut pun benar-benar dilancarkan pada 6 Oktober 1973, bertepatan pada 10 Ramadhan 1393 H. Tepat pukul 14.00 tengah hari serangan awal meluncur dari udara ke pangkalan- pangkalan udara Israel. Selanjutnya, blokade yang dilakukan oleh Angkatan Laut Mesir di laut Merah juga serangan dari darat berupa pasukan infanteri yang menyeberangi terusan Suez dan melubangi perbentengan pasir menggunakan senjata meriam air. Hingga pukul 14.35 bendera Mesir mulai berkibar di tepi timur terusan Suez. Dalam waktu kurang dari dua jam, Garis Bar Lev- yang merupakan pertahanan terkuat menuju semenanjung Sinai, berhasil dijinakkan oleh pasukan Mesir.

Hingga pada tanggal 8 Oktober 1973, serangan ini telah mencapai targetnya. Mesir berhasil menembus pertahanan Israel sejauh 15 kilometer arah timur terusan Suez. Setelah berbagai serangan tersebut, perang pun pecah. Perang yang sering dikenal sebagai Perang Yom Kippur, yaitu hari suci di kalender Yahudi. Walau pada akhirnya secara keseluruhan perang ini tidak dimenangkan oleh pihak Mesir.

Peristiwa ini kerap disebut dengan Operasi Badr (Amaliyat Badr) sebagaimana nama Perang Badr di masa Rasulullah yang juga terjadi di bulan Ramadhan. Rencana perebutan wilayah timur Terusan Suez  ini berakhir gemilang di tangan Mesir. Berawal dari mimpi seorang alim yang bertemu dengan Rasulullah SAW, hingga rencana penyerangan senjata air di Garis Bar Lev, semua adalah rancangan Allah SWT.  Dengan demikian, momen ini merupakan sejarah penting bagi masyarakat Mesir. Momen yang menunjukkan bahwa Mesir yang pernah kalah bisa menegakkan muka kembali, sementara Israel—dengan segala superioritasnya—pun dapat dikalahkan.

Penulis: Muhammad Fauzan Abdurrohman

Editor: Faqih Billah 

Sumber: 

https://al-ain.com/article/october-war-abdelhalim-mahmoud
https://arz.wikipedia.org/wiki/%D8%AD%D8%B1%D8%A8_%D8%A7%D9%83%D8%AA%D9%88%D8%A8%D8%B1
https://share.google/wotPg7K1cnUqIzqKK
https://share.google/SwIoPNkk89djEM4Iu

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad