Hari Lahir ke-50 KMB: Membawa Nuansa Budaya Banten ke Tanah Kairo
Informatikamesir.net, Kairo – Alunan musik tradisional Banten menggema di Masrah Galal, Ramsis, pada Kamis (06/08). Di tengah hiruk-pikuk Kota Kairo, suasana sore itu seakan membawa para perantau kembali ke tanah kelahiran.
Perayaan hari lahir KMB (Keluarga Mahasiswa Banten) tahun ini tidak hanya menjadi momentum bertambahnya usia organisasi. Dengan mengusung tema “Ngajaga Ilmu, Ngarawat Budaya”, KMB menghadirkan ragam tradisi Banten sebagai bagian dari upaya mengenalkan dan merawat warisan budaya di tanah rantau.
Banten sendiri memiliki sejarah dan cerita yang beragam. Salah satunya mengaitkan nama Banten dengan istilah katiban inten, yang berarti “kejatuhan intan”. Istilah tersebut dimaknai sebagai gambaran datangnya cahaya Islam ke wilayah Banten.
Semangat itu kemudian diterjemahkan KMB melalui pertunjukan budaya. Salah satunya dengan mengangkat kehidupan masyarakat adat Baduy, masyarakat adat Sunda yang bermukim di wilayah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten.
Suku Baduy dikenal sebagai masyarakat yang masih memegang teguh adat dan tradisi leluhur. Kehadirannya dalam perayaan tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi menjadi pengingat bahwa identitas dan nilai-nilai leluhur tetap dapat dirawat meski berada jauh dari tanah asal.
KMB juga menghadirkan tradisi Seren Taun. Upacara yang dikenal dalam tradisi masyarakat Sunda ini diawali dengan pembacaan rajah (red: Doa) dalam bahasa Sunda. Suara doa yang menggema di ruangan membawa suasana khidmat di tengah perayaan tersebut.
Seren Taun merupakan perayaan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus momentum menyambut tahun berikutnya. Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nuansa suku Baduy kemudian diperkuat melalui penggambaran tradisi Seba Baduy. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan masyarakat Baduy kepada Pu’un atau kepala adat. Dalam prosesi tersebut, masyarakat Baduy membawa hasil bumi sebagai simbol hubungan dan penghormatan kepada pemerintah daerah.
Sebelum prosesi utama, berbagai kesenian turut ditampilkan. Salah satunya adalah Tari Mapag yang digunakan sebagai tarian penyambutan. Gerakan dan irama yang mengiringinya menjadi jembatan antara tradisi masa lalu dengan para penonton yang hidup jauh dari tanah Banten.
Di antara lantunan musik, tarian, dan doa, perayaan hari lahir KMB akhirnya tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan. Tradisi yang dibawa ke atas panggung menjadi cara bagi para mahasiswa Banten di Mesir untuk mengenang akar budaya mereka.
Jauh dari Banten, warisan itu tetap menemukan ruang untuk hidup. KMB menunjukkan bahwa merawat budaya tidak selalu harus dilakukan di tanah kelahiran. Di tanah rantau pun, tradisi dapat terus dikenalkan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui semangat “Ngajaga Ilmu, Ngarawat Budaya”, perayaan ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu dan menjaga identitas budaya dapat berjalan beriringan. Sebab, sejauh apa pun kaki melangkah, akar kebudayaan tetap menjadi bagian dari perjalanan.
Reporter: Haibah Az Zahro
Editor: Dinda Nauli Harahap





