Informatika Mesir
Home Sorotan Imam Sibawaih Juga Termasuk Wafidin, Dr. Al-Baraa Soroti Tantangan Mahasiswa Non-Arab Belajar Bahasa Arab

Imam Sibawaih Juga Termasuk Wafidin, Dr. Al-Baraa Soroti Tantangan Mahasiswa Non-Arab Belajar Bahasa Arab

Sumber: dokumentasi tim Informatika Mesir

Informatikamesir.net, Kairo – Status sebagai penutur non-Arab tidak menjadi penghalang untuk mendalami bahasa Arab. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Al-Baraa Safwan Abdul Ghani, dosen Sastra dan Kritik Fakultas Bahasa Arab Kairo Universitas Al-Azhar sekaligus Koordinator Program Bahasa Arab bagi Penutur Non-Arab. Pada acara Grand Closing Usbu’ Adab wa Tarikh 2026, Kamis (13/8), Aula Idarah Wafidin, Madinat Bu’uts.

Dalam pemaparannya, Dr. Al-Baraa mencontohkan Imam Sibawaih, ulama asal Persia yang menjadi salah satu tokoh penting dalam kodifikasi gramatika Arab melalui karyanya, Al-Kitab. Ia menekankan bahwa salah satu tokoh penting dalam pembakuan kaidah bahasa Arab justru berasal dari kalangan non-Arab.

“Artinya, orang yang membakukan kaidah bahasa kita justru seorang wafid (red: orang pendaatang),” ujar Dr. Al-Baraa.

Dr. Al-Baraa menjelaskan bahwa masyarakat Arab pada mulanya menggunakan bahasa Arab secara saliqah atau alami, sebelum kaidah gramatika dibakukan. Menurutnya, pembakuan nahwu berkembang setelah penutur non-Arab memasuki lingkungan Arab dan mulai muncul kekeliruan dalam penggunaan bahasa.

Ia kemudian menceritakan perjalanan Imam Sibawaih yang pada mulanya hendak mempelajari hadis. Namun, setelah melakukan kesalahan dalam berbahasa Arab, gurunya mengarahkan Imam Sibawaih untuk mempelajari bahasa Arab terlebih dahulu. Menurut Dr. Al-Baraa, dari dorongan tersebut membawa Imam Sibawaih untuk mendalami bahasa Arab hingga melahirkan Al-Kitab, salah satu karya penting dalam khazanah gramatika Arab.

Dalam sesi tanya jawab, Dr. Al-Baraa turut menyoroti persoalan yang dihadapi oleh mahasiswa wafidin dalam mempelajari bahasa Arab. Menurutnya, mahasiswa wafid dapat menghafal dan memahami kaidah nahwu sebelum datang ke Mesir, tetapi persoalan sering muncul ketika kaidah tersebut harus diterapkan dalam percakapan.

“Ia menghafal kaidah, tetapi masalahnya ada pada penerapan. Banyaklah mempraktikkan, banyaklah berlatih. Dengan begitu, lisanmu akan semakin tepat dalam menerapkan kaidah nahwu,” jelasnya.

Dr. Al-Baraa juga mendorong mahasiswa non-Arab untuk tidak menganggap sastra dan syair Arab sebagai sesuatu yang terlalu sulit. Menurutnya, teks sastra dapat dipahami secara bertahap, mulai dari mendengarkan, memahami kosakata, menangkap maksud penyair, hingga mempelajari unsur balaghah dan konteks yang melatarbelakangi sebuah karya.

Mimbar Cendekia yang bertajuk at-Turats wa an-Naqd menjadi bagian dari rangkaian Usbu’ Adab wa Tarikh 2026 yang diselenggarakan oleh SEMA-FBA (Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa arab) Mesir. Ghiyast Hamdi, Ketua Pelaksana Usbu’ Adab wa Tarikh 2026, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini mengangkat tema kritik dari sudut pandang sastra dan sejarah. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat mahasiswa, termasuk dari luar Fakultas Bahasa Arab untuk mengenal sastra dan sejarah lebih dalam serta tidak memandang kedua bidang tersebut sebelah mata. 

Reporter: Fahdi Hishnuddin Rantisi
Editor: Faqih Billah

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad