Selamat Ulang Tahun: Di Balik Angka Usia dan Bayang-Bayang Ekspektasi
Informatikamesir. net, Kairo — Lahir dari keluarga bos kayu di Surakarta, tidak ada yang pernah menyangka alur hidupnya akan berubah sedemikian cepat. Tepat pada 1 Oktober, Gibran Rakabuming Raka resmi bertambah usia. Namun di balik semua itu, bukan lagi tentang perayaan sederhana di tengah kesibukan pemerintahan. Di titik usianya sekarang, setiap langkah dan geraknya berada di bawah lampu sorot yang paling terang, dan kadang paling dingin di panggung politik nasional. Bagaimana seorang publik figur muda menguasai panggung kekuasaan yang penuh dengan pertanggungjawaban.
Gibran bisa mencalonkan diri sebagai wakil presiden sebab adanya hasil putusan MK (Mahkamah Konstitusi) Nomor 90/PUU-XXI/2023, terkait uji materi pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilu. Melalui putusan tersebut, MK mengubah syarat pencalonan presiden dan wakil presiden, sehingga seseorang yang berusia di bawah 40 tahun tetap bisa maju sebagai capres atau cawapres, asalkan sedang atau pernah menduduki jabatan negara yang dipilih melalui pemilihan umum.
Menjadi muda di puncak kepemimpinan bukan cuma berfungsi sebagai jembatan komunikasi dengan generasi Z atau Milenial, tapi di sisi lain juga bisa menjadi kaca pembesar di mana setiap kesalahan kecil bisa dikritik secara besar-besaran. Setiap gerakan, kata yang terucap, hingga keputusan yang diambil tidak pernah lepas dari publik.
Perjalanan Gibran pasti tidak semudah dan semulus itu. Keraguan dari sebagian masyarakat atas kapasitasnya dalam menangani isu-isu makro, kebijakan strategis nasional, atau krisis geopolitik global yang rumit karena dinilai minim pengalaman di tingkat pemerintahan pusat, yang bersanding erat dengan harapan besar yang menuntut tagihan pembuktian. Juga berbagai berita sosial di tengah masyarakat, seperti gugatan keabsahan ijazah di Mahkamah Konstitusi serta isu akun “Fufufafa,” menurunkan kepercayaan sebagian kelompok masyarakat yang menuntut transparansi dan akuntabilitas moral yang tinggi dari seorang pemimpin negara.
Namun, yang menarik adalah melihat caranya merespon keriuhan tersebut. Di saat publik menanti klarifikasi panjang atau pembelaan diri yang reaktif, ia justru sering mengungkapkan tanggapan yang santai dan hemat bicara seperti ungkapannya saat menanggapi jejak digital akun bernama Fufufafa: “Ya, tanya yang punya akun. Kok ke saya? atau Lha mbuh, takono sing nduwe akun (Tidak tahu, tanyakan saja pada pemilik akunnya).” Kalimat itu menunjukkan tanggapan yang sangat singkat, dan enggan berkomentar panjang. Atau ketika menanggapi kritik dari Mahfud Md soal program makan siang gratis: “Iya, terima kasih masukannya, Pak Mahfud Md,” kata Gibran singkat. Menunjukkan sebuah ketenangan di tengah tekanan opini publik yang deras.
Meski begitu, masyarakat pada akhirnya tidak lagi hanya melihat faktor usia atau latar belakangnya, melainkan menagih bukti nyata dari kepemimpinannya. Pertambahan usia di tengah kepemimpinan politik bukan sekedar pergantian angka dalam hidup, namun menjadikan tanggung jawab semakin menebal di pundak untuk menampung beban harapan yang semakin berat. Di titik ini, sejarah akan mencatat apakah masa muda ini akan dikenang sebagai gebrakan sejarah yang membawa pembaharuan atau sekadar masa singkat dari dinamika zaman yang berlalu begitu saja.
Penulis: Syahida Salsa Bila
Editor: Ferdian Hudatullah





