by

KBRI Cairo Kapan Mengadakan Tes PCR Masal dan Menyediakan Ruang Isolasi bagi yang Positif COVID-19?

Oleh: Ardy Manda Putra, Sekretaris Jenderal PPMI Mesir 2017/2018

Saat kasus COVID-19 masih nol di Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), saya mencoba untuk menghubungi dan berkomunikasi dengan berbagai lembaga yang menaungi mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Salah satunya KBRI Cairo. Ada beberapa hal yang saya coba sampaikan, satu di antaranya terkait pentingnya Posko atau tempat Isolasi bagi mahasiswa yang dimungkinkan bakal terkena pandemi Coronavirus yang telah menjadi bencana global, termasuk negara Mesir.  

Jumlah mahasiswa di Mesir jumlahnya sangat banyak, hingga saat ini tercatat sekitar 8.000 orang lebih. Tempat tinggal mereka semua terpusat di kota Cairo dan terbagi ke dalam berbagai kawasan meliputi Darrosah, Asrama Bu’uts, Distrik Sabik, Distrik Asyir, Distrik Tsamin, hingga ada beberapa yang tinggal  di kota Alexandria. Dalam jumlah sebesar ini seharusnya pelaksanaan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dilakukan.

Test PCR sendiri penting untuk mengetes seseorang terinfeksi virus Corona atau tidak, sebab tanpa diadakannya test ini, kita tidak akan dapat melihat sejauh mana grafik perkembangan kasus Corona ini di Masisir. Tanpa adanya test, semuanya akan merasa baik-baik saja, walhasil selama fatrah beberapa bulan yang lalu tidak ada yang terkena kasus positif, kalau ada tes mungkin saja sudah ada bahkan mungkin banyak.

Sempat saya tanyakan apakah ada dana dari pusat yang mengalir ke KBRI Cairo untuk penanganan selama pandemi ini. Mengingat banyaknya bantuan logistik makanan berbentuk beras, minyak goreng dan Indomie. Saya berpandangan ada hitung-hitungan yang tidak tepat, apakah ada saving untuk biaya pengobatan jika ada yang terkena COVID-19? Atau hanya akan mengandalkan rumah sakit gratis yang kita tau bersama keruwetannya.

Pandangan saya ini bukan tanpa alasan, sebab saya mendapati ada kesan saling lempar tangan antara KBRI Cairo dan PPMI Mesir terkait pembiayaan salah satu mahasiswa yang terkena positif COVID-19 lalu. Atau memang tidak ada anggaran biaya pengobatan bagi yang positif untuk sembuh seperti sediakala? Tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Mengingat dalam situasi seperti ini keterlibatan negara sangat penting.

Sekiranya ada dana yang mengalir dari pusat ke KBRI Cairo untuk penanggulangan COVID-19 ini, semestinya regulasi penggunaannya harus didudukkan dengan berbagai lembaga yang ada di Masisir, walaupun mereka bukan bagian dari lembaga negara, baik itu PPMI Mesir dan Kekeluargaan yang ikut bantu mengurus setiap ada korban. Biar penggunaannya itu tepat hitungan dan sasaran, jadi PPMI Mesir dan Kekeluargaan bukan hanya dijadikan objek lapangan saja, tetapi juga ikut menjadi subjek dari kebijakan anggaran tadi. Naasnya hingga saat ini pertanggal 14 Juli tidak ada perbincangan lebih lanjut dan kalaupun ada saya kira hanya janji-janji manis semata yang berkaitan dengan logistik dan tempat isolasi.

Sekarang kita dapati sembilan mahasiswa Indonesia yang berstatus positif COVID-19, tentu kita bertanya bagaimana mereka bisa sampai positif? Jawabannya karena mereka melakukan tes. Selanjutnya bagaimana penanganannya? Bagaimana kondisi terkini mereka? Belum lagi mendengar keluhan logistik yang lamban dari teman-teman yang berstatus positif dan OTG (Orang Tanpa Gejala). Saya mengira persoalan ini harus cepat diselesaikan dengan sigap di lapangan dengan koordinasi yang baik. Tanpa adanya koordinasi yang jelas antara KBRI Cairo dan PPMI Mesir, selama itu pula akan ada tumpang tindih tugas dan wewenang dalam kasus penanganan ini.

Bisa kita bayangkan andaikata seluruh Masisir melakukan test PCR, tentu tidak akan mengejutkan jika kita dapati peningkatan kasus yang ada di ruang lingkup Masisir. Mengingat tembok sekelas Madinat Bu’uts saja bisa ditembus oleh COVID-19, apakah lagi Masisir yang masih bebas berkeliaran hingga sekarang.

Ada beberapa opsi dan tawaran yang sudah disampaikan PPMI Mesir kepada KBRI Cairo, salah satunya terkait penggunaan gedung SIC (Sekolah Indonesia Cairo) sebagai tempat isolasi bagi yang terkena COVID-19 dan OTG. Mengingat penggunaannya untuk pembelajaran masih belum dimulai. Andaikata ini bisa terlaksana, maka penanganannya akan menjadi satu pintu, akan memudahkan pengawasan dan pendistribusian logistik bagi yang terdampak.

Sangat disayangkan andaikata permasalahan Isolasi dan Logistik tidak bisa diselesaikan oleh KBRI Cairo, ini akan menjadi awal gelombang keresahan di kalangan Masisir mengingat sudah meningkatnya kasus ini. Saya kira mahasiswa yang lain juga harus turut menyuarakan dan mendorong agar SIC bisa digunakannya sebagai tempat isolasi dan penanganan satu pintu sesegera mungkin.

Editor: Abdul Fatah Amrullah

Comment

Berita Lainnya