Festival Danau Toba ke-9: Merawat Budaya Sumatera Utara di Tanah Rantau
Informatikamesir.net, Kairo – Sunyinya malam berubah menjadi momentum kebersamaan. Di bawah gelapnya langit Kairo pada hari Sabtu (01/08), gema nyanyian daerah serta gerakan yang lihai dari para penari mengiringi Festival Danau Toba ke-9 di Nadi Moyah, Daher, Kairo. Acara yang digelar sebagai peringatan hari lahirnya HMMSU (Himpunan Mahasiswa dan Masyarakat Sumatra Utara) ke-30.
Dengan mengangkat jargon “Budaya kita lestarikan, HMMSU kita banggakan,” yang menjadikan acara tersebut wadah untuk mengenalkan identitas dan budaya Sumatra Utara di tanah perantauan.
Seperti perkataan Fatwa Hidatullah selaku MPA HMMSU. “Malam ini adalah bentuk upaya untuk mempertahankan identitas dan nilai-nilai kebudayaan Sumatra Utara.”
Acara ini dimulai dengan pertunjukkan Tari Tor-tor dengan lantunan musik dan gerakannya yang khas. Tari Tor-tor sendiri berasal dari suku batak yang awalnya ditampilkan pada upacara-upacara kesembuhan, kematian, dan perayaan lainnya, yang menjadikannya begitu sakral dalam budaya adat suku Batak. Kata Tor-tor sendiri berasal dari suara hentakan kaki para penari di atas papan rumah adat batak yang bergerak sesuai lantunan musik.
Kemeriahan acara dilanjutkan dengan Tari Zapin Melayu yang setiap gerakannya menyiratkan nuansa keislaman. Tari Zapin Melayu merupakan tarian hasil akulturasi budaya Arab dan Melayu. Tarian ini biasa ditampilkan pada acara pernikahan dan acara keagamaan seperti Maulid Nabi.
Tidak hanya tarian adat, acara ini juga dimeriahkan oleh nyanyian lagu berbahasa daerah. Salah satu lagu dinyanyikan berjudul “Uju Dingolukon” yang diciptakan oleh Deny Siahaan. Lagu ini menceritakan ketidakmampuan orang tua dan harapan agar anak-anaknya merawat mereka saat sudah lanjut usia. Lagu ini sering dinyanyikan pada acara-acara besar seperti pernikahan.
Di balik kemeriahan Festival Danau Toba yang menyimpan kisah perjalanan panjang HMMSU yang umurnya saat ini sudah mencapai 30 tahun. Dimana sebelum HMMSU dulunya adalah KMSU (Keluarga Mahasiswa Sumatra Utara). Namun, pada awal dekade 90-an dinamika politik yang berkembang di Indonesia memberikan dampak terhadap aktivitas organisasi tersebut dan terhenti.
Pada tahun 1994 lahirlah KPTS (Keluarga Pelajar Tapanuli dan Sekitarnya). Organisasi ini menjadi wadah sebagian mahasiswa Sumatra Utara untuk kembali berhimpun dan berkegiatan. Pada April 1994 lahir HMM (Himpunan Mahasiswa Medan).
Sejak saat itu dua organisasi tersebut berjalan berdampingan, masing-masing memiliki semangat yang sama membangun kebersamaan. Setelah lama berjalan berdampingan kedua organisasi ini pun membentuk FOSMASU (Forum Silaturahmi Mahasiswa Sumatra Utara) pada tahun 2010. Forum ini menjadi jembatan komunikasi sekaligus ruang kolaborasi antara mahasiswa Sumatra Utara di Mesir.
Setelah berbagai proses dialog, musyawarah, dan ikhtiar yang melibatkan banyak pihak, kedua organisasi besar mahasiswa Sumatra Utara di Mesir. HMM dan KPTS akhirnya bersepakat untuk berjalan dalam satu langkah, sebagai satu rumah bersama. Sebuah rumah yang menaungi seluruh mahasiswa dan masyarakat Sumatra Utara tanpa memandang asal daerah maupun latar belakang, rumah itu bernama HMMSU.
Festival Danau Toba ke-9 ini menjadi pengingat bahwa jarak dari kampung halaman bukan alasan untuk melupakan budaya di tanah rantau. Budaya tetap hidup melalui kebersamaan, seni, dan semangat generasi muda Sumatra Utara yang terus menjaganya dimanapun berada.
Reporter: Abdullah Ihsan Al Faruq
Editor: Dinda Nauli Harahap





